Posted by: pelaminanminang on: February 10, 2010
Pepatah petitih merupakan bentuk budaya lisan yang mengekspresikan tatanan budaya Minangkabau. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, pepatah petitih mempunyai muatan moral yang kental. Kekuatan moral yang disampaikan dalam bentuk ekspresi lisan pepatah petitih ini merupakan ajaran hakiki perikehidupan masyarakat Minangkabau yang ditata oleh nenek moyang. Ekspresi lisan berupa pepatah petitih ini mempunyai kekuatan yang mendidik, membentuk sikap dan karakter yang juga mempunyai kekuatan kontrol sosial.
Sangatlah disayangkan bisa khasanah budaya lisan ini tenggelam dalam hiruk pikuk dunia yang sudah sangat dengan slogan-slogan. Untuk lebih menikmati keindahan pepatah petitih ini dapat dibaca di:
http://pelaminanminang.com/pepatah-petitih/pepatah-petitih-minangkabau-bagian-1.html
Posted by: pelaminanminang on: February 5, 2010
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang, mencatat dua kali gempa mengguncang wilayah Padang dan sekitarnya sepanjang Jumat (5/2) siang dengan kekuatan di atas 4 Skala Richter (SR).
Staf Analis BMKG Padang Panjang, Hamdi ketika dikonfirmasi menyebutkan, guncangan gempa pertama terjadi pada pukul 11:38 WIB dengan kekuatan 4,8 SR dengan kedalaman 39 kilometer dan berpusat di 53 barat daya Pariaman.
Lokasi gempa tektonik itu, berapa pada 0,87 Lintang Selatan (SL) – 00,70 Bujur Timur (BT) atau masih berdekatan dengan lokasi gempa pada 30 September 2009. Guncangannya disarasakan II-III MMI di Padang dan Pariaman, serta 1-2 di Padang Panjang dan sekitarnya.
Akibat guncangan gempa terjadi Jumat siang, menjadi alasan bagi sebagian PNS di kantor gubernur Sumbar, langsung pulang setelah berhamburan keluar gedung tempat bekerja mereka.
Gempa kedua terjadi sekitar pukul 13:32 WIB dengan kekuatan 4,5 SR dengan kedalaman 10 KM dan pusatnya pada 50 KM barang daya Padang. Lokasi gempa 4,5 SR pada 0,86 LS-99,09 BT dan dua kali guncangan gempa tak ada diperoleh laporan kerusakan dan korban jiwa.
Ia menyebutkan, sejak awal pekan sampai Jumat (5/2) sudah tercatat tiga kali gempa di pesisir pantai barat Sumbar, pada (4/2) sekitar pukul 16:07 WIB berkekuatan 4,4 SR dengan kedalaman 15 Km.
Pusat gempa pada 99 km barat daya Padang dengan lokasi 0,53 LS – 99,56 BT atau hampir berdekatan dengan usat gempa 7,9 SR pada 30 September 2009.
Kepala BMKG Padang Panjang, M. Taufik Gunawan mengatakan, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir tetapi selalu waspada karena wilayah Sumatra memang rawan gempa.
Sebab, gempa akan selalu ada tetapi kapan terjadi potensi maksimal tidak bisa diprediksi siapapun tetapi masyarakat harus berhati-hati.
“Kita tidak bisa menentukan kapan gempa yang potensi guncangannya maksimal terjadi. Tapi, guncangan gempa akan tetap ada,” katanya.
Namun, masyarakat jangan sampai terpengaruh dengan adanya isu-isu atau pernyataan gempa besar akan terjadi setelah munculnya gempa dalam skala sedang.
Menurut dia, masyarakat sudah mulai cerdas, dalam artian tahu akan upaya yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, karena sudah sering mengalami dan sosialisasi dari berbagai instansi
Posted by: pelaminanminang on: January 26, 2010
Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, membutuhkan 100 shelter yang berfungsi sebagai tempat pendaratan helikopter dan tempat penampungan warga, mengingat daerah tersebut rawan terhadap bencana tsunami. Total anggaran untuk membangun shelter tersebut mencapai Rp 1,5 triliun.
Dana itu diharapkan berasal dari pemerintah pusat dengan penyaluran alokasi dilakukan secara bertahap.
”Berdasarkan sejarah bencana alam, di Kota Padang pernah terjadi bencana tsunami dengan perulangan 200 tahun sekali. Keberadaan shelter yang bisa dibangun secara bertahap itu sekaligus diharapkan dapat menekan korban jiwa ketika bencana itu datang,” kata Wali Kota Padang Fauzi Bahar di Padang, Kamis (24/12).
Fauzi mengatakan, shelter tersebut akan dibangun di sekolah-sekolah dan di pasar-pasar. Keberadaan tempat penyelamatan itu ke depan akan dapat dimanfaatkan pelajar untuk menyelamatkan diri dari bencana tsunami.
”Shelter tersebut juga diharapkan bisa menyelamatkan warga yang berdiam dengan radius 1 km dari sekolah tersebut,” katanya. Sarana ini dibutuhkan cukup banyak karena ketika gempa 30 September 2009, warga berlarian mencari tempat perlindungan. Akibatnya, jalan-jalan dipadati masyarakat yang meninggalkan rumah mereka. Dengan demikian, shelter memang menjadi kebutuhan, khususnya pada saat daerah ini mengalami bencana.
Fauzi mengatakan, shelter akan dibangun di sekolah-sekolah yang baru atau pada sekolah lama yang diperbaiki. Sekolah tersebut berstruktur bertingkat di mana pada lantai I, II, dan III menjadi tempat belajar yang dilengkapi sarana pustaka dan laboratorium, sedangkan pada lantai empat merupakan shelter.
”Pembangunan shelter lebih diutamakan di sekolah-sekolah yang khususnya berada di dekat pantai. Kini tercatat 65 persen penduduk Kota Padang memiliki tempat tinggal dekat pantai,” katanya. Jika rencana pembangunan shelter terealisasi, pemerintah kota bisa memberikan tempat yang lebih baik bagi warga jika terjadi gempa.
Posted by: pelaminanminang on: January 1, 2010
Sejumlah tempat tidur busa disimpan di uma atau rumah adat Mentawai di Butui, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Keberadaan barang buatan pabrik itu amat mencolok dibandingkan dengan isi uma lainnya, seperti tengkorak binatang dan peralatan memasak yang semuanya dibuat warga Mentawai.
Tempat tidur itu untuk para turis. Mereka juga yang membelinya, juga barang lain seperti tas,” kata Aman Jazali, sikerei yang menghuni rumah adat tersebut. Sikerei adalah pemimpin upacara adat.
Menurut Jazali, hampir setiap minggu ada saja turis asing—biasanya dari Amerika dan Eropa—yang menginap 1-2 malam di uma. Ada dua daya tarik di situ: mengalami sendiri kehidupan suku Mentawai yang eksotis serta menikmati aliran Sungai Butui nan jernih serta dikelilingi pasir dan bebatuan putih di depan uma.
Eksotisme ala Butui tersebut masih ditambah indahnya perjalanan untuk mencapainya, yaitu naik pompong—perahu kayu dengan mesin tempel—selama sekitar 4 jam dari Muara Siberut, ibu kota Kecamatan Siberut Selatan, menuju Desa Madobag. Dari Madobag, berjalan kaki sekitar 1,5 jam melalui hutan untuk menuju uma.
Sementara Muara Siberut dapat ditempuh dengan naik kapal motor selama 10-12 jam dari Padang, Sumatera Barat.
Kehadiran wisatawan asing ini membuat Jazali memperoleh pemasukan yang lumayan karena setiap rombongan biasa memberinya uang sebelum pergi. Selain itu, juga membuatnya mampu sedikit berbahasa Indonesia, Inggris, dan berhitung.
”Saat menginap di sini, pemandu wisata dan turis asing itu sering mengajari saya dan juga keluarga,” kata Jazali yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sementara ketiga anaknya sekarang belajar di sekolah hutan yang dikelola seorang biarawan karena sekolah formal berada jauh dari umanya.
Kehadiran turis asing juga membuat sejumlah tempat di Mentawai ditumbuhi resor mewah, terutama di kawasan pantai yang memiliki ombak yang baik untuk selancar. Di resor-resor itu turis berduit menikmati eksotisme Mentawai yang terdiri dari 213 pulau sekaligus untuk berselancar.
Ombak di kepulauan Mentawai—oleh berbagai organisasi selancar—merupakan terbaik ketiga sejagat setelah Hawaii dan Tahiti.
Di Mentawai, selancar biasanya dilakukan di Pulau Nyangnyang, Karang Majat, Masilok, Botik, dan Mainuk. Puncak kunjungan wisatawan ada di bulan Juli dan Agustus. Saat itu ketinggian ombak di Mentawai mencapai 7 meter.
”Pulau yang cantik. Saya akan datang ke sini lagi,” kata Andrea, wisatawan dari Italia, tentang Mentawai yang dikunjunginya selama satu minggu.
Selain cantik, Mentawai juga berperan penting bagi konservasi. Sejak tahun 1981, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pulau Siberut di Mentawai sebagai salah satu cagar biosfer sehingga keberadaannya harus dilindungi dan dijauhkan dari eksploitasi.
Keeksotisan Siberut ditambah adanya empat primata endemik Mentawai, yaitu simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), dan beruk mentawai (Macaca pagensis).
Untuk meneliti kekayaan primata Mentawai ini, Pusat Primata Universitas Gottingen, Jerman, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor mendirikan Proyek Konservasi Siberut.
Terabaikan
Namun, berbagai keunggulan itu seolah belum mampu membuat negara untuk melihat Mentawai secara lebih serius. Fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan di daerah kaya itu umumnya masih terbengkalai. Aliran listrik dan jalan amat terbatas.
”Dinas Pariwisata belum pernah datang ke sini. Jika ada wisatawan yang datang, ya sudah, kami tangani sendiri,” kata Sekretaris Desa Madobag Matheu Sabaggalek.
Akibatnya lebih jauh, warga tidak hanya belum memiliki panduan yang jelas untuk mengelola daerahnya. Sejumlah aset di daerah itu juga mulai dikelola orang asing, seperti resor mewah di sejumlah lokasi selancar. ”Tanah resor itu masih milik warga Mentawai. Namun, karena tidak tahu dan tidak memiliki modal untuk mengelolanya, lalu disewakan ke orang asing,” kata Matheu.
Matheu juga menceritakan, sudah ada turis Kanada yang menawarkan diri untuk memberikan modal menata air terjun Kulu Kubuk yang ada di daerahnya. ”Turis itu sudah menawarkan Rp 25 juta sebagai modal, dan pengelolaannya tetap diserahkan ke kami. Namun, warga yang punya tanah masih belum memperbolehkan,” kata Matheu.
Negara perlu mengatur jangan sampai kekayaan alam ini jatuh ke tangan asing, antara lain membekali kemampuan masyarakat setempat mengelola kawasan mereka. Jika tidak, kekayaan alam Mentawai nan cantik ini sangat mungkin diserahkan pengelolaannya ke tangan asing. Bila demikian, apa arti makna kehadiran negara Indonesia di Mentawai?
Posted by: pelaminanminang on: December 25, 2009
Beberapa hari lalu, kubur Tan Malaka di Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, dibongkar.
Ibrahim Datuk Tan Malaka sejak tewas 60 tahun lalu hampir tidak ada yang peduli, termasuk negara. Orang yang berjasa menyelidiki dan menemukan makam Tan Malaka adalah Dr Harry A Poeze, sejarawan Belanda.
Sejak 37 tahun lalu, Poeze meneliti Tan Malaka (seperti sering dikatakan) mulai dari menulis skripsi. Dengan metodologi sejarah, Poeze menemukan makam Bapak Republik Indonesia itu meski disambut dingin pemerintah. Berkali-kali Poeze datang dan berusaha mengambil perhatian pemerintah dan publik. Terakhir, Poeze mengadakan diskusi tentang Tan Malaka di Megawati Institute (Kompas, 21/8).
Apa yang kita pikirkan?
Apa yang sebenarnya kita pikirkan tentang Tan Malaka?
Ada beberapa kemungkinan yang mengganjal hati kita dan pemerintah untuk memberi perhatian kepada (kuburan) Tan Malaka. Pertama, faktor psikologi sosial; kedua, kemauan politik dari pemerintah dan elite politik; ketiga, kesadaran bersejarah publik.
Faktor psikologi-sosial telah mengubur gagasan Tan Malaka, khususnya
sejak Soeharto berkuasa. Imunitas publik pada ideologi kerakyatan seolah melayang dan haram dalam wacana publik, berganti kepada rezim pragmatis otokrasi-feodal yang membawa negeri ini nyaris kehilangan identitas sebagai negara-bangsa. Pengikisan ideologi kiri kerakyatan Soekarno (desoekarnoisasi) tahun 1966 berimbas pada desjahririsasi, dehattaisasi, dan detanmalakaisasi, berganti menjadi militerislistik otoriter.
Gagasan pembangunan bangsa dari para pendiri bangsa pelan- pelan terkubur dalam memori bangsa. Usaha membangkitkan kembali gagasan itu menjadi sia- sia di tengah gemuruh arus kapitalisme global dan neoliberalisme. Bangsa ini telah telanjur menjadi sekrup mekanisme pasar dan budaya global, lalu menjadikan negeri ini tak berdaya dan jalan yang dianggap aman ialah tidak melawan arus itu. Ketika kesadaran tumbuh bahwa kapitalisme dan neoliberalisme bukan tujuan bangsa ini, maka tidak banyak orang sadar betapa pentingnya rujukan yang diberikan para pendiri bangsa 64 tahun lalu. Tan Malaka bahkan tegas menandaskan, ”Indonesia harus merdeka 100 persen karena itu kemerdekaan hakiki.”
Iklim sosial warisan Orde Baru yang tumbuh dan berkembang selama 32 tahun akibatnya masih terasakan hingga kini. Beberapa generasi dicekoki pemikiran atau gagasan otoritarian dan koruptif yang kemudian menjadi perilaku keseharian, jauh dari pemikiran ideal berbangsa.
Tak ada kemauan politik
Peringatan hari kemerdekaan beberapa waktu lalu seharusnya diarahkan kepada penyegaran dan introspeksi bangsa pada apa yang telah mereka (para pemimpin) laksanakan dan apa yang perlu dilaksanakan untuk mencapai cita-cita bangsa. Jika tidak, negeri ini bagai layang-layang putus, melayang tak tentu arah.
Tiadanya kemauan politik pemerintah terlihat dari persepsi mereka atas tokoh Tan Malaka. Bagaimanapun, para elite kuasa tak ingin terlibat sesuatu yang masih dianggap kontroversi. Ini akibat didikan Soeharto, yang berbau kiri belum diterima.
Dari sisi lain, bagi pejabat terkait, mereka ingin selamat dan menjadi bagian elite kuasa. Maka, nasib makam dan eksistensi kepahlawanan Tan Malaka sulit diwujudkan dalam waktu dekat.
Ketidakmenentuan dan tidak adanya komitmen negara ini sebenarnya hal yang amat janggal. Seharusnya pemerintah membantu dan bertanggung jawab atas ditemukannya makam Tan Malaka karena negara, melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963, telah menyatakan sebagai pahlawan nasional.
Sebagai anak bangsa, kita patut miris dan kehilangan muka, justru yang ngotot dan meneliti ketokohan dan kepahlawanan Tan Malaka adalah sejarawan dari negeri Belanda, Harry Poeze. Ia telah meneliti dan menulis buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945 dan terakhir dalam buku setebal 2.200 halaman, Verguisd en Vergeten Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945- 1949, yang dibahasa-indonesiakan menjadi enam jilid: Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, 1945-1949. Berbagai kegiatan diskusi di Bukittinggi dan beberapa tempat belum mampu mencairkan pikiran elite bangsa dan hanya hinggap di beberapa intelektual di kampus. Catatan terpenting bagi bangsa ini ialah, Poeze meneliti sejarah dan menemukan makam Tan Malaka setelah pemimpin bangsa ini tidak peduli. Sumbangsih kepakaran itu seharusnya memperoleh dukungan opini publik, cendekiawan, dan pemerintah.
Kita pun merasa yakin masyarakat sudah mulai bangkit kesadaran bersejarahnya terutama sejak jatuhnya Orba. Hanya saja mereka masih belum yakin apakah membenahi sejarah sebagai suatu yang amat penting dewasa ini. Maka, saya pun beranggapan para tokoh politik dan intelektual wajib membangkitkan semangat bersejarah ini karena sejarah adalah cermin masa lalu kita yang menentukan masa kini dan pedoman masa depan bangsa. Ketika kita mengacuhkan sejarah, maka kita pun tidak tahu akan ke mana bangsa ini berjalan.
ZULHASRIL NASIR Penulis Buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia, dan Singapura; FISIP UI
Posted by: pelaminanminang on: November 13, 2009
Kerangka yang diduga tulang belulang Tan Malaka, tokoh revolusioner yang dicap beraliran kiri, akan dibawa ke Jakarta guna tes DNA setelah diambil dari makam di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
“Kami akan langsung membawa kerangka tersebut ke Jakarta, dan akan diteliti langsung oleh tim ahli forensik dari FKUI,” kata ketua panitia pembongkaran makam Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin, di lokasi pembongkaran, Sabtu.
Ia mengungkapkan, tes yang dibantu oleh empat orang ahli forensik tersebut dimaksudkan untuk mengetahui dengan pasti identitas kerangka tersebut. Rencananya, kerangka itu akan di tes, dan akan dicocokkan dengan DNA di tubuhnya.
Menurut dia, waktu yang diperlukan untuk tes DNA tersebut sekitar tiga pekan. Selama itu, pihaknya akan menunggu, sambil mempersiapkan langkah selanjutnya, termasuk kepastian akan positif maupun negatif terhadap jasad Tan Malaka.
Ia sangat berterimakasih kepada pemerintah maupun warga yang antusias untuk menyaksikan pembongkaran makam tersebut.
“Kami tidak ada maksud politik apapun, terkait dengan pembongkaran tersebut. Hal itu kami lakukan, hanya untuk mengetahui tentang seseorang, yang kemungkinan Datuk Tan Malaka,” kata kemenakan Tan Malaka tersebut.
Sebelum kegiatan penggalian makam, dilakukan doa yang dibacakan seorang kiai setempat. Sekitar empat warga kemudian membongkar makam tersebut.
Di kedalaman sekitar dua meter, mereka menemukan berbagai tulang seperti kepala, serta serpihan tulang yang mirip dengan gigi. Selain itu, juga ditemukan benda yang mirip dengan kain kafan.
Usai benda-benda tersebut diambil dari lubang makam, selanjutnya barang-barang tersebut ditaruh di tempat khusus, untuk keperluan tes DNA kelak.
Dokter spesialis forensik dan DNA FKUI, dr Djaya Surya Atmadja, SpF, PhD, SH, DFM mengungkapkan, pihaknya akan melakukan dengan metode antropologi forensik, dengan mengambil semua sisa kerangka. Hal itu dilakukan, untuk mengetahui dengan pasti fisik kerangka tersebut.
“Kami menemukan beberapa kerangka, di antaranya tulang yang mirip dengan gigi, serta bagian kepala. Kami merencakan akan melakukan tes dengan metode antropologi forensik, untuk dapat mengetahui secara fisik,” katanya.
Sementara itu, Camat Semen, Agus Suntoro yang mewakili Muspida mengaku berharap banyak dengan penggalian yang dilakukan panitia nasional tersebut.
Menurut Agus, jika makam tersebut memang benar berisi jenazah Tan Malaka, pemerintah setempat akan membuat wisata sejarah.
Lokasi makam desa Selopanggung yang hanya seluas 500 meter tersebut berada di sekitar tiga kilometer lebih dari jalan raya desa. Di lokasi tersebut terdapat tiga makam kuno, di antaranya makam Tan Malaka, makam Mbah Selorejo, yang diduga adalah putra adipati Bojonegoro, serta makam Mbah Ketir, seorang putra adipati dari Tuban.
Belum ada yang mengetahui dengan pasti, kerangka di makam tersebut, khususnya Tan Malaka, mengingat saat ini masih akan dilakukan tes DNA.
Bahkan, pihaknya juga belum berani mengambil kesimpulan resmi dari hasil riset Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV di Leiden, Harry A Poeze, yang meneliti Tan Malaka sejak tahun 1971.
Dalam penelitian tersebut, Harry menyebut, Tan Malaka dibunuh oleh pasukan Batalyon Sikatan pimpinan Letnan Dua Soekotjo. Ia tewas pada tanggal 21 Februari 1949, dan tubuhnya dimakamkan di tempat pemakaman itu, tanpa disertai dengan nisan.
Posted by: pelaminanminang on: October 12, 2009
Upaya penyelamatan dan pengangkatan korban dari reruntuhan bangunan akibat gempa di Sumatera Barat menjadi persoalan berkepanjangan yang menjadi sorotan masyarakat. Publik menilai upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan yang dilakukan oleh pemerintah tidak memadai.
Kekuatan sebuah negara bisa dilihat, setidaknya, dari bagaimana pemerintahannya menangani bencana yang terjadi di wilayah demarkasi. Tampaknya, gempa bumi yang melanda Sumatera Barat dan Jambi menjadi batu ujian yang berat di pengujung akhir periode pemerintahan ini. Kali ini pun pemerintah seakan kembali gagap menghadapinya. Setelah lebih dari 10 hari, sejak gempa terjadi pada 30 September lalu, kemajuan terhadap evakuasi korban dan penyaluran bantuan terasa lambat.
Bukan hanya yang terjadi di wilayah yang terisolasi, seperti di Kabupaten Padang Pariaman, bahkan di Kota Padang pun evakuasi tak berjalan cepat. Korban yang tertimbun di balik reruntuhan gedung Gama dan Hotel Ambacang masih cukup banyak.
Faktor minimnya ketersediaan alat berat dan kesulitan mengangkat reruntuhan bisa saja menjadi salah satu alasan lamanya waktu evakuasi. Namun, bagi publik yang menyaksikan hari demi hari kemajuan yang dicapai, jawaban itu tetap tidak memuaskan. Bagi publik, kecepatan tindakan selalu menjadi ukuran apakah bangsa ini tanggap atau tidak terhadap bencana. Ketidakpastian banyak keluarga korban akan nasib anggota keluarganya yang hingga kini tak diketahui nasibnya makin menguatkan kesangsian publik akan kesanggupan bangsa ini mengelola bencana dengan cepat.
Kesangsian itu tecermin dalam jajak pendapat Kompas yang dilakukan pada 7 dan 8 Oktober 2009. Pemerintahkah yang lamban atau kepedulian masyarakat yang kurang? Oleh sebagian besar responden, baik masyarakat maupun pemerintah dianggap belum memiliki kewaspadaan dan kesiapan yang memadai. Bencana tsunami yang dahsyat di Aceh pada 24 Desember 2004 dan serangkaian gempa lain di sejumlah daerah belum dilihat sebagai pelajaran penting bagi masyarakat maupun pemerintah.
Hingga hari kesembilan sejak gempa berkekuatan 7,6 skala Richter melanda Sumbar, beberapa daerah masih terisolasi. Seperti yang sudah-sudah, bantuan pertolongan bergerak lambat. Padahal, dengan segala sumber daya dan otoritas yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan daerah, selayaknya korban gempa dapat ditangani secara cepat.
Responden pun menilai, upaya pemerintah dalam menangani korban bencana gempa kurang memadai. Penyaluran bantuan pun belum efektif dan lambat menyentuh korban, tak merata sesuai dengan luasnya skala wilayah bencana. Kegelisahan akan lambatnya upaya penyelamatan itu tampak nyaring disuarakan responden, terutama yang berada di Padang.
Meski otoritas setempat berdalih transportasi sulit dan penyaluran yang harus sesuai dengan aturan, masyarakat tidak mudah menerima alasan tersebut. Sikap itu tergambar dari pernyataan 54,2 persen responden yang menyatakan tak puas dengan upaya pemerintah dalam menangani korban gempa di Sumbar dan Jambi.
Parpol tak peduli
Masyarakat juga menilai, elite politik, baik di pemerintahan maupun partai politik, kurang peka dalam merespons bencana alam. Pascapemilu, tampaknya bencana alam tidak lagi menarik perhatian mereka. Jika sebelum Pemilu 2009 parpol menampakkan kepeduliannya dalam setiap bencana, kini hal itu hampir sepi dari sentuhan parpol. Tak heran jika 73,7 persen responden mengaku tidak puas dengan sikap elite politik terhadap penanganan bencana kali ini.
Kesigapan membantu korban bencana justru datang dari masyarakat yang tidak memiliki akses kekuasaan. Kesadaran menolong sesama seakan terbangun sekejap ketika melihat negeri Ranah Minang itu luluh lantak. Bencana kembali memperkuat tali ikatan sosial. Mereka menganggap masyarakat cepat tanggap mengumpulkan dan menyalurkan sumbangan untuk korban bencana alam.
Lemahnya antisipasi
Kehancuran akibat gempa seharusnya dapat dikurangi jika saja upaya atau antisipasi terhadap bencana gempa dilakukan. Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Selain itu juga bertujuan untuk mengurangi dan mencegah risiko kehilangan jiwa serta perlindungan terhadap harta benda.
Meskipun undang-undang (UU) sudah dibuat, tampak penerapannya tidak konsisten, seperti yang terjadi di Sumbar. Selain struktur bangunan yang harus memerhatikan standar bangunan rawan gempa, sistem peringatan dini atau early warning system juga harus dibangun di sana. Ironisnya, sarana dan fasilitas peringatan dini bahaya gempa di Padang justru tidak berfungsi saat terjadi gempa.
Walaupun beberapa bencana gempa kerap terjadi di Indonesia, rupanya pemerintah belum juga belajar banyak untuk lebih maksimal dalam menghadapi risiko gempa di negeri ini. Menurut responden, sosialisasi pemerintah tentang risiko gempa yang akan terjadi di wilayah gempa, termasuk di Sumbar, belumlah memadai sehingga masyarakat tidak cukup waspada akan risiko gempa itu. Sikap pemerintah juga dianggap kurang konsisten dalam melakukan pengawasan pendirian bangunan sesuai standar menghadapi bahaya gempa di wilayah Sumbar.
Kurang maksimalnya ataupun kurang memadainya upaya pemerintah dalam menyosialisasikan antisipasi bahaya gempa kepada masyarakat juga mengakibatkan hal yang sama pada masyarakat, yaitu pengabaian pada antisipasi bahaya gempa di Sumbar. Responden menilai masyarakat umum pun masih belum memerhatikan gejala alam sebagai sesuatu yang harus diwaspadai. Meskipun sebelumnya Sumbar telah dinyatakan sebagai wilayah rawan gempa setelah tsunami Aceh, pernyataan itu tampaknya baru menggugah kesadaran masyarakat ketika petaka sudah menyapa dan semuanya berserakan
Posted by: pelaminanminang on: October 5, 2009
Malam makin larut. Suasana makin muram karena penerangan tak ada. Namun, Fredi, pemilik warung kopi di Jalan HOS Cokroaminoto, Padang, Sumatera Barat, tak menyalakan genset untuk menyalakan lampu. Dia malah menghidupkan kulkas untuk membuat es kopi, yang dijual esok harinya. Kopi yang membangkitkan semangat.
Di Padang, di kota bencana mana pun, sekantong kopi dingin dapat menghidupkan suasana hati yang muram. ”Saya berjualan sekadar untuk bertahan hidup,” kata Fredi. Dia menjual kopi dingin seharga Rp 6.000 per kantong, beberapa ribu lebih mahal dari secangkir kopi.
Harga Rp 6.000 per kantong kopi adalah harga wajar bila mengingat teori ekonomi yang menerangkan soal ”kuasa kelangkaan”. Ketika barang tiada di satu lokasi pada waktu tertentu, harga pasti melambung. Ketika tiada pesaing, wajar harga kopi buatan Fredi naik.
Namun, ini bukan persoalan suasana hati atau harga kopi. Namun, ketika Fredi berjualan, ini adalah bentuk optimisme. Kota Padang hanya dapat bangkit bila warganya kembali beraktivitas seperti biasa. Kota Padang hanya dapat normal kembali bila perdagangan kembali bergulir.
”Lihat, toko HL di ujung jalan ini juga sudah kembali berdagang. Itu yang baik. Lebih baik daripada tak ada yang berjualan sama sekali. Sebab, ketika makanan dan minuman pun terbatas, dapat juga mengundang penjarahan,” kata Fredi. Beberapa toko di kampung China, jantung bisnis Kota Padang, juga berangsur mulai berjualan.
Perguliran ekonomi juga terlihat di Pasar Raya, pasar terbesar di Kota Padang. Di antara reruntuhan bangunan pasar, puluhan pedagang menggelar dagangan mereka beralaskan terpal atau kayu seadanya. Pedagang buah juga sudah terdengar menawarkan dagangan mereka.
Beberapa pedagang sayur-mayur dan lauk juga mulai menawarkan dagangan mereka. Bermodalkan timbangan dan stok barang dagangan yang bisa diselamatkan, mereka mulai berjualan. Rini (24), pedagang cabai dan bawang, adalah satu dari beberapa pedagang yang menggelar dagangan di depan gedung pasar yang runtuh. Kiosnya ikut menjadi korban karena rusak tertimpa bangunan yang runtuh.
Di antara reruntuhan, ada barang dagangan yang bisa dikeluarkan. ”Ini cabai dan bawang yang bisa diselamatkan. Daripada busuk, lebih baik saya jual saja,” katanya.
Seperti kopi Fredi, harga cabai merah juga melonjak. Cabai yang biasanya bisa dibawa pulang seharga Rp 20.000-Rp 25.000 per kilogram kini mencapai Rp 35.000 per kilogram. Itu pun harga pada Jumat pagi. Siang hari, cabai merah dipasarkan seharga Rp 40.000 per kilogram.
Lonjakan harga cabai—dan aneka jenis komoditas lain—terjadi lantaran barang yang masuk ke Padang masih terbatas. Jumat kemarin, Rini mengetahui ada satu mobil bak terbuka yang datang ke Pasar Raya membawa sayur-mayur. Jumlahnya sangat terbatas dan harus diperebutkan oleh banyak pedagang. Pedagang yang biasanya bisa mendapatkan 10 karung berisi 30 kilogram cabai merah kemarin hanya bisa membawa satu karung. Itu pun tidak semua. Rina termasuk pedagang yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan satu karung pun.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memastikan jalan menuju Padang sudah terbuka. Batu yang sempat mengganjal jalan di lintas Padang-Bukittinggi juga sudah diledakkan sehingga jalan bisa dilewati lagi.
”Kelangkaan pasokan sayur-mayur ke Padang bukan hanya karena jalan terputus, tetapi masih ada pemasok yang belum bisa jalan karena rumahnya rusak. Selain itu, ada juga keengganan pergi ke Padang pascagempa dan mengira belum ada perdagangan di Padang,” kata Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.
Perdagangan sayur-mayur sebenarnya dibutuhkan untuk meneruskan perguliran roda ekonomi di Padang, antara lain penjual makanan. Hendra, penjual nasi soto di Jalan S Parman, belum bisa menjamin penjualan hari esok.
”Hari ini (Jumat), saya masak dari persediaan bahan makanan yang masih tersimpan. Besok-besok belum bisa diprediksi apakah saya bisa terus berjualan atau tidak karena belum ada orang berjualan di pasar,” ucap Hendra.
Pedagang makanan merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan saat bencana ini karena sedikit penjual yang membuka kedai mereka. Tidak jarang, warga, relawan, atau wartawan yang datang ke Padang harus menahan lapar karena tidak menemukan warung yang masih menyediakan makanan. Nasib!
Di tengah reruntuhan bangunan pasar, sejumlah pedagang berusaha menyelamatkan barang mereka. Ahmad, sopir truk di Pasar Raya, sibuk memindahkan roti, makanan kemasan, dan minuman kemasan dari ruko yang ambruk ditindih dinding pasar yang roboh.
”Ruko ini rusak berat. Daripada barang dijarah, lebih baik barang kami pindahkan ke gudang distributor,” ucap Ahmad.
Barang-barang yang sudah dipindahkan dari toko yang rusak ada juga yang dijual lagi. Wiladi, pemilik toko mebel di Kampung Nias, menggelar air kemasan dan rokok yang bisa diselamatkan dari toko di Pasar Raya.
”Toko milik saudara saya roboh. Ada sedikit barang yang bisa diselamatkan. Daripada rusak, dia minta saya menjualkan,” ujarnya.
Air minum yang bisa diselamatkan ini terbukti membantu warga yang membutuhkan air. Apalagi, pasokan air bersih sangat terbatas di Padang setelah jaringan Perusahaan Daerah Air Minum rusak.
Inilah kreativitas dan inisiatif yang masih dimiliki warga Padang. Kedua modal sosial ini banyak membantu pemulihan pascagempa.
Posted by: pelaminanminang on: October 5, 2009
Sebanyak 51 unit lembaga dan organisasi internasional kini terdata sudah berada di Sumbar guna memberikan bantuan evakuasi dan logistik bagi korban gempa hebat berkekuatan 7,6 SR pada kedalaman 71 KM berlokasi 53 KM arah Barat Daya Pariaman Sumbar itu.
Informasi yang dihimpun ANTARA di Kota Padang, Sabtu, sejumlah relawan asing itu berdatangan di Sumbar dan membantu proses evakuasi serta membawa sejumlah bantuan logistik untuk masyarakat korban gempa itu.
Wakil Gubernur Sumbar, Marlis Rahman, menyebutkan lembaga internasional itu sudah datang dan melapor untuk langsung ke lokasi bencana mendata jumlah bantuan apa saja yang dibutuhkan masyarakat.
Lembaga asing tersebut kini berposko di Rumah Gubernur Sumbar dengan membuat tenda-tenda darurat di halamannya.
Sementara itu relawan asing yang jumlahnya hampir mencapai ratusan orang itu terlihat tersebar pada sejumlah lokasi bangunan yang runtuh guna mengevakuasi warga yang masih terhimpit bangunan runtuh itu.
Mereka terlihat menerobos reruntuhan bangunan itu dan mencari para korban dengan menggunakan anjing pelacak, yakni di tempat banyak korban tertimbun massal seperti Hotel Ambacang.
Data lembaga internasional itu antara lain berasal dari lembaga IOM, Hope Indonesia, JICA, AusAID Australia, UNFPA, HK Logistic, US Consul General Medan.
Selanjutnya, USAID, European Commision, Mahkota Medical Centre Hospital asal Malaysia, IHH Humanitarian AID Turkey, Church World Service (CWS) dan UNOCHO.
Relawan asing itu kebanyakan fokus mencari korban gempa pada dua lokasi terparah di Sumbar, yakni Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman.
Pada kedua lokasi tersebut masih terdapat ratusan korban yang tertimpa reruntuhan dari bangunan berlantai dua dan tiga yang belum dievakuasi
Posted by: pelaminanminang on: October 4, 2009
Kapal perang Australia, HMAS Kanimbla, yang dilengkapi fasilitas medis modern dan helikopter jenis “Sea King”, Sabtu, meninggalkan pangkalannya di Sydney menuju perairan Sumatra Barat (Sumbar) untuk mendukung operasi kemanusiaan Australia bagi para korban gempa.
HMAS Kanimbla yang pernah dilibatkan dalam misi kemanusiaan yang sama untuk membantu para korban bencana tsunami Aceh dan gempa Nias (2004-2005) itu berangkat sehari setelah Angkatan Bersenjata Australia (ADF) memberangkatkan masing-masing pesawat angkut Hercules C-130 dan C-17 “Globemaster” ke Sumbar.
Departemen Pertahanan Australia dalam pernyataan persnya, Sabtu, menyebutkan, kapal perang jenis pendarat amfibi (ALP) yang mengangkut tambahan personil, peralatan teknis dan infrastruktur, serta paket bantuan kemanusiaan ini diperkirakan tiba di wilayah bencana setelah sepuluh hari berlayar.
HMAS Kanimbla akan mendukung operasi pengobatan dan pelayanan kesehatan bagi para korban gempa bumi berkekuatan 7,6 pada Skala Richter yang memporakporandakan kota Padang dan beberapa wilayah lain di Sumbar hari Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB itu.
Kapal yang dinakhodai Tim Byles ini dilengkapi fasilitas pendukung kegiatan bedah dan pemulihan pasca-bedah dengan 40 tempat tidur pasien.
Kapten HMAS Kanimbla, Tim Byles, mengatakan, pihaknya siap menjalankan operasi kemanusiaannya di Sumbar dengan menyediakan pelayanan medis dan bedah kepada para korban gempa.
Sehari sebelumnya, Panglima ADF, Marsekal Angus Houston AC, sudah memberikan sinyal keterlibatan HMAS Kanimbla dalam “Operasi Bantuan Padang” yang melibatkan sepuluh anggota tim pendahulu teknis angkatan darat, tim penilai kesehatan angkatan udara, dan 36 anggota tim penyelamat sipil Australia itu.
“ADF sudah membentuk Satgas gabungan unsur militer dan sipil untuk memberikan dukungan terbaik bagi upaya pemerintah Australia membantu Indonesia,” katanya.
Pesawat Hercules C-130 AU Australia (RAAF) yang membawa personil Satgas serta berbagai peralatan pendukung yang diperlukan selama misi kemanusiaan di Padang sudah bertolak dari Darwin, negara bagian Northern Territory (NT) Jumat (2/10).
Sebuah pesawat super jumbo C-17 yang mengangkut tim medis ADF dan 36 anggota tim penyelamat dari Brisbane juga telah bertolak menuju wilayah bencana Jumat sore dari pangkalan udara RAAF Amberley.
Dalam operasi kemanusiaan di Padang ini, para personil gabungan ADF dan sipil Australia itu memberikan bantuan darurat kepada para korban bencana sesuai dengan arahan pemerintah RI, kata Angus Houston.
Selain mengerahkan pesawat dan kapal perangnya dalam misi kemanusiaan di Sumbar ini, Pemerintah Australia melalui kedutaan besarnya di Jakarta telah pun memberikan bantuan darurat berupa obat-obatan, selimut dan tenda, bagi para korban.
Kedubes Australia di Jakarta juga telah memberikan bantuan sebesar 250 ribu dolar Australia kepada LSM Muhammadiyah untuk mendukung tim kesehatan dan operasi kemanusiaan mereka.
Aksi tanggap darurat Australia bagi para korban gempa Sumbar ini tidak hanya ditunjukkan pemerintah federal tetapi juga pemerintah negara bagian. Di antara negara bagian yang bersimpati dan mendukung misi kemanusiaan Australia itu adalah Queensland.
Presiden Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA), Cecep Setiawan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Premier (Kepala Pemerintah) Negara Bagian Queensland Anna Bligh.
Gempa dahsyat yang melanda Sumbar itu tidak hanya menewaskan sedikitnya 1.100 orang dan melukai sedikitnya 2.177 orang lainnya tetapi juga merusak sedikitnya 2.650 bangunan. Pemerintah Australia sendiri masih mencari tahu keberadaan 40 orang warganya yang diyakini berada di daerah bencana saat gempa terjadi.
Untuk meringankan penderitaan para korban, berbagai elemen masyarakat Indonesia di Australia terus melakukan penggalangan dana bantuan kemanusiaan dalam tiga hari terakhir.
Di Sydney misalnya, komunitas Indonesia yang berhimpun dalam “Minang Saiyo” melakukan aksi pengumpulan dana bantuan bencana lewat rekening organisasi itu. Aksi dompet peduli bencana Sumatera juga digelar kalangan mahasiswa Indonesia
Beberapa hari setelah membantu korban gempa dan tsunami di Samoa, kini para pakar bencana Australia dikerahkan lagi ke wilayah yang terkena dampak gempa bumi di Sumatra Barat.
Selain itu, Australia pada Jumat (2/10) mengirim dua pesawat transpor RAAF ke Padang menyusul imbauan bantuan internasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Australia juga pada Sabtu mengirim sebuah kapal rumah sakit terapung yang membawa sebuah helikopter Sea King untuk membantu para korban luka.
Pemerintah Negara Bagian Queensland juga mengirim tim khusus mencakup paramedis dan para ahli bencana ke kawasan itu.
Gempa berkekuatan 7,6 pada skala Richter itu meruntuhkan banyak bangunan dan menimbulkan kebakaran hebat di ibukota Provinsi Sumatra Barat pada Rabu lalu.
Jumlah korban tewas mencapai 1.100 orang dan diperkirakan jumlah korban itu akan meningkat karena masih banyak korban yang tertimbun dalam reruntuhan bangunan.
Tragedi itu terjadi sekitar sebulan setelah gempa berkekuatan 7,0 pada skala Richter menghantam Jawa Barat yang menimbulkan tanah longsor di sejumlah tempat.
Perdana Menteri Australia Kevin Rudd mengatakan meskipun tidak ada warga Australia menjadi korban luka dalam bencana alam itu, namun ada 60 warga Australia masih belum diketahui nasibnya.
“Pihak Australia bekerja sepanjang waktu untuk mengkonfirmasi keamanan dan keselamatan pada warga Australia yang diduga berada di Sumatera tersebut,” kata Rudd kepada wartawan