Pelaminan Minang Buchyar

Tempat Wisata Batu Busuk Makin Diminati Meskipun Tetap Minim Fasilitas

Posted by: pelaminanminang on: March 27, 2009

Setiap akhir pekan, ratusan pengunjung mendatangi tempat wisata air Batu Busuk di Kelurahan Lambuang Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kendati diminati, fasilitas wisata di tempat ini sangat minim. Untuk itu, warga berharap ada perbaikan fasilitas.

Tempat wisata Batu Busuk dilalui oleh Sungai Kuranji. Sungai ini tidak terlampau dalam, tetapi mempunyai aliran air yang deras dan jernih. Aliran air inilah yang digunakan pengunjung tempat wisata untuk mandi atau berenang. Lokasi yang berbukit juga kerap dimanfaatkan pengunjung untuk kamping.

Sayangnya, fasilitas di tempat ini belum banyak dikembangkan untuk mendukung pariwisata. Salah satu fasilitas yang belum dikembangkan adalah dua jembatan gantung yang belum dibenahi maksimal sehingga banyak lubang di sana-sini. Selain itu, toilet serta angkutan umum juga belum tersedia di tempat ini.

Camat Pauh Amri, Kamis (26/3), mengakui keterbatasan pendukung pariwisata di Batu Busuk. Hal itu terjadi karena dana untuk mengembangkan pariwisata di Batu Busuk terbatas.

”Sejauh ini potensi wisata di Batu Busuk masih berkembang begitu saja dan belum dikelola secara serius. Oleh karena itu, fasilitas di tempat wisata ini yang memang minim harus ditambah,” ujar Amri.

Dia mengatakan, tempat wisata Batu Busuk merupakan salah satu tempat wisata andalan Kota Padang. Sayangnya, pariwisata di daerah ini belum banyak dilirik.

Mikrohidro

Selain memiliki potensi wisata, Sungai Kuranji juga berpotensi sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Dari studi sementara, aliran air dari Sungai Kuranji tersebut bisa menghasilkan listrik untuk 200 keluarga di sekitar daerah itu yang hingga sekarang belum teraliri listrik.

Dana

Amri mengatakan, untuk membangun mikrohidro di daerah tersebut dibutuhkan biaya sekitar Rp 500 juta.

Dana ini rencananya diperoleh dari pemerintah. Kini, pihak kecamatan telah mengajukan bantuan pembangunan pembangkit listrik mikrohidro di daerah tersebut.

”Mikrohidro ini bisa menjadi solusi untuk keluarga di Batu Busuk yang belum mendapatkan listrik dari jaringan PLN. Namun, ada kebutuhan untuk mendapatkan dana modal pembangunan mikrohidro,” kata Amri.

Tak masalah

Kendati ada keterbatasan aliran listrik, penyelenggaraan pemilihan umum mendatang di daerah ini diperkirakan tidak akan bermasalah karena ada sejumlah genset milik warga yang bisa dipinjam selama masa pemungutan suara serta penghitungan suara.

Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan pemilu mendatang bisa berjalan lancar tanpa ada gangguan, termasuk kemungkinan gangguan karena ketiadaan listrik

Kisah Sejati Siti Nurbaya Yang Patut Dikenang

Posted by: pelaminanminang on: March 18, 2009

SIAPA yang tak mengenal kisah cinta Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang berakhir tragis? Pada era 1990-an, kisah cinta keduanya menjadi tontonan favorit di Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Tua muda, lelaki perempuan, pejabat, hingga kalangan papa menikmati film ini sebagai bagian sejarah dan budaya dari Indonesia. Cinta dari kedua insan ini disanjung sedemikian rupa karena tetap kukuh meski tentangan dari orang tua maupun upaya Datuk Maringgih merebut hati Siti Nurbaya sangat besar.

Kisah inilah yang berputar ketika menghampiri makam Siti Nurbaya di dalam kawasan taman yang dinamai dengan nama tokoh utamanya. Makam yang sudah dilapisi semen ini menyimpan sejuta kenangan tentang cinta sejati.

Menurut keterangan masyarakat setempat, konon sekitar 10 meter di tebing di bawah makam Siti Nurbaya terletak makam Samsul Bahri. Namun, keberadaannya masih belum dipastikan setelah terjadi longsor pada awal 2008.

Makam Siti Nurbaya dapat dicapai setelah menempuh perjalanan menaiki anak tangga sepanjang 1 kilometer. Kondisi tangga baik karena sudah disemen. Namun, karena menanjak, maka perjalanan cukup menghabiskan banyak tenaga.

Oleh karena itu, membawa bekal makanan dan minuman penting untuk diperhatikan. Setelah berjalan sekitar setengah jam, pengunjung akan menemui pintu masuk menuju makam Siti Nurbaya. Makamnya terletak di balik bebatuan besar dengan diameter sekitar tiga meter yang membentuk celah kecil sebagai pintu masuk.

Di kawasan makam ini, pengunjung dilarang berfoto-foto atau mengabadikan bentuk makam. Konon katanya, aktivitas tersebut dapat berakibat buruk bagi si pengunjung.

Keluar dari makam Siti Nurbaya dan menaiki kembali anak tangga sepanjang 100 meter, pengunjung menemui sebuah taman yang sangat indah dengan pepohonan yang rindang dan bangku dari semen.

Taman ini merupakan puncak bukit yang disebut Gunung Padang dan dari sini, pengunjung dapat melihat dengan jelas pemandangan Kota Padang serta laut yang membentang di sisinya. Di sisi kiri, pengunjung dapat melihat kota Padang dan perbatasannya dengan laut sedangkan di sisi kanan, pemandangan laut yang membentang luas terlihat jelas.

Selain itu, terdapat pula beberapa pondok untuk bersantai atau menikmati bekal makan siang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Udara sejuk menambah kuat alasan untuk betah berlama-lama di tempat ini.

Taman Siti Nurbaya merupakan salah satu kawasan wisata yang terletak di sebelah barat Kota Padang. Hanya perlu waktu kurang dari setengah jam untuk mencapai kawasan ini. Sekitar 500 meter dari kawasan ini, pengunjung terlebih dahulu akan melintasi Jembatan Siti Nurbaya.

Jembatan yang melintang di atas Sungai Batang Arau ini berwarna merah hati dengan banyak lampu jalan menyerupai balon. Jembatan ini menghubungkan akses menuju kawasan Taman Siti Nurbaya dengan terusan Jalan Nipah.

Untuk masuk kawasan wisata ini, pengunjung diwajibkan membayar retribusi sebesar Rp 2.000 per orang. Di awal-awal perjalanan, terdapat pula meriam-meriam tua sebagai sisa peninggalan penjajahan di masa lampau.

Mitos Enteng Jodoh di Jembatan Akar Painan

Posted by: pelaminanminang on: March 18, 2009

MASYARAKAT di sekitar Jembatan Akar Painan meyakini barangsiapa yang penuh dengan keyakinan mandi di Sungai Batang Bayang dengan posisi tepat di bawah jembatan akan mudah mendapatkan jodoh. Benarkah?

“Banyak yang sudah membuktikan,” ujar Eri M, salah satu pengunjung yang datang ke jembatan yang berumur ratusan tahun ini.

Jembatan Akar Painan menjadi keunikan tersendiri bagi pesona alam Sumatera Barat. Jembatan sepanjang 10 meter dan lebar 1 meter ini terbuat dari pertautan akar dua pohon beringin yang berada di dua sisi tebing yang saling berhadapan.

Jembatan ini menghubungkan Dusun Pulut-Pulut dan Lubuk Silau di Koto Bayang di  Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) yang terpisah oleh Sungai Batang Bayang yang permukaannya terletak sekitar 5-6 meter dari dasar jembatan. Air sungai ini berasal dari air Danau Si Kembar yang berada di kawasan Kabupaten Solok. Di tepi sungai terdapat bebatuan besar yang cocok untuk bersantai.

Menurut cerita masyarakat setempat, awalnya kedua dusun itu hanya dihubungkan dengan jembatan gantung dari bambu. Konon tokoh adat di kawasan itu yang bernama Pakih Sokan menanam dua pohon beringin di kedua tebing yang saling berhadapan. Pakih Sokan bernazar akan menggelar ritual siram darah kambing jika akar-akar kedua pohon beringin itu menyambung.

Setelah waktu berselang, entah bagaimana, akar kedua pohon beringin itu pun saling bertaut dan Pakih Sokan pun sangat bersuka cita. Lantas, Pakih Sokan menepati janjinya dan menggelar ritual potong kambing serta menyiram pertautan akar itu dengan darah kambing setiap tahunnya.

“Supaya tak angker juga, kata beliau,” ujar Ibu Darwanis sambil menyeduh kopi dan teh yang dipesan oleh pengunjung lain.

Namun, hubungan antara sejarah jembatan ini dengan mitos enteng jodoh tak terlalu jelas. Ibu Darwanis menduga, mitos tersebut timbul karena ketakjuban masyarakat terhadap pertautan akar dua pohon beringin yang terletak berseberangan bahkan menjadi sangat kokoh hingga bisa dilalui.

Ibu Darwanis sudah puluhan tahun berjualan makanan dan minuman ringan di kawasan wisata ini, tepatnya di sisi Dusun Lubuk Silau. Warung Ibu Darwanis bahkan terletak di atas bebatuan besar di tepi Sungai Batang Bayang. Sambil bersantai di warung Ibu Darwanis, pengunjung juga dapat menikmati keceriaan anak-anak kampung setempat yang sedang mandi di sungai atau berlompatan ke dalam sungai dari sisi tebing.

Menurut Ibu Darwanis pula, kawasan ini ramai dengan pengunjung pada high season. Selain ramai dengan pengunjung, kios-kios di sisi jembatan juga penuh dengan para penjual yang menjajakan berbagai cendera mata.

Kawasan yang telah ditetapkan menjadi obyek wisata ini terletak 65-70 km ke arah selatan Kota Padang tau 15 km dari Painan, ibukota Kabupaten Pessel. Perjalanan akan melewati Teluk Bayur, pelabuhan legendaris di Sumatera Barat. Dari Simpang Bayang, perjalanan diteruskan sekitar 1 km lagi untuk mendapati lokasi jembatan akar. Selain menggunakan kendaraan pribadi, lokasi ini dapat ditempuh pula dengan menggunakan angkutan.

Proses dari dan menuju obyek wisata ini meninggalkan kesan yang tak mengecewakan pula. Di kiri dan kanan jalan terhampar sawah penduduk yang hijau dan terusan Sungai Batang Bayang dengan nyiur melambai di sepanjang tepinya.

BUKITTINGGI memang kota dengan segudang keindahan alam, budaya, dan sejarah. Lubang Jepang salah satunya. Lorong bawah tanah yang pada masa lampau digunakan sebagai pertahanan bawah tanah serdadu Jepang ini sekarang dijadikan sebagai obyek wisata andalan Sumatera Barat.

Setelah dipugar, lorong di bagian dasar Ngarai Sianok, sekitar 40 meter di bawah tanah atau dihitung dari permukaan tanah Taman Panorama, tempat obyek wisata ini berlokasi, dinyatakan layak.

Lubang Jepang didirikan dari tahun 1942-1945 oleh penduduk-penduduk sekitar yang dipekerjakan secara paksa oleh serdadu Jepang. Di dalam lorong bawah tanah sepanjang 1,47 km ini, terdapat 21 lorong kecil yang sebelumnya menjadi lorong-lorong untuk keperluan benteng pertahanan, seperti lorong penyimpanan amunisi, bilik serdadu militer Jepang, ruang rapat, ruang makan romusa, dapur, penjara, ruang sidang, ruang penyiksaan, tempat pengintaian, tempat penyergapan, dan pintu pelarian.

Ketika ditemukan, diameter pintu masuk lorong ini berukuran 20 cm. Hanya sebesar lingkar tubuh serdadu-derdadu Jepang yang memang agak ramping. Setidaknya itu yang sering terlihat pada gambar-gambar di dalam buku-buku sejarah. Setelah ditemukan dan dipugar, diameter lorong sekarang berukuran 3-4 meter dan sudah dilengkapi dengan lampu neon di berbagai sudut dan sisi. Namun, dindingnya tidak mengalami perubahan. Dinding batunya bersekat-sekat yang dulu bertujuan untuk meredam suara (echo) agar tidak terdengar keluar. Guratan-guratan pukulan paksa dengan benda agak tajam pun masih terekam di sejumlah dindingnya. Konon, oleh Jepang, para tawanan Indonesia dipaksa menembus bebatuan Ngarai Sianok hanya dengan cangkul dan benda tajam lainnya.

Ketika masuk ke obyek wisata dengan luas hampir 2 hektar ini, pengunjung akan menuruni tangga sejauh 64 meter untuk benar-benar sampai di kedalaman 40 meter. Ketika sampai, pengunjung akan terlebih dulu menemui lorong yang dulu digunakan sebagai ruang penyimpanan amunisi di sisi kanan. Nantinya, pengunjung akan keluar dari lorong ini setelah puas berkeliling-keliling untuk kembali ke pintu masuk yang sementara juga berfungsi sebagai pintu keluar. Setelah bilik militer, di sisi kanan pengunjung akan menemukan lorong dengan fungsi yang sama. Nantinya, lorong ini akan dijadikan mini teater untuk menayangkan film-film sejarah yang berkaitan dengan penjajahan Jepang di Indonesia dan di ranah Minang secara khusus.

Setelah itu, pengunjung akan menemui sekitar dua lorong lainnya dengan fungsi yang sama. Salah satu lorongnya rencana akan dialihfungsikan menjadi tempat penyimpanan maket Lubang Jepang. Makin masuk ke dalam, lorong bertambah dingin dan lembap. Menghirup udara pun tak seleluasa seperti biasanya. Namun, perjalanan melintasi lorong ini belum selesai.

Tiba di ujung lorong pertama, kami menemukan pertigaan dan kami meneruskan perjalanan ke lorong di sebelah kiri. Lorong ini pun bercabang. Ada ruang sidang yang dulu digunakan serdadu untuk menghakimi pejuang pribumi ataupun masyarakat setempat yang membangkang. Terdapat pula sebuah cabang lorong yang nantinya akan dijadikan Museum Saintifik.

Menurut pemandu, awalnya pemda berencana membuat kafe di lorong ini, tetapi setelah Presiden SBY berkunjung langsung ke tempat ini, beliau meminta pemda menggantinya dengan sesuatu yang lebih bersifat ilmiah. Melangkah sejauh 5 meter ke depan, di sisi kanan terdapat lorong di sisi kanan yang dulu digunakan sebagai barak militer. Lima meter ke depan lagi di atas lorong utama tertulis “Pintu Pelarian” dengan secercah cahaya dari lubang berpagar yang ada di belakangnya sejauh 10 meter.

Sebelum tiba di lubang tersebut, terdapat lorong di sebelah kanan yang menghubungkannya dengan lorong lain. Lorong tersebut berujung di lorong penjara yang dulu digunakan untuk menawan musuh-musuh Jepang. Di sisi kanannya terdapat sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat dapur, lubang pengintaian di bagian atas, dan sebuah lubang kecil tepat di bawahnya yang dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan mayat-mayat tahanan yang mati tersiksa di dalam penjara. Ujung lubang bermuara di Sungai Sianok.

Tempat ini tergolong mencekam karena terletak paling ujung dari lokasi Lubang Jepang. Jika melangkah lagi, pengunjung akan melewati lorong utama yang dulu dipergunakan sebagai lorong penyergapan. Di sepanjang lorong ini terdapat empat lorong yang mengarah keluar dan nantinya akan dipergunakan sebagai pintu keluar. Ketika tiba di ujung, pengunjung harus berbelok ke kanan, melalui lorong bekas barak militer. Di sisi kanan terdapat lorong-lorong yang di awal sudah dilewati. Perjalanan pun berakhir melintasi lorong bekas ruang amunisi dan lorong menanjak menuju pintu masuk.

Sepanjang lorong ada sejumlah CCTV yang rencananya akan diaktifkan. Selain itu, ada sekitar enam lubang yang disebut lubang angin. Satu akan difungsikan sebagai pintu masuk, sedangkan lima lainnya akan difungsikan sebagai pintu keluar. Rencananya pada tahun 2009 ini semua rencana dapat direalisasikan.

Pengalaman menyusuri Lubang Jepang meninggalkan kesan tersendiri. Perasaan takjub, miris, dan bangga bercampur aduk ketika menapaki setiap lorong dalam obyek wisata ini. Jika berkunjung ke Taman Panorama Ngarai Sianok, sempatkanlah menyusuri Lubang Jepang. Cukup menambah uang sebesar Rp 20.000 untuk pramuwisata atau pemandu yang akan memimpin perjalanan dan memberi penjelasan mengenai keseluruhan lorong bagi pengunjung.

Sisa Sia Benteng Fort De Kock Di Minangkabau

Posted by: pelaminanminang on: March 18, 2009

MASIH ingat Perang Paderi di mana tokoh adat Sumatera Barat, Tuanku Imam Bonjol memimpin perlawanan rakyat Minangkabau melawan serdadu Belanda yang mencoba menjajah tanah Minang? Pemerintah penjajah Hindia Belanda akhirnya merasa penting membangun sebuah benteng sebagai pertahanan pemerintah dalam menghadapi perlawanan rakyat.

Benteng Fort de Kock didirikan pada tahun 1825 oleh Kapten Bauer di atas Bukit Jirek Negeri, Bukit Tinggi. Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih menjadi saksi bisu angkuhnya penjajahan Belanda pada saat itu untuk berkuasa atas Minangkabau dan sisa-sisa keangkuhannya masih tersirat dalam bangunan setinggi 20 meter dengan warna cat putih dan hijau ini.

Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.

Benteng yang berada di kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukit Tinggi ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukit Tinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan.

Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya dalam kota Bukit Tinggi. Memang kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh. Bukit Tinggi sendiri dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat.

Dengan membayar retribusi sebesar Rp 5.000, melihat benteng, menyeberangi jembatan dengan pemandangan yang indah, mengamat-amati berbagai macam satwa dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati sekaligus. Khusus memasuki Rumah Adat Baanjuang, pengunjung harus membayar lagi tiket masuk sebesar Rp 1.000 per orang. Tempat ini sering dijadikan tempat piknik keluarga atau tujuan bagi rombongan siswa TK maupun SD untuk mengenal alam, sejarah dan budaya sekaligus.

Sejumlah pengunjung bahkan tampak bergembira hanya sekedar menikmati suasana rindang di sekitar Benteng Fort de Kock usai membaca sedikit penjelasan sejarah mengenai benteng tersebut. Ini tertulis di sebuah prasasti sekitar 10 meter di depan benteng yang ditandatangani oleh Walikota Bukit Tinggi H. Djufri ketika diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 15 Maret 2003. Berikut sedikit penjelasan tentang Benteng Fort de Kock:

Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek negeri Bukit Tinggi sebagai kubu pertahanan pemerintahan Hindia Belanda menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh TUANKU IMAM BONJOL.

Ketika itu Baron Hendrick Markus de Kock menjadi Komandan de Roepoen dan Wakil Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda. Dari sinilah nama lokasi ini menjadi Benteng Fort de Kock.

Udara sejuk Bukit Tinggi bisa saja membuat pengunjung yang datang menjadi lupa waktu. Apalagi jika memandangi keindahan Ngarai Sianok, Gunung Singgalang, Gunung Pasaman dan juga kota Bukit Tinggi dari atas Jembatan Limpapeh. Lalu terus berjalan melihat berbagai satwa dan mampi sebentar di Rumah Adat Baanjuang untuk menambah sedikit wawasan tentang budaya Minangkabau.

Di dalam bangunan yang sengaja dibangun pada tahun 1930 oleh seorang Belanda, Mr. Mandelar Controleur tersimpan berbagai macam benda-benda khas Minangkabau, seperti pakaian adat, tanduk kerbau dan peralatan menangkap ikan tradisional. Di tempat ini, pengunjung juga dapat berfoto di anjungan maupun dengan pakaian adat Minang hanya dengan membayar Rp 2.500-Rp 5.000.

Keangkuhan Benteng Fort de Kock juga terekam dalam berbagai cendera  mata yang dijajakan di kios-kios di luar kawasan wisata, seperti kaus, gantungan kunci dan tas khas Minangkabau. Sayang rasanya, jika pulang tanpa kenangan tersendiri tentang Benteng Fort de Kock.

Ngarai Sianok Yang Sangat Indah Dipandang Mata

Posted by: pelaminanminang on: March 18, 2009

Hidangan di jagat raya, kunyahlah dengan perasaan ingin tahu. Karena di baliknya terhampar perasaan yang tidak akan kau temui di meja belajar….. (The Journey, Gola Gong, 2008)

Sebuah pengantar yang disampaikan Gola Gong dalam bukunya The Journey yang diterbitkan tahun lalu terngiang ketika menatap keindahan Ngarai Sianok di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Bagaimana mungkin ya Allah? Bagaimana mungkin bisa seindah ini?

Ngarai Sianok adalah dua dinding bukit yang berdiri berhadapan hampir tegak lurus. Tingginya sekitar 100-120 meter dan panjang sekitar 15 km. Dindingnya membentuk semacam jurang dimana terdapat sawah yang membentang luas dan kelokan sungai di dasarnya. Di bagian atas ngarai ditumbuhi pepohonan dan rerumputan.

Ngarai ini membagi lokasi menjadi dua bagian, kawasan Bukit Tinggi dan Gunung Singgalang. Jika dinikmati dari Taman Panorama yang sengaja dibangun oleh pemerintah daerah di bagian kawasan Bukit Tinggi, keindahan Ngarai Sianok tampak mencengangkan. Cadas yang sangat tangguh, tidak kunjung berubah meski panas dan hujan silih berganti.

Memang di sinilah letak keistimewaan Ngarai Sianok. Apalagi pada saat matahari terbit dan hampir tenggelam. Berbagai wisatawan mancanegara bahkan mengaku tak merasa lengkap jika tidak mengunjungi Ngarai Sianok dalam jadwal perjalanan wisata mereka ke Indonesia. Selain dari Taman Panorama, keindahan Ngarai Sianok juga dapat dinikmati dengan turun langsung ke dasar jurangnya yang merupakan area pemukiman dan persawahan penduduk.

Jika ingin menikmati keindahan ngarai dari Taman Panorama, pengunjung cukup membayar retribusi sebesar Rp 3.000 per orang. Di Taman Panorama, pengunjung juga dapat menikmati lokasi wisata Lobang Jepang yang berlokasi di bawah tanah kawasan Ngarai Sianok. Hanya saja perlu membayar biaya pemandu lagi sekitar Rp 20.000.

Lokasi Taman Panorama Ngarai Sianok sendiri terletak di dalam kota Bukit Tinggi. Jaraknya kurang dari 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi, yaitu kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas. Pengunjung dapat menjangkaunya baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan berjalan kaki sambil menikmati sejuknya udara Bukit Tinggi. Di dalam kawasan Taman Panorama, disediakan pondok-pondok bagi pengunjung untuk bersantai dan menikmati pemandangan ngarai sambil sesekali melihat kelincahan monyet-monyet ngarai yang hidup bebas di kawasan taman. Jika memiliki makanan, berbagilah sedikit kepada mereka. Tapi namanya binatang, pasti mereka akan menunggu untuk diberi makanan lagi.

Di dalam kawasan taman juga terdapat sebuah panggung teater mini yang sesekali digunakan untuk pertunjukan budaya pada waktu-waktu tertentu. Jika berdiri di atas panggung batu tersebut, luas sapu mata menjadi lebih lebar dan keindahan tebing yang berderet makin membuat berdecak kagum.

Keindahan ini yang memang pantang dilewatkan oleh banyak fotografer dan pelukis lokal maupun mancanegara untuk diabadikan. Begitu pula yang dipahami oleh masyarakat sekitar ngarai. Mereka menjual berbagai cendera mata yang menolong para pengunjung untuk terus mengenang keindahan ngarai dan bersyukur atasnya jika sudah pulang ke daerah asalnya.

Di sebelah utara taman, terdapat kios-kios cendera mata yang menawarkan kaus, tas, rajutan, kerajinan tangan rotan hingga lukisan yang merekam kedahsyatan Ngarai Sianok. Kaus dan baju dengan motif khusus dijual dengan kisaran harga Rp 30.000-75.000. Sementara itu, lukisan di atas kanvas dengan berbagai ukuran dijual dengan harga Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Berjalan hingga ujung utara taman, terdapat sebuah menara setinggi 20 meter. Decak kagum di atas panggung teater mini bertambah derajatnya ketika menapaki tangga menara dan mendapati bahwa fakta alam yang sedang terhampar bukanlah buatan manusia.

Pemerintah Kota Padang pada tahun 2009 mengalokasikan dana Rp7,8 miliar untuk kredit mikro kelurahan untuk membantu permodalan usaha masyarakat, terutama yang dilakukan keluarga kurang mampu.

Kredit tersebut akan dialokasikan bagi 24 kelurahan dimana masing-masing kelurahan akan menerima Rp300 juta, Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah di Padang, Minggu.

Bantuan kredit itu, diberikan kepada kelompok usaha kecil tingkat rumah tangga miskin (RTM) yang ditetapkan lewat musyawarah kelurahan.

Kredit disalurkan untuk usaha perseorangan kredit senilai sekitar Rp500 ribu dan untuk usaha kelompok kredit bisa mencapai Rp10 juta.

Kegiatan usaha yang bisa mendapat kredit ini antaranya dagang, menjahit, tambak ikan dan usaha kecil kerakyatan lainnya. Dari evaluasi selama ini unit usaha yang mendapat bantuan ini dapat berkembang dan mampu mengembalikan angsuran kredit dengan baik.

Selain kredit mikro kelurahan, pada 2009 Pemkot Padang juga menyalurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri perkotaan (PNPM-MP) dengan anggaran mencapai Rp17,56 miliar.

Kegiatan PNPM-MP itu akan dilaksanakan pada 104 kelurahan yang ada di Kota Padang, kata Mahyeldi.

Ia menyebutkan, untuk melaksanakan program nasional ini setiap pemerintah tingkat kelurahan mendapat alokasi bantuan langsung masyarakat (BLM).

BLM untuk setiap kelurahan itu berkisar Rp100 juta hingga Rp350 juta tergantung besar kecilnya kegiatan PNMP-NP yang akan dilaksanakan di daerah masing-masing.

Ia menjelaskan, dana bantuan itu diutamakan untuk membiayai empat kegiatan di lingkungan kelurahan yakni, pengembangan lingkungan usaha dengan fokus membantu permodalan usaha kecil dan menengah (UKM).

Kemudian peningkatan sarana prasarana, seperti jalan kelurahan untuk mendukung berbagai kegiatan usaha masyarakat di masing-masing daerah.

Selanjutnya, dalam bantuan sosial bagi keluaraga kurang mampu dalam bentuk dana pendidikan untuk SD dan SMP.

Berikutnya, membantu modal bagi kegiatan usaha yang dilakukan oleh keluarga kurang mampu di tingkat kelurahan

Lima negara Asia mengirim utusannya untuk melakukan studi banding kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat kota Padang, Sumatera Barat terhadap bencana alam.

Lima negara itu yakni, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka dan Maladewa, kata Direktur Eksekutif, Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) Indonesia, Patra Rina Dewi di Padang, Sabtu.

Setiap negara akan mengirimkan dua utusannya dan selain melakukan kunjungan ke lokasi kesiagaan bencana Padang dan wawancara dengan pihak terkait pada 17 hingga 19 Maret 2009.

Selain itu mereka akan mengikuti seminar regional yang digelar Kogami Indonesia bekerja sama dengan Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO).

Seminar ini juga melibatkan, Universitas Andalas Padang, LIPI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB) Sumbar.

Ia menjelaskan, seminar ini juga terkait dengan ditetapkannya Kota Padang oleh pemerintah sebagai daerah percontohan siaga bencana di Indonesia.

Dalam seminar nanti, dibahas gambaran perjalanan Kota Padang dalam mempersiapkan sistem dan kapasitas dalam penanggulangan bencana, khususnya gempa dan tsunami, tambahnya.

Apa yang telah dan akan dilakukan di Kota Padang akan menjadi bahan perbandingan dan masukan bagi pihak wakil regional, nasional dan kabupaten/kota di daerah pesisir pantai dalam mengurangi risiko bencana, khususnya tsunami, kata Patra.

Emil Salim Dapat Sangsako Adat Kerajaan Pagaruyung

Posted by: pelaminanminang on: January 10, 2009

Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau, Sumatera Barat, H. Sutan Muhammad Taufiq Thaib Tuanku Mangkuto Alam, akan menyerahkan gelar kehormatan Sangsako Adat bagi 10 tokoh nasional, termasuk Emil Salim, yang dinilai berjasa terhadap adat dan budaya Minangkabau.

Saluaksebagai simbol dari gelar sangsako akan dikenakan ke kepala 10 tokoh nasional itu dalam upacara adat di Istano Si Linduang Bulan, Tanah Datar,” kata Sutan Muhammad Taufiq Thaib di Batusangkar.

Saluak adalah penutup kepala secara adat Minangkabau, dan akan diserahkan kepada 10 tokoh tersebut pada Sabtu.

Kesepuluh tokoh tersebut adalah Emil Salim yang mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Des Alwi (pengusaha dan sejarahwan), Taufik Abdullah (sejarahwan), Taufik Ismail (sastrawan), Hasyim Djalal (diplomat), Syafrudin Bahar (sosiolog), Harun Zain, Januar Muin (mantan General Manager PLN) dan Fadlin Zon (peneliti dan politisi).

Kecuali Des Alwi, sembilan tokoh nasional itu merupakan putra asal Minangkabau uang telah berkiprah di tingkat dan internasional.

Dalam kiprahnya itu, kesepuluh  tokoh itu diniali banyak memberikan kontribusi bagi pengembangan dan pengenalan adat budaya Minangkabau dan sejarah Kerajaan Pagaruyung baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam upacara adat itu, Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Kerajaan Pagaruyung, H Sutan Muhammad Taufiq Thaib Tuanku Mangkuto Alam akan memasangkan “Saluak” diatas kepala 10 tokoh nasional tersebut.

Acara penganugerahan gelar kehormatan (sangsako)  atau gelar adat Minangkabau dilakukan di Istana Bassa Pagaruyuang, namun karena Istana itu sedang dalam pembangunan setelah terbakar Februari 2007, maka upacara dilangsungkan di Istana Si Linduang Bulan, katanya menambahkan.

Sejumlah tokoh nasional, juga telah menerima gelar sangsako dari Pagaruyuang, termasuk Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono,  dan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI 2001-2004), sedangkan Taufik Kiemas mendapat gelar Datuak Sako Minangkabau

Wisata Kota Tua Yang Terjaga – Sawahlunto

Posted by: pelaminanminang on: January 5, 2009

Kalau ada kota tua yang masih terpelihara, Kota Sawahlunto adalah salah satunya. Memasuki pusat Kota Sawahlunto—sekitar 90 kilometer dari Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat—pemandangan kota tua yang masih terpelihara langsung menyeruak pandangan mata. Sejumlah bangunan tua peninggalan Belanda masih menjadi tempat tinggal penduduk, perkantoran, atau aneka kios.

Nama Sawahlunto mulai muncuat ke dunia internasional setelah Belanda menemukan potensi batu bara di perut Sawahlunto pada abad ke-19. Batu bara mulai berkilat di Sawahlunto setelah ahli geologi Belanda, Willem Hendrik de Greve, melihat ada potensi batu bara di perut Sungai Ombilin, salah satu sungai di Sawahlunto.

Temuan itu dilaporkan ke Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1868-1872. Penelitian kedua gagal dilakukan lantaran Greve terseret arus Sungai Ombilin dan meninggal pada 22 Oktober 1872.

Penambangan batu bara mulai dikerjakan Belanda tahun 1880 di lapangan Sungai Durian. Tahun 1892, produksi perdana batu bara Sawahlunto mencapai 48.000 ton. Pengangkutan batu bara ketika itu menggunakan kereta api.

Hingga kini penambangan batu bara masih tetap ada di Sawahlunto. Selain penambangan oleh PT Bukit Asam, penambangan batu bara dalam skala rakyat ditemui di luar pusat kota.

Kejayaan tambang batu bara zaman Belanda masih tersisa dalam sejumlah bangunan, seperti silo. Silo berbentuk tiga silinder besar yang berfungsi sebagai penimbun batu bara yang telah dibersihkan dan siap diangkut ke Pelabuhan Teluk Bayur. Silo masih berdiri kokoh di tengah kota ini kendati tidak berfungsi apa-apa selain sebagai monumen yang mengingatkan kejayaan batu bara di Sawahlunto ketika itu.

”Sirene di silo masih berbunyi setiap pukul 07.00, 13.00, dan 16.00,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto Tun Huseno. Bunyi-bunyi itulah yang menandakan jam kerja orang rantai atau narapidana yang dijadikan kuli pengambil batu bara itu.

Lubang Mbah Soero

Ekspansi tambang baru terus dilakukan Belanda pada tahun 1892. Lubang tambang baru dibuka di lorong bawah tanah pusat kota Sawahlunto. Lokasi tambang dinamakan Lubang Tambang Soegar. Gara-gara Mbah Soero menjadi mandor, lubang yang melintasi bawah tanah pusat Kota Sawahlunto itu juga dinamakan Lubang Tambang Batu Bara Mbah Soero.

Sayangnya, kondisi lubang tambang ini tidak terlampau baik. Kedekatan lubang tambang dengan Sungai Lunto menjadikan rembesan air mengalir begitu deras ke dalam lubang. Sebelum tahun 1930, Belanda menutup lubang ini.

Ketika Pemerintah Kota Sawahlunto hendak membuka kembali lubang tambang ini untuk kepentingan pariwisata, mereka mendapati lubang penuh dengan air. ”Butuh waktu 22 hari untuk menyedot air keluar dari tambang,” tutur Willizon (51), juru kunci lubang tambang Mbah Soero.

Tetapi, tunggu dulu. Ada satu versi lagi yang berkembang di masyarakat seputar penutupan Lubang Tambang Batu Bara Mbah Soero. Sebagian masyarakat meyakini penutupan lubang itu terkait dengan keinginan Belanda untuk menyimpan deposit batu bara untuk kelak kemudian hari.

Kepala Bidang Pertambangan dan Energi Kota Sawahlunto Medi Iswandi memperkirakan deposit batu bara di Lubang Mbah Soero itu masih tersisa sekitar 40 juta ton. ”Kita bisa melihat batu bara berwarna hitam di sisi-sisi terowongan. Batu bara ini yang ditambang saat proses penambangan masih berlangsung,” kata Medi.

Lubang tambang yang kembali dibuka Pemkot Sawahlunto pada pertengahan tahun 2008 itu memang masih menyimpan banyak kandungan batu bara. Sebagian dinding serta atap lubang tambang dipenuhi dengan batu bara. ”Batu bara yang ada mempunyai kualitas baik, yakni 6.000- 7.000 kalori,” ujar Willizon lagi.

Kilatan cahaya pantulan dari senter kepala para pengunjung menjadikan batu bara ini tampak gemerlapan. Sebagian tembok menampilkan susunan batu bata yang merupakan peninggalan zaman Belanda.

Walaupun dipenuhi batu bara, Medi menjamin gas berbahaya, seperti metan, monooksida, atau belerang, tidak ditemukan di terowongan itu sehingga aman bagi pengunjung. Pemantauan gas-gas berbahaya dilakukan pemkot hampir setiap hari. Sebuah pipa besar berisi oksigen dimasukkan ke dalam terowongan agar pengunjung tidak sesak napas ketika melintas di terowongan.

Ramainya penambangan pada masa kekuasaan Belanda juga membutuhkan sebuah dapur umum yang bisa memproduksi makanan setiap waktu untuk ribuan orang. Tempat yang sekarang menjadi Museum Goedang Ransoem adalah dapur umum pada waktu itu. Beberapa replika peralatan masak menjadi pengisi museum ini. Terbayanglah betapa banyak kuli tambang yang dipekerjakan dan harus diberi makan setiap hari.

Sebuah tungku penghasil uap air bertekanan tinggi masih berdiri kokoh di samping bangunan dapur. Uap dari tungku ini dialirkan lewat pipa yang berhubungan dengan lantai dasar dapur, lalu berubah bentuk menjadi energi panas untuk mematangkan masakan.

Di dapur inilah, Belanda mempekerjakan para perempuan dan anak untuk memasak selagi suami atau ayah mereka bekerja. Sementara anak- anak Belanda bersama orangtua mereka asyik menyaksikan pertunjukan di gedung societet—kini Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto—anak buruh tambang harus bersimbah peluh, mengupas bawang dan aneka bumbu lain di ruangan yang panas oleh uap untuk memasak makanan

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos