Pelaminan Minang Buchyar

Berburu Miniatur Rumah Gadang Khas Minangkabau di Kota Padang Sumatera Barat

Posted on: October 3, 2008

Kini ukiran kayu itu bervariasi, dari kotak permen sampai telepon seluler.

Ingin membeli suvenir khas Minang tapi tidak sempat berkunjung ke Bukittinggi, Sumatera Barat? Jangan khawatir. Walaupun tidak banyak, di Padang masih ada beberapa toko yang menjual kerajinan Minang yang cukup lengkap. Salah satunya adalah toko suvenir Silungkang Pandaisikek, yang terletak di Jalan Sudirman Nomor 5.

Letaknya tidak begitu jauh dari kantor Gubernur Sumatera Barat. Karena letaknya di pusat kota, tentu mudah mencapainya. Tinggal pilih, mau naik angkutan kota, bus kota, atau taksi. Untuk taksi, Anda harus menawar lebih dulu karena taksi di Padang tanpa argo. Bila berangkat dari Bandar Udara Internasional Minangkabau, tempat ini juga dilalui bus bandara.

Saat memasuki toko, berbagai kerajinan khas Sumatera Barat terlihat cukup lengkap terpajang. Mulai barang-barang yang besar–seperti songket Pandaisikek, selendang sulaman Koto Gadang, dan mukena–hingga suvenir yang imut-imut.

Zulkifli, sang pemilik toko, mampu memodifikasi berbagai karya seni Minangkabau yang besar-besar, seperti ukiran rumah adat dan kain songket menjadi suvenir.

Contohnya ukiran kayu yang biasanya digunakan untuk rumah gadang, rumah adat Minang yang beratap bagonjong seperti tanduk kerbau. Kini ukiran kayu itu kian bervariasi, seperti kotak permen, kotak tempat menyimpan rempah, tempat tisu, kotak hadiah, bahkan telepon seluler.

Kotak-kotak suvenir yang berukir itu tetap dibuat menggunakan kayu surian, seperti ukiran untuk rumah gadang, serta motif yang sama dengan rumah gadang, hanya bentuk ukirannya tentu lebih mini. Motifnya seperti itiak pulang patang, kaluak paku, tirai daun bodi ati-ati, aka cino sagagang, hingga ruso balari dalam samak.

Wangi kayu surian masih tercium begitu kotak-kotak berukir itu dibuka. Cocok untuk penghias meja pada ruang Anda yang ingin menampilkan nuansa etnik dalam interior rumah. Harganya mulai Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu. Ada pula ukiran yang “lebih berat”, yaitu ukiran untuk pajangan di dinding.

Anda tinggal pilih, mau yang menampilkan warna kayu surian asli berwarna merah marun–dengan aroma kayu yang masih tercium–atau ukiran seperti pada rumah gadang yang menggunakan warna-warna berani, yang dikenal sebagai warna Minang, misalnya sirah (merah tua dan cokelat), kuniang (kuning kunyit), hitam, dan hijau tua. Warna-warna yang keras ini menandakan masyarakat Minangkabau suka akan kesemarakan dan kegemerlapan.

Tinggal pilih sesuai dengan selera. Harganya, untuk ukiran yang tidak dicat Rp 350 ribu per meter, sedangkan yang dicat Rp 400 ribu per meter. Ukiran itu dalam kondisi sudah siap terpajang di dinding.

Untuk pajangan dinding lainnya, ada sulaman benang emas dan benang perak yang bergambar rumah gadang atau jam gadang, maskot Kota Bukittinggi, serta sulaman bermotif bunga.

Bila Anda pernah menyaksikan tabuik (patung buraq) yang diarak keliling kota saat perayaan Azzura dan setiap 19 Muharam di Pariaman, di toko ini suvenir miniatur tabuik itu pun dijual. Diletakkan dalam kotak kaca berukuran mini. Juga ada miniatur rumah gadang dalam kaca.

Sentuhan dari kain songket Pandai Sikek yang terkenal itu juga terdapat dalam suvenir lainnya, seperti dompet, sandal, boneka pengantin minang untuk hiasan kulkas, bahkan tempat lipstick. Begitu pula sulaman benang emas yang menghias dompet serta tas tangan.

Dompet bersulam itu harganya Rp 20-50 ribu. Untuk alas meja panjang atau runner, ada selendang bersulam pengantin Padang yang kini dimodifikasi menjadi runner, bisa untuk aksen alas kasur, alas meja, dan alas piano. Harganya Rp 120 ribu.

Sandal kulit Bukittinggi juga bisa Anda temukan di tempat ini. Nyaman dipakai. Harganya mulai Rp 30 ribu. Begitu juga aneka gantungan kunci dari kulit dan dari songket berupa miniatur rumah gadang, jam gadang, dan boneka minang, harganya berkisar Rp 10-35 ribu per buah.

Yang cukup unik di tempat ini adalah kaus-kaus yang bertulisan bahasa minang. Tidak seperti kaus Dagadu dari Yogyakarta yang banyak menggunakan kalimat pelesetan, kaus yang dijual di sini kata-katanya diambil dari filosofi pepatah Minang. Misalnya, Sasampik-sampik balai anak rajo lalu juo, Sutan Panenan makan, lalok, ulang baliak serta pepatah Minang lainnya. Harganya Rp 25-40 ribu.

Harga suvenir yang ditawarkan memang relatif murah, sesuai dengan konsep yang dibuat Zulkifli–sang pemilik toko yang terinspirasi dari film Pretty Women dan Betty Lafeya.

“Di film Pretty Women itu, saya mendapat hikmah: jangan membedakan pembeli, semua harus dilayani; sedangkan dari Betty Lafea, saya dapat pelajaran bagaimana kita menjual produk yang bagus namun terjangkau harganya untuk banyak orang,” kata Zulkifli.

Selain toko Silungkan Pandaisikek milik Zulkifli, di Jalan Imam Bonjol terdapat toko yang menjual suvenir dan tenunan khas Minang, namanya toko Silungkang. Namun, jenis barang dan jumlahnya tidak sebanyak toko Silungkang Pandaisikek.

Di Hotel Bumi Minang juga ada galeri milik Yuniarti, perajin songket dari Pandaisikek. Ia juga menjual songket, kotak kayu berukir, dompet, serta pernik-pernik khas Pandaisikek, tapi jumlahnya terbatas.

Anggita Kesuma, warga asal Sanggau, Kalimantan Barat, sore itu tampak asyik memilih aneka suvenir berupa dompet bersilam, kaus, gantungan kunci, dan magnet hiasan untuk kulkas. “Mau saya bawa ke Pontianak, buat ibu, dua kakak perempuan, dan pacar,” kata Anggi, yang sedang berlibur di Padang.

Di sini, kata dia, kerajinan memiliki sentuhan etnik yang amat Minang. “Selain itu, harganya tidak terlalu mahal, saya juga memborong kaus bertulisan kata-kata Minang biar nggak lupa bahasa Padang,” kata Anggi.Febrianti

Usaha Suvenir dengan 80 Perajin

Karena bukan barang pabrikan, suvenir yang dijual di Toko Silungkang Pandaisikek dibuat oleh ratusan perajin. Untuk memasok suvenir di tokonya, Zulkifli–pemilik Toko Silungkang Pandaisikek–punya workshop di Sungai Barameh, Bungus, Padang.

Workshop yang dibuat di pinggir pantai itu menyerupai rumah gadang. “Mereka bukan perajin, melainkan anak muda yang saya latih menjadi perajin,” kata Zulkifli.

Untuk itulah dia membuatkan asrama, menanggung makan, dan menggaji. “Kalau sudah mahir, mereka bisa keluar membuka usaha sendiri, dan saya akan melatih yang baru. Kerajinan tangan ini memang berpeluang membuka lapangan kerja,” ujar Zulkifli.

Di workshop itu dibuat berbagai macam barang, mulai songket, sulaman, gambar dinding, lukisan minang, kerajinan perak, dompet, sablon kaus, hingga ukiran.

“Tapi karena saat ini permintaan terhadap suvenir kami meningkat, di workshop itu perajin kami hanya membuat masternya dan master itu yang saya kirim ke 100 perajin mitra kami yang ada di Koto Gadang, Bukittinggi, dan Pandaisikek,” kata Zulkifli.

Ia mengatakan pangsa pasar suvenirnya kebanyakan orang lokal, bukan turis asing. Setiap hari tokonya dikunjungi 10-100 orang pembeli dan omzetnya sudah mencapai Rp 1 miliar per bulan.

Di tokonya yang berlantai dua dan cukup luas di Jalan Sudirman itu, Zulkifli berencana bakal menambahnya dengan workshop tempat menenun dan mengukir agar pembeli bisa melihat langsung proses pembuatannya.

“Turis asing bukan target pasar saya karena daya beli mereka juga rendah, yang menjadi target adalah masyarakat umum,” kata lulusan antropologi Universitas Andalas itu.

1 Response to "Berburu Miniatur Rumah Gadang Khas Minangkabau di Kota Padang Sumatera Barat"

bulek lahbuliah digolong kan.
picak lah buliah dilayang kan.
kato yang samupakaik.
langkah nan sarayun.
mamotong dinan bauku.
mamaek dinan bagarih.
mangecek nan patuik.
saiyo sakato.
alua jo patui.
anak minang jan sampai dikecek urang :
taipik diateh,
takutuang dilua,

elok kito :
kabukik samo mandaki kalurah samo manurun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: