Pelaminan Minang Buchyar

Archive for the ‘Pelaminan Minang’ Category

Pameran pernikahan memberikan pelayanan satu pintu untuk calon pengantin yang sedang menyiapkan pesta perayaan momen istimewanya. Cukup datang ke satu tempat, semua kebutuhan terpenuhi. Apa sebenarnya yang paling sering dicari di pameran pernikahan? Berpengalaman lebih dari delapan tahun menyelenggarakan pameran pernikahan, Parakrama Organizer, menyebutkan ada empat hal yang paling banyak dicari calon pengantin atau keluarganya. Hal ini diketahui berdasarkan nilai transaksi terbesar dari pameran.

Arief Rachman, Marketing Director Parakrama Organizer mengatakan transaksi yang paling banyak di pameran pernilkahan dari tahun ke tahun adalah katering, dekorasi, venue, fotografi. “Katering paling besar transaksinya. Fotografi tidak kalah besar karena pengembangan produknya banyak, termasuk jasa video yang makin maju. Budget pernikahan untuk dokumentasi juga naik,” katanya usai pembukaan pameran Gebyar Penikahan Indonesia 2014 di Balai Kartini Jakarta, Jumat (18/4/2014).

Selain keempat hal tadi, kata Arief, kebutuhan akan kebaya tradisional asli juga tinggi. Pakaian pengantin daerha asli juga menjadi incaran calon pengantin yang datang ke pameran pernikahan. Menurut Arief, transaksi terbesar dari pameran pernikahan dapat diketahui dari penukaran kupon undian. “Transaksi terbesar kami cari tahu dari penukaran kupon untuk diundi. Dari situ kami tahu apa saja transaksi pengunjung pameran,” katanya.

Pengunjung yang bertransaksi dalam pameran pernikahan dapat menukarkan bukti transaksi dengan kupon undian untuk memperebutkan hadiah utama. Untuk pameran Gebyar Pernikahan Indonesia 2014, penyelenggara menyediakan hadiah utama satu unit mobil Honda Mobilio. Pameran berlangsung di Kartika Expo Balai Kartini Jakarta, 18-20 April 2014.

Pameran pernikahan menyediakan pelayanan satu pintu untuk memenuhi berbagai kebutuhan calon pengantin. Mulai kebutuhan pra perayaan pernikahan, acara adat hingga resepsi, bahkan pascapesta pernikahan seperti bulan madu. Bagi Anda yang berencana menikah dengan konsep perkawinan Indonesia, baik tradisional atau nasional, semua kebutuhan terlengkapi di pameran Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) gelaran Parakrama Organizer. Pameran pernikahan ini merupakan pengembangan Bidakara Wedding Expo yang dulunya diadakan oleh Manten House Exhibitons Organizer. Berganti nama acara dan penyelenggara, berpindah pula tempat pameran pernikahan khas Indonesia ini. GPI berlangsung 18-20 April 2014 di Kartika Expo Balai Kartini Jakarta.

Lebih dari 150 vendor ikut serta dalam pameran pernikahan ini. Pasangan yang berencana menikah akhir tahun 2014 menjadi sasaran utamanya. Diharapkan pameran ini bisa menggaet pengunjung 40 persen lebih tinggi dari 15.000 orang yang datang tahun lalu. Ragam kebutuhan pernikahan, mulai undangan, suvenir, katering, venue termasuk hotel, dekorasi, tata rias pengantin, desainer kebaya, perhiasan, wedding planner hingga jasa perjalanan bulan madu tersedia di pameran ini.

Mengusung pelestarian budaya Indonesia, pameran ini menyediakan ragam pilihan vendor yang ahli menyelenggarakan pesta pernikahan khas nusantara seperti pelamina minang buchyar yang sarat promosi budaya. Selain bisa memberikan solusi, calon pengantin juga bisa mencari referensi bahkan inspirasi untuk menyelenggarakan momen istimewanya nanti. Pasalnya pameran ini juga memberikan inspirasi pernikahan Indonesia perpaduan budaya yang bisa terlihat dari pilihan model kebaya, dekorasi, atau konsep pesta pernikahan secara keseluruhan.

“Pameran pernikahan Indonesia ini tidak murni tradisional. Prosesi adat murni jumlahnya tidak banyak namun bukan berarti tidak ada. Model pernikahan yang paling banyak dipilih belakangan adalah perpaduan budaya menyesuaikan latar belakang pria dan wanitanya,” kata Arief Rachman, Marketing Director Parakrama Organizer, usai pembukaan Gebyar Pernikahan Indonesia di Balai Kartini Jakarta, Jumat (18/4/2014).

Beda
GPI bukan sekadar pameran pernikahan yang memberikan pilihan vendor. GPI menawarkan beragam referensi yang khas. Sama seperti tahun lalu, Anda bisa mendapatkan referensi bulan madu di satu teras khusus, Teras Bulan Madu. Anda bisa menemukan penawaran menarik terkait destinasi bulan madu favorit, Bali. “Ada 11 villa dari Bali di Teras Bulan Madu. Menurut The Huffington Post, Bali adalah the best honeymoon destination pada 2012. Teras Bulan Madu akan membantu pasangan bagaimana menyiapkan bulan madu yang tepat,” katanya.

Sedangkan untuk mencari inspirasi kebaya pengantin, Parade Pengantin gelaran kolaboratif dengan Universitas Negeri Jakarta bisa jadi referensi. Selain itu, ajang pemilihan Puteri Kebaya Indonesia yang digelar untuk mempopulerkan kebaya di kalangan muda, juga bisa memberikan referensi model kebaya terkini dari sejumlah rumah mode atau desainer.

Pembeda utama pameran ini dari gelaran serupa adalah pilihan pembayaran dengan cicilan menggunakan kartu kredit Mandiri. Dengan program ini, calon pengantin bisa mendapatkan kemudahan pembayaran untuk memenuhi beberapa kebutuhan pernikahannya.

Setiap kali pameran pernikahan berlangsung, stand katering selalu penuh pengunjung. Tak terkecuali di kegiatan Gebyar Pernikahan Indonesia. Katering dan food tasting menjadi prioritas utama bagi calon pengantin dan keluarganya yang sedang menyiapkan pesta pernikahannya. Lantas apa sebenarnya yang dicari atau perlu dipertimbangkan dalam memilih katering? Ini beberapa calon pengantin berbagi kiatnya.

Rasa tentu saja menjadi pertimbangan utama dalam memilih katering untuk pesta pernikahan. Namun rasa yang lezat sesuai selera ternyata tidak cukup. Ada pertimbangan lain yang bisa saja mengalahkan rasa. Dekorasi menjadi perhatian pasangan dalam memilih katering untuk pesta pernikahannya. Bagaimana ragam menu ditampilkan dan disajikan dengan dekorasi menarik menjadi penting. Tentunya dekorasi katering akan menyesuaikan konsep resepsi pernikahan tersebut.

“Nomor satu rasa, berikutnya cara penyajian termasuk dekorasinya,” aku Rizka intania, 26, saat ditemui di di Kartika Expo Balai Kartini, Jakarta, Jumat (18/4/2014).. Rizka “menjelajah” katering bersama calon suaminya, Galuh Dhira, 26, di pameran pernikahan garapan Parakrama 0rganizer dan Manten House, untuk menyiapkan pernikahannya pada April 2015. Selain rasa dan dekorasi, bagi pasangan ini pelayanan katering terutama saat resepsi berlangsung juga penting diperhatikan. “Bagaimana katering itu melayani tamu dan krunya bekerja sepanjang acara juga jadi pertimbangan,” kata Galuh

Bagi pasangan ini, katering yang bersih baik makanan juga penyajiannya menjadi penilaian tersendiri. Katering yang terlihat rapi dan bersih merupakan hal penting yang turut menyukseskan sebuah resepsi pernikahan dan memberikan kepuasan tersendiri bagi pengantin dan pasangan.

Pilihan katering berdasarkan rasa dan dekorasi juga menjadi perhatian perempuan yang berencana menikah September 2014, Early Azaria, 28. Early yang datang ke pameran bersama keluarga mengakui rasa menjadi pertimbangan utama selain brand. Menurutnya brand membantunya menentukan katering dari sekian banyak pilihan.

“Dengan melihat brand, track record-nya, akan lebih mudah memilih. Namun rasa tetap jadi pertimbangan utama selain dekorasinya,” katanya. Selain itu, Early mengatakan, memilih katering untuk resepsi pernikahan juga perlu mempertimbangkan pilihan menu dan apa yang menjadi menu andalannya.

Bubur Kampiun adalah bubur yang khas di Sumatera Barat. Namun kini mulai langka dan sulit dicari. Di Padang, satu per satu penjual bubur kampiun tutup dan tidak menjualnya lagi. Bubur yang menjadi santapan untuk sarapan ini hanya muncul saat bulan puasa, dijual untuk menu berbuka.

Namun masih ada satu penjualnya di Pasar Raya Padang, bubur kampiuan milik Beni Karim, 56 tahun dan istrinya. Bubur ini dijual di sebuah warung di Pasar Raya Padang oleh istri Beni Karim, sementara Beni Karim melayani pembeli di kawasan Pasar Raya dengan gerobak dorong.

Bubur kampiun Beni Karim juga cukup komplit, ada enam macam campurannya. Terdiri dari ketan putih yang dikukus, bubur ketan hitam, bubur candil dari tepung ketan, kolak ubi jalar, bubur sum-sum dan bubur kacang hijau. Semua dimasukkan satu persatu dalam satu mangkuk, dan inilah yang menjadi bubur kampiun.

Saya segera menyantap bubur kampiun yang terhidang di meja warung pada Kamis, 7 juni kemarin.Walau dengan beragam campuran tidak menjadikan rasa bubur ini jadi berantakan, tetapi semuanya pas menyatu, lembut memanjakan lidah, manis dan legit.
Sambil menyantap sarapan, saya tanyakan pada Pak Beni yang sudah berjualan bubur kampiun sejak 1980 ini kenapa bubur kampiun mulai langka dan tidak banyak lagi dijual orang.

“Bagaimana tidak langka, membuatnya susah,saya kalau ada kepandaian lain mungkin sudah lama berhenti jualan bubur ini, tapi keahlian saya hanya ini, dan alhamdulilah cukup laris, sehari bisa habis 250 mangkuk bubur,” katanya.

Kesulitan membuat bubur ini menurutnya karena banyak campurannya, terdiri dari aneka bubur. “Minimal harus terjerang enam periuk besar dalam waktu bersamaan, untukk membuat bubur sum-sum, bubur kacang padi, kolak ubi, ketan putih, bubur ketan hitam, dan bubur candil, itu yang sulit, di Pasar Raya ini tinggal saya yang berjualan bubur kampiun,” kata Beni Karim yang berasal dari Bukittinggi.

Bubur kampiun ini asalnya memang dari Bukittinggi. Walaupun sama-sama bubur kampiun, di Bukittinggi campurannya agak beda. Bubur kampiun di Bukittinggi terdiri dari lupis ketan putih, bubur ketan hitam, candil, bubur sumsum, kolak ubi, kolak pisang, dan bubur delima dari tepung kanji. Warnanya ada campuran merah jambu dari bubur delima yang dicampurkan paling akhir.

Di kota Padang Panjang, campuran kampiunnnya lain lagi. Di sana bubur kampiun terdiri atas bubur ketan hitam, candil, bubur sumsum, agar-agar merah, dan cendol sagu dengan siraman cairan kental gula merah di atasnya.
Walaupun berbeda, ciri khasnya tetap sama, menjadi bubur campur yang nikmat dan mengenyangkan. Harganya juga murah, seporsi bubur kampiun ini hanya Rp5 ribu rupiah.

Pakar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat Alfa Noranda mengutarakan daerah perlu membuat Undang-Undang Pelestarian Cagar Budaya guna mencegah berkurangnya jumlah cagar budaya yang ada.

“Dari inventarisasi dan data Balai Pelestarian Peninggalan Pusaka (BP3) Batusangkar yang telah diklarifikasi, aset cagar budaya yang paling banyak berada di kota Padang, namun secara historis tiap daerah di Sumbar memiliki potensi cagara budaya yang sama,” katanya, di Padang, Sabtu.

Menurut dia, untuk pelestarian situs cagar budaya yang sesuai UU secara teknis, baru diterapkan di Kota Sawahlunto.

Ia mengatakan, terkait pelestarian cagar budaya, para legislator harus mengetahui konteks pelestarian benda cagar budaya.

Konteks pelestarian benda cagar budaya, lanjut Alfa, harus melihat bahan, bentuk, dan keaslian cagar budaya itu.

Alfa menilai, tindakan penyemenan situs budaya akan menghilangkan konteks keaslian benda. Sebagai contoh adalah lubang Jepang yang ada di kota Bukittinggi.

“Pelestari dan pemerintah belum menemukan solusi yang tepat untuk pelestarian situs cagar budaya,” ujar Arkeolog lulusan UGM itu.

Ia mengemukakan, pelestari dan pemerintah harus membuat perencanaan dalam pengolaan cagar budaya yang sesuai dengan prinsip pelestarian benda cagar budaya.

Sementara untuk menghindari bentrok antar kepentingan maka sangat perlu dibuat UU tingkat daerah yang sama-sama mengakomodir kepentingan budaya dan sektor lainnya.

Di Sumatera Barat, kata dia, baru di Kota Sawahlunto yang mempunyai UU pelestarian situs cagar budaya tingkat daerah.

Sementara itu, melihat kondisi cagar budaya di Kota Padang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Padang menyatakan cagar budaya yang ada di kota tersebut saat ini mulai menipis.

“Saat ini hanya tersisa 40 cagar dari sebelumnya mencapai 73 aset,” kata Kepala Bidang Seni dan Budaya Didsbudpar Padang Muharman.

Ia menyebutkan, sebanyak 33 cagar telah hancur akibat gempa pada 30 September 2009.

Ia mengatakan, salah satu jenis cagar budaya di Padang yang masih terhitung banyak yakni seperti rumah peninggalan zaman Belanda dan Jepang.

Rumah-rumah itu, saat ini menjadi milik pribadi dari sebagian warga yang berada di kawasan “Padang Kota Lama” dan tempat lainnya.

Selain itu, cagar budaya terdiri atas kantor seperti kantor Balaikota Padang, Bank Indonesia di Batang Arau, dan Sekolah Dasar (SD) Agnes, katanya.

“Dulunya, Hotel Ambacang yang hancur karena gempa 30 September 2009 juga termasuk dari cagar budaya di Padang, namun setelah direkonstruksi, saat ini bentuk hotel itu tidak lagi serupa dengan mulanya” katanya.

Muharman menyebutkan, kendala dalam melestarikan cagar budaya adalah masalah dana. Sedangkan untuk cagar budaya yang telah menjadi milik pribadi, maka biaya perawatannya diserahkan kepada oleh pemilik.

“Sedangkan kantor, bank, hotel dan sekolah dibiayai oleh instansi masing-masing,” kata dia.

Ia menambahkan, di Kota Padang, memang belum ada UU terkait pelestarian cagar budaya itu.

Menurut dia, hal itu memang berdampak negatif terhadap pelestarian cagar budaya di “Kota Bingkuang” itu.

Keberadaan Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau, red) kini tidak lagi sebagai bangunan tunggal di pemukiman masyarakat Sumatera Barat, tetapi telah banyak tumbuh bangunan lain di sisi-sisinya.

Padahal, secara tradisional turun temurun di Ranah Minang, rumah gadang merupakan bangunan tunggal yang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi suatu keluarga sampai dengan keturunan selanjutnya, kata kata Peneliti Arsitektur Minang dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta, Dr Eko Alvares di Padang, Rabu.

Ia menambahkan, akibat perkembangan zaman rumah gadang yang sebelumnya bangunan tunggal telah berkembang menjadi rumah baru.

Selain itu pada rumah gadang juga sudah mengalami banyak perubahan yang dapat dilihat dari semakin berkembangnya rumah-rumah baru di sekeliling rumah adat tersebut.

Menurut dia, minimal ada dua faktor menyebabkan hal itu terjadi, pertama, karena timbulnya rasa kecemburuan sosial antar penghuni.

Ia menjelaskan, faktor intern antarpenghuni rumah gadang yang tidak saling cocok juga akibat dari perubahan rumah gadang yang sudah mulai ditinggalkan, sehingga menjadi tidak berkembang dengan baik.

Faktor kedua, karena meningkatnya pendapatan masyarakat sehingga timbulnya rasa ingin memiliki rumah secara pribadi, tambahnya.

Ia menyebutkan, untuk kondisi sekarang, konsep yang diterapkan pada rumah-rumah baru itu masih memiliki bentuk dan konsep yang hampir sama dengan rumah gadang, meski tetap ada beberapa perbedaan.

Perbedaan itu antara lain ditandai dengan penggunaan merial bangunan yang sudah mendapat pengaruh teknologi, kata Alvares.

Aparat melarang penayangan Opera Tan Malaka di wilayah Kediri dan Malang, Jawa Timur. Alasannya, tayangan yang diproduksi Tempo TV itu berbau “kiri” dan bisa menimbulkan gejolak di masyarakat.

Penanggung jawab program siaran Kilisuci Teve (KSTV), Kediri Mufti Ali, mengaku diminta Komandan Kodim 0809 Kediri Letnan Kolonel Infanteri Bambang Sudarmanto untuk tidak menyiarkan Opera Tan Malaka. Siaran tersebut dibatalkan sebelum sempat melalui proses editing.

Menurut Mufti, semula KSTV berencana menayangkan Opera Tan Malaka pada 16 Januari. Selama ini KSTV dan Tempo TV telah menjalin kerja sama untuk mengisi kekosongan program KSTV. “Program Tempo TV terutama tentang pengetahuan banyak diminati pemirsa kami,” ujarnya saat ditemui di kantornya Kompleks Ruko Hayam Wuruk Kediri, Selasa (11/1).

Sebagai penanggung jawab siaran, Mufti Ali mengaku sangat tertarik dengan program tersebut. Selain memiliki nilai sejarah dan kesenian kuat, tokoh Tan Malaka sendiri cukup dekat dengan warga Kediri. Sebab, kabar terakhir tokoh sosialis yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional tersebut dimakamkan di lereng Gunung Wilis Kabupaten Kediri.

Direktur Utama Tempo TV Santoso mengatakan aparat di Malang dan Kediri tidak paham atas tontonan itu. “Sebagian aparat masih berpikiran kolot, alergi terhadap segala hal yang berbau kiri,” kata Santoso. “Mereka masih berpikiran seperti zaman Orde Baru.”

Tayangan Opera Tan Malaka merupakan hasil rekaman atas pertunjukan teater Opera Tan Malaka di Teater Salihara, Jakarta, 18-20 Oktober 2010 lalu. Semula ada 10 stasiun televisi lokal yang berminat memutar rekaman opera itu. Tapi Batu TV Malang dan KSTV Kediri batal menyiarkan tontonan itu.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya juga mengecam pelarangan itu. “Tidak bisa (dilarang), ini hak sipil dan politik, peran negara termasuk polisi dan TNI tidak bisa mencampuri ini,” kata Direktur LBH Surabaya, M. Syaiful Aris, kepada Tempo, Selasa (11/1).

Menurut Aris, pelarangan film tidak bisa seenaknya dilakukan dengan mendatangi stasiun yang akan melakukan penayangan. “Pelarangan buku saja ada prosedurnya, sekarang bukan zaman Orde Baru lagi,” ujarnya.

Namun, Ketua Center for Indonesia Community Studies (CICS) Jawa Timur Arukat Jaswadi, mendukung pelarangan penayangan Opera Tan Malaka di beberapa televisi lokal di Jawa Timur.

Arukat khawatir penayangan itu akan menjadi pembelokan sejarah PKI. “Penayangan ini akan dimanfaatkan oleh neo-PKI untuk mendapatkan justifikasi bahwa PKI adalah korban,” katanya, Selasa (11/1).

Wakil Ketua Laskar Ampera Arif Rahman Hakim Angkatan 66 Jawa Timur, Yousri Nur Raja Agam menilai Tan Malaka sebenarnya bukan tokoh komunis. “Dalam sejarahnya dia tidak terlalu komunis tapi lebih sosialis,” katanya.

Sementara itu, televisi lokal Tasikmalaya Taz TV berencana menayangkan opera Tan Malaka. Televisi yang masuk dalam jaringan TV Tempo itu tetap akan menayangkan opera tersebut karena sampai saat ini tak ada pelarangan dari siapa pun.

“Walaupun ada sekalipun, kami tetap akan menayangkannya,” kata Hendra Suhendra seorang kru di Divisi Penyiaran Taz TV kepada Tempo Selasa

Salah satu televisi lokal di Jawa Tengah TVKU akan kembali menayangkan opera Tan Malaka, Sabtu mendatang. “Kami akan tetap menayangkan kembali mulai pukul 20.00 WIB,” kata Direktur Utama TVKU Semang Lilik Eko Nuryanto kepada Tempo, Rabu (12/1).

Sebelumnya, pada Sabtu (8/1) lalu stasiun yang berorientasi tayangan pendidikan tersebut juga sudah menayangkan opera yang diproduksi oleh Tempo TV tersebut.

Lilik mengaku tak pernah didatangi aparat kepolisian atau tentara terkait penayangan pertunjukan opera mengenai sosok Tan Malaka tersebut. Adapun di beberapa daerah lain, penayangan opera ini dilarang oleh aparat.

Opera Tan Malaka merupakan pertunjukan opera mengenai sosok Tan Malaka. Petunjukkan ini merupakan hasil karya seni kolaborasi komponis Tony Prabowo dengan budayawan kondang Goenawan Muhamad. Opera Tan Malaka dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta pada 18 – 20 Oktober 2010.

Pada saat menerima paket tayangan kerja sama dengan Tempo TV, Lilik mengaku langsung menyayangkan di stasiun yang dikelolanya. Sebab, kata dia, jika sudah diproduksi oleh Tempo TV maka tidak mungkin isinya melanggar aturan dan menabrak etika. “Ga mungkin isinya menghasut,” kata dia. Sebaliknya, tayangan Opera Tan Malaka justru baik bagi perkembangan seni dan budaya di Indonesia.

Kerusakan lingkungan alam dan sosial di sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Barat terkait dengan mulai pudarnya cerita rakyat dan fabel mengenai harimau.

Hal itu terungkap dalam sebuah diskusi di Padang, Senin (29/3). Hadir dalam diskusi itu penggiat Kelompok Studi Sastra dan Teater Noktah, Syuhendri. Selain itu, ada Nina Rianti dan Aprimas dari Taman Budaya Sumbar.

Menurut Nina, pudarnya cerita rakyat yang diwariskan secara lisan itu mulai terjadi sejak dekade 1990-an.

Ia mengatakan, hal itu tidak lepas dari siaran televisi yang pilihannya semakin banyak dan langsung masuk serta memengaruhi kehidupan warga sehari-hari.

Peran televisi sebagai media hiburan pun mulai menggantikan cerita-cerita rakyat yang berpusat seputar fabel mengenai harimau.

”Kalau dulu, kan, ada bakaba (berkabar) yang dibawakan sambil bermain rebab atau saluang,” ujar Nina sembari mengatakan, ada kemungkinan regenerasi budaya tutur dengan penceritaan legenda dan mitos lokal itu tergantikan dengan kebiasaan menonton televisi.

Syuhendri menambahkan, cerita mitos dan cerita rakyat berupa fabel mengenai harimau tumbuh subur di seluruh wilayah Minangkabau.

Hal itu terjadi baik di daerah luhak, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Minangkabau di daerah pegunungan, dengan Agam, Tanah Datar, dan Limapuluh Kota sebagai wilayah-wilayahnya, maupun daerah rantau yang merupakan tempat perkembangan budaya di daerah pesisir.

”Manifestasinya dalam kehidupan adalah bentuk-bentuk tarian dan silat untuk bela diri,” kata Syuhendri.

Namun, imbuh Syuhendri, yang paling penting adalah mitos yang masih hidup sampai saat ini soal hubungan orang Minangkabau dengan harimau.

Syuhendri mengatakan, pada zaman dulu ada semacam perjanjian antara manusia dan harimau untuk saling menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sosial. Jika salah satu pihak di antaranya melanggar, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung.

”Kalau manusia yang melanggar, misalnya di kampung itu ada perzinahan, maka akan ada binatang ternak yang mati diterkam harimau. Demikian pula jika alam dirusak. Jika harimau yang salah dan menerkam manusia tanpa sebab, biasanya harimau akan menyerahkan diri,” kata Syuhendri.

Aprimas menambahkan, cerita dan mitos yang diwariskan lewat budaya tutur dan berperan menjaga keseimbangan alam serta lingkungan sosial itulah yang kini relatif mulai tergantikan dengan kebiasaan menonton televisi.

Nina mencatat, setidaknya kini tinggal wilayah Kabupaten Sijunjung dengan kesenian ba’ombai di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, yang proses regenerasinya masih berjalan baik

Seni rupa adalah sebuah dunia yang sepi. Medium yang paling dominan, yakni lukisan, adalah contoh karya bagaimana seni rupa menyatakan kepada para seniman betapa pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan membangun keyakinan sepenuhnya pada pandangan diri. Kehidupan perupa adalah tantangan untuk menghadapi pikiran dan imajinasi yang liar untuk dieksekusi berdasarkan pendekatan yang sangat personal.

Karena kesendirian yang terus-menerus bisa jadi kadang membosankan dan kebersamaan adalah hal yang acap memudahkan, banyak seniman yang tertarik membuat kelompok. Ada banyak alasan yang mempertemukan para seniman yang pada akhirnya membuat kelompok. Salah satunya, yang acap dicibir tapi cenderung masih banyak dipercaya sebagai alasan paling mengikat, adalah persamaan kelompok etnik atau asal daerah. Komunitas Seni Sakato (KSS) adalah contoh bagaimana ikatan etnis bisa menjadi bentuk kebersamaan yang produktif dalam mewujudkan gagasan-gagasan seniman, meskipun pada akhirnya tetap dieksekusi secara personal.

Selama 10 hari semenjak 17 Februari 2010, sebanyak 100 lebih anggota kelompok ini menggelar pameran bertajuk “Bakaba” di tiga lantai yang tersedia di Jogja National Museum. Tentu saja, di antara mereka terselip nama-nama besar dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia selama 10 tahun terakhir, seperti Handiwirman, Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani atau Yunizar, hingga generasi yang lebih muda dan cukup menjanjikan, seperti David Armi Putra, Zulfa Hendra, dan Tommy Wondra.

Bakaba adalah sebuah istilah yang sangat khas untuk kehidupan masyarakat Minang. Berasal dari kata “kaba” (kabar), yang berarti kisah. Tentu kita bisa ingat bagaimana masyarakat Minang dikenal dengan kefasihan mereka dalam menyampaikan cerita, dengan budaya lisan dan seni bertutur (berpantun, misalnya), yang begitu kuat. Bakaba adalah sebuah upaya lain menunjukkan kekuatan tradisi tersebut dalam ranah seni rupa. Tiga penulis, yakni Jim Supangkat, Soewarno Wisetretomo, dan Yasraf Amir Pilliang, mereka libatkan untuk memberi pengantar dalam katalog yang mencoba menjelaskan dan memberikan gambaran besar mengenai karya para seniman dan mencoba menandai posisi Sakato dalam peta seni rupa kontemporer di Indonesia.

Meski mengikatkan diri dengan kesamaan etnisitas, apa yang dikisahkan para perupa ini juga pendekatan artistik masing-masing, memang tidak serta-merta menggambarkan identitas Minang mereka. Dan rasanya, pada masa ketika identitas telah dipercaya sebagai hal yang terus berubah dan tumpang tindih, merujuk etnisitas sebagai basis tema berkarya, memang tidak lagi terlalu strategis, kecuali jika ada gagasan atau kritisisme baru yang ingin disampaikan berkaitan dengan “kampung halaman” tersebut. Karena itu, dalam pameran ini, kita mendapati betapa luas khazanah gagasan yang dijelajahi oleh para seniman Minangkabau tersebut, ada yang berbicara tentang kota, tentang situasi manusia modern, kritisisme atas bentuk dan sejarah seni rupa itu sendiri, hingga upaya menampilkan gagasan tentang hal yang remeh dan sehari-hari, yang tampaknya cenderung dominan dalam pameran ini. Karena itu, ada beberapa karya yang memajang “benda-benda remeh”, seperti kaki, toilet, atau lilitan kabel listrik. Kita tentu masih ingat bahwa tradisi atas hal yang remeh, seperti kapas, kayu, atau batu, terutama mencuat ketika Handiwirman merajai pasar dengan karya semacam ini dan menetapkan semacam haluan baru dalam estetika seni rupa di Indonesia.

Abdi Setiawan, pematung yang dikenal akan figur manusia kayunya, memajang instalasi karyanya di lorong ruang lantai pertama. Karya berjudul The City itu terdiri atas sembilan manusia yang menghuni sebuah kota, bergulat dengan hidup, identitas dan persoalannya masing-masing, terkotak-kotak dalam personalitas yang acap menjerat. Menarik pula menyimak karya Jumaldi Alfi yang membuat lukisan dengan aksara sebagai subyeknya, dengan pendekatan putih di atas putih.

Dari kecenderungan abstrak, ada karya yang cukup menyentuh dari seorang anggota KSS yang sudah almarhum, Febri Antoni. Karya seniman yang meninggal karena bunuh diri pada 2005 itu berjudul Melintasi Ruang Abstrak, yang entah mengapa, ketika menyaksikannya, kita merasakan kesepian yang pekat dan tertahankan di sana. Kemudian ada pula nama Fairuzhazbi aka Boy.

Ada pula karya Nico Ricardi, yang memang dengan mudah menarik perhatian pengunjung karena ukurannya yang relatif besar. Barangkali karya inilah yang paling bisa ditautkan dengan kebiasaan orang Minang: merantau. Ia menciptakan bola dunia berukuran besar, lalu diberi selempang yang bertulisan “Berkeliling”.

Secara umum, pameran ini lebih merupakan pameran yang memberi pernyataan atas keberadaan kelompok Sakato sebagai satu kekuatan yang cukup besar dalam medan seni rupa di Indonesia. Kategori besar itu, selain direpresentasikan melalui jumlah, bisa dilihat dari banyaknya nama-nama yang mempunyai tempat cukup penting belakangan ini. Sedangkan, berkaitan dengan pencapaian atau rujukan estetik, pameran ini masih menunjukkan gagasan yang itu-itu saja. Beberapa memang mencoba keluar dari dorongan pasar. Tapi tampaknya persoalan kurangnya referensi atas perkembangan-perkembangan baru serta terbatasnya kemampuan untuk memeras esensi dari sebuah persoalan dan menampilkannya dalam satu metafor yang cerdas masih harus diatasi bersama. Diharapkan dengan itu, KSS punya kontribusi yang lebih ketimbang menegaskan soal identitas dan, barangkali, menjadi ruang bersama yang mengusir rasa sepi.

Pelaminan Minang Buchyar berusaha untuk dapat mewakili setiap adat budaya dari seluruh nagari yang ada di Minangkabau. Karena nya kami mempunyai warna-warna baju pengantin Minang dengan sangat beragam seperti:

  • Baju pengantin Minang warna hitam
  • Baju pengantin Minang warna merah
  • Baju pengantin Minang warna merah marun
  • Baju pengantin Minang warna biru
  • Baju pengantin Minang warna Orange
  • Baju pengantin Minang warna kuning
  • dan warna-warna lainnya.

Pengantin Minangkabau pada umumnya menggunakan baju pengantin warna hitam. Karena warna hitam ini di gambarkan sebagai baju para bangsawan atau datuk-datuk. Walaupun demikian setiap nagari di Sumatra Barat mempunyai warna sendiri-sediri. Dan warna-warna tersebut di transformasikan ke pada pakaian adat mereka. Terutama pakaian ketika melangsungkan pernikahan adat di Minangkabau.

Lihat gambar dan foto baju baju pengantin adat minangkabau asli yang berwarna warni cantik nan menawan


PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: