Pelaminan Minang Buchyar

Mencari Jejak Pemikiran Hatta Dalam Rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Posted on: June 23, 2008

Membicarakan kebangkitan nasional, sulit untuk tak menyebut nama besar Mohammad Hatta. Salah satu sumbangan pemikiran terpenting Hatta bagi bangsa ini di bidang ekonomi adalah meletakkan dasar-dasar dan landasan bagi sistem perekonomian nasional yang dibangun setelah kemerdekaan.

Hatta, seperti founding fathers lain, mampu berpikir maju mendahului zamannya. Berkaca dari kegagalan sistem marxisme/komunisme dan kapitalisme pasar bebas di Barat, Hatta mengadopsi suatu sistem yang dalam banyak aspek merupakan bentuk kompromi dari dua ekstrem itu, dengan memasukkan nilai-nilai kemanusiaan dan tradisional Indonesia.

Ini adalah suatu sistem perekonomian yang menjamin kedaulatan dan keterlibatan seluruh rakyat dalam proses pengelolaan ekonomi, yang dalam konsep Hatta tecermin dalam ”produksi oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau kepemilikan rakyat”, berdasarkan asas kekeluargaan.

”Demokrasi politik saja tidak dapat melaksanakan persamaan dan persaudaraan. Di sebelah demokrasi politik harus pula berlaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka, persamaan dan persaudaraan belum ada. Oleh karena itu, cita-cita demokrasi Indonesia ialah demokrasi sosial, melingkupi seluruh hidup yang menentukan nasib manusia.” (Demokrasi Kita, 1960).

Prinsip ini kemudian dituangkan dalam Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”. Dalam konteks ini, Hatta melihat koperasi sebagai bentuk lembaga paling cocok untuk diterapkan pada perekonomian Indonesia karena semangat nilai kolektif, kebersamaan bersendikan kemandirian atau pemberdayaan.

Koperasi menjadi saka guru dalam sistem ekonomi yang ditopang oleh tiga pilar utama: negara, swasta, dan koperasi. Pasal 33 Ayat 2 dengan tegas juga menyebutkan hal-hal yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Namun, konsep demokrasi ekonomi dan ekonomi kerakyatan ini mengalami interpretasi berbeda pada rezim-rezim sesudahnya. Strategi pembangunan yang diterapkan sejak Orde Baru lebih banyak bertumpu pada pertumbuhan ekonomi sebagai fokus utama, dan mengabaikan kualitas dari pembangunan itu sendiri, termasuk pemerataan dan partisipasi masyarakatnya.

Pada era Orde Baru, asas kekeluargaan bahkan disimpangkan menjadi asas ekonomi keluarga yang berperan penting dalam melahirkan konglomerasi industri berbasis hubungan keluarga dan perkoncoan (favoritism entrepreneurship) dalam lingkungan oligarki dan rente ekonomi yang sangat kental.

Dalam proses ekonomi, yang terjadi bukan demokrasi ekonomi, tetapi eksploitasi ekonomi: eksploitasi unit-unit usaha besar terhadap unit-unit usaha kecil; majikan terhadap buruh; serta politisi dan pemerintah terhadap rakyatnya. Postulasi akan terjadinya tetesan ke bawah (trickle down effect) hasil-hasil pembangunan ekonomi lebih banyak tinggal janji belaka.

Kaum miskin dan marjinal semakin terpinggirkan dan rakyat bukan aktor, tetapi semata obyek. Pada rezim reformasi, bahkan ada upaya untuk mengamandemen Pasal 33 dengan menghapus ”asas kekeluargaan”, seolah-olah itu sumber dari semua penyimpangan dan kebobrokan birokrasi, terutama di era Orde Baru.

Kemenangan neoliberalisme

Jika gagasan ekonomi kerakyatan dan demokrasi ekonomi Hatta sebagai dasar perekonomian nasional begitu visioner, mengapa nyaris tak ada jejak dalam kehidupan riil perekonomian kita? Banyak pengamat berpendapat, sosok perekonomian Indonesia dewasa ini wujud nyata kemenangan faham neoliberal global. Istilahnya, kembalinya kolonialisme dalam wujud baru.

Ini bisa dilihat dari kuatnya tekanan untuk melakukan divestasi/privatisasi BUMN; liberalisasi pasar yang kebablasan; meningkatnya ketergantungan sistematis terhadap asing; kian lemahnya kontrol dan penguasaan negara atas sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Sentimen pasar—dan bukannya realitas kehidupan masyarakat—mendikte dan menjadi kiblat bagi hampir semua kebijakan pemerintah. Kebijakan ekonomi lepas sama sekali dari realitas kehidupan atau kebutuhan masyarakat.

Ambivalensi dan kebijakan yang tak berpijak pada realitas lokal ini membuat Indonesia seperti kehilangan identitas, senantiasa gamang dan tak memiliki kekuatan tawar di tengah pusaran arus besar perubahan dan globalisasi sehingga Indonesia sering terlihat sebagai bangsa pecundang yang tunduk pada dominasi, tekanan, atau eksploitasi asing.

Tak berjalannya demokrasi ekonomi bisa dikaitkan dengan salah satu pernyataan Hatta: karena kepicikan pemimpinnya. Mereka yang berkuasa atas negara ini—di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif—umumnya bukan negarawan, tetapi petualang politik, yang lebih banyak menghamba pada kepentingan pemilik modal, pribadi, atau kelompok, ketimbang melayani kepentingan rakyat banyak.

Demokrasi ekonomi tak lebih hanya dagangan politik. Arus pemikiran alternatif pun tak muncul di tengah kegersangan pemikiran baru. Setiap gagasan untuk mengaktualisasikan demokrasi ekonomi menghadapi resistensi kuat, bahkan dianggap sebagai ancaman.

Anne Booth dalam buku A History of Missed Opportunities dan J Plufier dalam A Century of Unfulfilled Expectations melihat, ketidakberdayaan melepaskan diri dari kepentingan sempit membuat Indonesia terus mengulang kesalahan dan tragedi yang sama.

Meski dikaruniai kekayaan alam berlimpah dan tradisi budaya, Indonesia seolah ditakdirkan terus mengalami kemalangan dan tertinggal.

Persoalannya selalu pada lemahnya kelembagaan dan kepemimpinan. Akibatnya, sosok ekonomi nasional semakin jauh dari cita-cita founding fathers. Demokrasi politik pun jadi tak bermakna apa-apa selama eksploitasi ekonomi, kesenjangan, ketimpangan, kemelaratan, dan keterbelakangan terus merajalela.

Baca: Kisah Para Tokoh Minangkabau Yang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: