Pelaminan Minang Buchyar

Bukittinggi Akan Dibom Oleh Al Jamaah Al Islamiyah Pimpinan Nurdin Top

Posted on: July 10, 2008

Satu atau lebih di antara 16 bom siap ledak yang ditemukan Detasemen Khusus 88 Antiteror di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menurut skenario organisasi Al Jamaah Al Islamiyah (JI) akan diledakkan di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat.

Dari penelusuran Mabes Polri diketahui, pada musim libur ini JI berencana mengebom Kafe Dedudel di Kampung China, Bukittinggi. Mengapa Bukittinggi?

Belum ada informasi mengapa Kota Bukittinggi menjadi target pengeboman. Memang tidak mudah menjawabnya, mengapa kota sejuk berpanorama indah Ngarai Sianok itu diincar untuk dibom.

Demokratik

Seusai pergolakan PRRI awal tahun 1960-an dan setelah G-30S, Bukittinggi dan Sumbar relatif aman. Hampir-hampir tidak pernah ada gejolak sosial signifikan, kecuali satu-dua kali terjadi cakak banyak (perkelahian massal) antarwarga dari dua negari (setingkat desa) yang berbeda. Pada tahun 1970-an memang ada (rencana) peledakan bom di sebuah rumah sakit di Bukittinggi dan beberapa tahun kemudian Masjid Nurul Iman di kota Padang. Kedua peristiwa itu ditengarai bermuatan unsur SARA dan pelan-pelan redam.

Tiba-tiba bagai petir di siang bolong, kini, rencana peledakan bom oleh teroris berjaringan internasional di Ranah Minang. Memang, ini baru rencana. Mudah-mudahan tidak pernah menjadi kenyataan. Untuk itu respek dan apresiasi tinggi harus diberikan kepada Polri yang secara dini membongkar jaringan kerja JI.

Betapa lagi jumlah bom siap ledak itu 16 akan diledakkan tidak hanya di Sumbar. Sulit dibayangkan kehancuran yang terjadi akibat ledakan itu. Akibat ledakan bom di Pulau Bali dan beberapa kali di Jakarta saja sudah amat memilukan dan hingga kini masih berbekas.

Kembali ke Bukittinggi. Secara kultural kawasan setempat disebut Ranah Minang. Untuk urang awak, secara eksklusif kultur itu memberlakukan pedoman hidup yang dirangkum secara puitik melalui adagium adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendi syarak, syarak bersendi kitab Allah).

Namun, di tengah pergaulan nasional dan internasional, dengan kultur itu orang Minangkabau berlaku egaliter, demokratik, selalu berusaha duduk sama rendah tegak sama tinggi, bersikap lamak dek awak katuju dek urang (enak bagi kita disukai orang lain). Dalam kehidupan sehari-hari, orang Minangkabau berpegang pada konsep kain dipakai usang, adat dipakai baru. Mereka siap berubah dan bersedia menerima perubahan.

Sebagai contoh, sejak masa penjajahan, terutama setelah merdeka, perbauran dan pergaulan antaretnik berjalan harmonis. Keturunan China, Arab, dan India, orang dari etnik Jawa, Sunda, Batak, bahkan Bugis dan Bali dapat tempat secara amat baik dalam pelbagai lapis kehidupan. Bahkan, bahasa Minang etnik-etnik itu lebih Minang daripada penutur asli. Rasa bahasa Minang mereka memesona. Namun, dalam pergaulan sehari-hari mereka berbahasa Indonesia.

Menerima budaya lain

Dengan konsep ”adat dipakai baru” itu pula Minangkabau—sebagai contoh yang lain—mau menerima budaya pemilihan uda- uni, mirip abang-none di Jakarta yang berinduk ke pemilihan ratu sejagat. Meski sama sekali tidak tersua dalam akar budaya Minangkabau dan hingga kini sebenarnya masih bermasalah di antara yang setuju dan tidak setuju, pemilihan uda-uni tetap berjalan. Sebagian besar orang Minang tidak setuju pemuda-pemudi mereka dipajang, dipertontonkan, dan melenggang-lenggok di pentas terbuka. Betapa lagi kalau uda-uni itu harus mengenakan pakaian yang menampakkan bagian tubuh yang secara islamik dianggap aurat.

>newarea 1<Dengan konsep itu, sama sekali tak ada pemaksaan terhadap siswi-siswi non-Islam untuk berjilbab, meski ada imbauan bahkan diperdakan agar perempuan Minangkabau berpakaian muslimah. Etnik Minangkabau pun menerima kedatangan turis dan orang asing, biarpun jangan coba melanggar adat, berupaya menyetop angkutan kota dengan tangan kiri. Jangan! Pada saat itu utang berbayar, paling tidak, berbentuk caci-maki. ”Tumbuang, dengan tangan kiri waang stop.” Angkot itu memang tidak stop. Sama sekali jangan coba-coba perempuan mandi berpakaian minim di Pantai Bunguih di Kota Padang, atau di Danau Maninjau, di Danau Singakarak, di Danau di Ateh dan Danau di Bawah.

Ingin dikatakan, secara historikal, kultural, dan sosiologikal sama sekali tak ada alasan meneror dan mengebom (kota-kota di) Sumbar. Namun, sekali teroris, tindakan dan perbuatan mereka keji dan tidak manusiawi. Mereka mau meledakkan bom di mana dan kapan saja. Karena itu, tidak saja terhadap teroris, terhadap semua pelaku kekerasan pintu harus ditutup. Bukittinggi, Sumbar, Indonesia, memerlukan kehidupan yang santun, damai, yang lamak dek awak katuju dek urang.

Oleh: Darman Moenir Sastrawan, Tinggal di Padang dari Harian Kompas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: