Pelaminan Minang Buchyar

Dewi Dee Lestari Mencari Inspirasi Cerita Di Bukittinggi Sumatera Barat

Posted on: July 17, 2008

Ditengah kecemasan akan gempa yang sedang doyan bertandang ke Sumatera, Pasangan Dewi Lestari dan Macellius K. H. Siahaan, atau lebih dikenal dengan nama Dee dan Marcell, jusru berlibur ke Ranah Minang, bersama buah hati tercinta, Keenan Avalokita Kirana, yang baru berusia 8 bulan.

Siang itu, langsung dari Bandung, keluarga Siahaan beserta babysitter mereka, Berna, sudah nongkrong di sebuah resto AW kecil di Bandara Soekamo-Hatta, menikmati makan siang sambil menunggu boarding. Keenan mulai bosan dan melompatlompat, padahal kaki kecilnya belum lagi kuat. Mungkin tak sabar naik pesawat. Berna sampai kewalahan berusaha menopangnya agar tak jatuh. Marcell buru-buru menyelesaikan supnya dan mengambil alih Keenan, menggendong putranya dan berjalan jalan di sekitar ruang tunggu bandara. Tak lama kemudian, mereka menaiki pesawat dan membubung seperti burung, terbang ke Pulau Sumatera.

Pasti Anda kadang bertanya dalam hati, inspirasi mereka datang dari mana, sih? Mungkinkah perjalanan ke Sumatera ini adalah salah satu sarana dan sumber inspirasi mereka? Bisa jadi…

Berandai-andai di Lembah Anai
Begitu turun dari pesawat di Bandara Tabing, teriknya Kota Padang sigap menyengat. Untunglah Pak An, supir mobil sewaan mereka, sudah menanti di pintu keluar. Bagi keluarga Dee dan Marcell yang menetap di Bandung yang berudara sejuk, Padang terlalu panas! Maka mereka pun langsung saja menuju Bukittinggi. Pak An yang sudah berpengalaman membawa wisatawan, meluncurkan mobil ke arah Bukit Barisan.

Beberapa saat kemudian, ketika mobil memasuki wilayah pegunungan, sang mentari seakan mengurangi intensitasnya. Bukit Barisan membentang sejauh mata memandang. Megah dan angkuh dalam balutan hijau dedaunan rimbun pada pohon-pohon yang tinggi menjulang. Kabut sore yang dingin mulai turun perlahan menyelimuti seluruh kawasan. Tiba-tiba di satu kelokan, mata Dee dikejutkan oleh pemandangan air terjun yang mengucur deras dari tebing curam. “Persis di pinggir jalan aja gitu…,” komentar Dee takjub tentang Air Terjun Lembah Anai yang memang berlokasi tepat di tepi jalan raya Padang – Bukittinggi.

Mumpung Keenan tertidur pulas, Dee dan Marcell mencuri waktu untuk berduaan menikmati percikan kucuran air yang menghantam bebatuan hitam kelam, membentuk kolam berwarna hijau pekat dan penuh lumut licin. Bercanda mesra, berandai-andai tentang masa depan. Di tempat seperti inikah muncul inspirasi? Mereka hanya Baling menatap sambil tersenyum.

Kesatria & Puteri di Istana Pagaruyuang
Walau sebenarnya agak menyimpang dari jalan utama menuju Bukittinggi, rasanya sayang jika Batusangkar terlewatkan. Di tengah kesejukan dan keasrian alami, Kota Batusangkar memiliki saksi nyata sejarah dan budaya Minangkabau. Di sini berdiri istana megah dengan tanduk-tanduk menjulang di atapnya, dibalut warna-warna cerah dan mewah. Istana Pagaruyuang namanya. Dee dan Marcell terkesima sesaat di depan gerbangnya, lalu turun bersama Keenan untuk mengunjungi kediaman raja-raja Pagaruyuang di masa lalu ini.

Mirip judul perdana Supernova, Marcell dan Dee bak ksatria dan putri, menaiki tangga-tangga kayu istana. Namun Marcell tidak mau masuk sampai ke dalam. Dia ternyata alergi debu. Maklum, bagian dalam istana yang kini berfungsi sebagai museum dan berisi benda-benda adat, agak kurang terawat
dan berdebu. Jadi hanya Dee dan Keenan saja yang masuk ke dalam dan Keenan bahkan senang sekali berlarian di ruangan dalamnya yang luas. Sedangkan Marcell sibuk meneliti dan memotret detil rumah gadang yang indah ini dari bagian luar saja.

Bukittinggi Nam Temaram Malam
Setelah singgah sejenak di Padangpanjang untuk makan malam, Pak An tak buang waktu lagi dan segera menuju Bukittinggi yang ditempuh dalam sekitar 40 menit saja dari Padangpanjang. Setibanya di Bukittinggi, Marcell sekeluarga check in di Novotel Coralia Bukittinggi. Tepat di jantung kota, hotel ini memang berlokasi strategis dan memiliki reputasi sebagai hotel terbaik di Bukittinggi. Dari jendela deluxe room yang ditempati Dee dan Marcell, bayangan Ngarai Sianok samar terlihat dalam gelapnya malam. Terbayang sudah betapa indah panorama esok pagi.

Saat Keenan sudah terlelap, Dee dan Marcell menyelinap turun ke lobby untuk bersantai sejenak di restoran hotel yang ditata di teras terbuka, menghadap taman cantik dan apik, temaram dalam pendar lampu-lampu taman. Sebuah air mancur kecil di tengah teras bergemericik merdu dan membentuk sungai kecil, membelah taman yang sunyi malam ini. Angin bertiup sepoisepoi, menyebabkan Dee merapatkan syalnya. “Dingin juga Bukittinggi,” ujarnya. Mereka pun memesan makanan ringan dan asyik berbincang sambil menikmati malam. Beberapa mata melirik iri. Mereka memang serasi…

Terpukau di lembah Narau
Pagi-pagi buta, pasangan ini sudah terjaga, sengaja menanti terbitnya sang mentari. Benar juga, saat mentari mulai menyapu bumi, panorama luar biasa terlukis begitu anggunnya. Dari lorong dekat kamar mereka, terlihat langit ‘terbakar’ di ufuk timur, merah menyala. Terang memaksa kabut untuk beranjak dari bukit dan lembah, beri kesempatan pada kehangatan untuk mendekap pepohonan yang menggigil kedinginan. Jam Gadang tua juga terlihat dari sini. Jarum jamnya mengingatkan Dee dan Marcell untuk segera sarapan pagi karena padatnya jadwal hari ini.

Mobil meluncur melalui Kota Payakumbuh. Mata yang masih mengantuk disegarkan oleh pemandangan sawah-sawah hijau dan pedesaan bersahaja sepanjang jalan. Setelah berkendara kurang lebih 1 jam, ruas jalan yang cukup panjang ini seperti dihadang jajaran tebing batu yang menjulang tinggi di kejauhan. Makin didekati, warna merahnya makin jelas terlihat, dihiasi corak hitam dan coklat tua, membentuk garis-garis maskulin yang kokoh. Makin dihampiri, diri ini makin kecil dan tak berarti. Taman Nasional Lembah Harau mendadak menyeruak tanpa permisi.

Mulut mereka ternganga melihat kemegahan alam di kawasan ini. Belum sempat terkatup lagi, sampailah mereka di Echo Homestay, sebuah penginapan berbentuk pondok-pondok kecil yang tersebar mengikuti kontur lembah berbukit tempatnya berdiri, dipagari tebing-tebing setinggi 100 – 150 m di sekelilingnya, di tengah cagar alam eksotis yang kaya flora dan fauna. Belum lagi air terjun, gua, sungai dan hutannya yang menunggu untuk dieksplorasi. “Gila banget, keren abis!” hanya itu yang dikatakan Dee dan Marcell bergantian, kehabisan kata untuk menjelaskan pesona Lembah Harau yang merasuk hati sedalam-dalamnya. Dee bahkan sudah merencanakan untuk segera kembali lagi ke sini. “Nanti aja ya, kalau Keenan udah agak gede. Jadi kita bisa ke sini berdua aja,” kata Marcell berusaha menyabarkannya. Dee diam saja, entah setuju atau sebel…

Rumah Gadang Koto Nan IV
Setelah makan siang di Payakumbuh, Berna membawa Keenan kembali ke Bukittinggi untuk beristirahat. Sedangkan Dee dan Marcell singgah di rumah adat tua yang sudah berusia sekitar 500 tahun. Rumah Gadang Koto Nan Ampek merupakan salah satu rumah baanjuang (memiliki anjung peranginan) dari sedikit yang masih tersisa di Ranah Minang ini. Dee dan Marcell berfoto di depannya, bergaya seperti gadis dan bujang Minang. Gadis dan bujang berduaan, apa tidak melanggar kebiasaan? Amboi kekasih, cinta adalah perlawanan…

Melamun di Danau Maninjau
Dari sana, Pak An melajukan mobil ke Danau Maninjau. Bentangan sawah, lembah dan ngarai, pepohonan lebat, silih berganti menemani. Di puncak Kelok 44, Dee dan Marcell lapar lagi. Di sebuah waning kecil, mereka melahap mie instan dan disuguhi pemandangan Danau Maninjau yang cantik jauh di bawah sana. Mie instannya bayar, pemandangannya gratis.

Empat puluh empat kelokan pun dilalui, sampailah mereka di Danau Maninjau. Sambil duduk-duduk di resto terbuka di Hotel Maninjau Indah, Marcell… makan lagi! Waduh, udara yang dingin bikin lapar terus, ya? Sementara Dee bersandar di tembok yang memagari teras restoran dan menatap riak-riak tenang air danau. Tangannya memegang alat canggih pemutar lagu-lagu dalam fonnat MP3, yang terhubung dengan headphone kecil di kupingnya. Dee larut dalam lamunan di tepi danau sambil mendengarkan lagu. Sesekali terdengar senandung lirih dari bibirnya, mengikuti lirik lagu yang sedang didengarnya. Entah apa yang terlintas di benaknya. Mungkin akan tertuang dalam karya Dee berikutnya. Tempat ini memang sumber inspirasi!

Esok hari tiba terlalu cepat. Selesai sudah liburan yang singkat. Sebelum kembali ke Padang, Dee dan Marcell sekeluarga menyempatkan diri untuk berfoto ala turis di Jam Gadang dan juga di Ngarai Sianok. Setibanya di Padang, yang namanya perempuan tetap perempuan… Dee harus beli oleh-oleh, memborong Karipik Sanjai, kerupuk kulit dan berbagai penganan khas Minang lainnya. Barulah setelah itu mereka menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Sampai jumpa, Minangkabau! Akar pohon menjuntai di Danau Maninjau, burung elang melintas di atas Lembah Harau, petang datang di balik rumah gadang, adalah kenangan tak terlupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: