Pelaminan Minang Buchyar

Guru Tuo Silek Diangkat Setelah 18 Tahun Karena Dituntut Memiliki Ketrampilan Silat Yang Tinggi dan Bijaksana

Posted on: August 2, 2008

Bagi masyarakat Nagari Pauh IX, guru silat bukan sembarang guru. Mereka bukan saja mempunyai keterampilan bersilat, tetapi juga menjadi simbol orang dewasa yang turut menentukan arah kemajuan nagari.

Nagari yang secara administratif terletak di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, itu memang punya kebiasaan bersilat, seperti halnya daerah lain di Minangkabau. ”Silat itu kesenian anak nagari yang indak lapuak dek paneh, indak lekang dek hujan (tidak lapuk oleh panas, tidak lekang oleh hujan),” tutur Marjulis Chan Bandaro Basa, salah satu tokoh masyarakat Pauh.

Pengangkatan seorang guru tidak main-main. Masyarakat menggelar upacara adat khusus yang disebut Urak Balabek. Urak Balabek termasuk hajatan besar bagi masyarakat setempat, salah satunya ditandai dengan penyembelihan kerbau.

Sayangnya, masyarakat Pauh sendiri tidak semuanya akrab dengan Urak Balabek. Pauh IX terakhir kali menyelenggarakan Urak Balabek 18 tahun silam. Banyaknya kendala membuat acara ini lama sekali tidak diselenggarakan kendati tidak ada batasan waktu ideal penyelenggaraan Urak Balabek.

Urak Balabek diadakan lagi setelah Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang memfasilitasi penyelenggaraan Urak Balabek. Acara itu sekaligus menjadi penutup Festival Adat dan Budaya Anak Nagari Pauh IX, yang dimulai tanggal 16 Juli hingga 20 Juli 2008.

Sejak Sabtu (19/7) malam, masyarakat sudah berduyun-duyun memadati halaman BPSNT untuk menyaksikan acara itu. Sebagian dari mereka adalah masyarakat setempat yang belum pernah menyaksikan upacara tradisi yang lahir dari lingkungan mereka.

”Saya baru sekali ini melihat Urak Balabek. Dulu, terakhir kali diadakan sebelum sekarang ini, saya masih berumur 18 tahun dan tidak terlalu peduli dengan Urak Balabek,” tutur Salmi (36), warga setempat.

Dia mengaku tertarik sekali mengikuti penobatan guru tuo silek, yang nantinya akan menjadi tokoh masyarakat setempat.

Pengakuan masyarakat

Malam itu, 80 pria dewasa yang sudah menikah diangkat menjadi guru tuo silek. Maklum, sudah 18 tahun berselang sehingga calon guru yang akan diangkat malam itu juga menumpuk.

Dalam upacara adat itu, para guru tuo diakui oleh masyarakat menjadi tokoh dan menggantikan guru tuo sebelumnya yang hampir semuanya sudah berusia tua.

Sedikitnya ada dua syarat yang harus dipenuhi untuk bisa diangkat menjadi guru tuo, yakni mereka pernah belajar dari para guru sebelumnya serta sudah menikah. Setelah kedua syarat itu terpenuhi, barulah mereka bisa dikatakan sah untuk dicalonkan sebagai guru tuo.

Guru tuo yang baru diangkat juga harus mendapat pengakuan dari masyarakat setempat, terutama dari sasaran tempat mereka berada dan berlatih silat. Sasaran ini semacam kelompok masyarakat di dalam nagari Pauh IX.

Kendati disebut guru tuo silek, para guru tidak melulu berkiprah di dunia silat. Mereka juga tetap dilibatkan dalam pelbagai urusan kemasyarakatan, termasuk menyelesaikan persoalan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat.

Untuk bisa meraih pengakuan masyarakat, diselenggarakan upacara pengangkatan besar. Setelah pemotongan kerbau empat hari silam, upacara pengangkatan guru tuo dilakukan secara meriah sejak Sabtu malam hingga pagi keesokan hari.

”Penyelenggaraan rangkaian upacara pengangkatan guru tuo membutuhkan dana tidak kurang dari Rp 15 juta. Biaya ini tidak sedikit,” kata Nurmatyas, Kepala BPSNT Padang. Biaya itu sebenarnya tidak besar untuk ukuran acara malam itu karena ada julo alias iuran sukarela untuk penyelenggaraan acara.

Persoalan biaya memang menjadi kendala pelaksanaan upacara pengangkatan guru tuo sehingga absen sampai 18 tahun. Sebenarnya tidak ada batasan waktu kapan upacara ini bisa diselenggarakan.

Selain dana, urusan lain yang menghinggapi masyarakat saat ini juga ikut membuat Urak Balabek semakin jarang ditemui. Sebut saja, aneka kebutuhan hidup masyarakat yang hampir semuanya membutuhkan uang. Di luar masalah ekonomi, rasa sosial di kalangan masyarakat yang semakin menipis ikut membuat kesatuan tujuan untuk menyelenggarakan upacara adat semakin merosot.

Akibatnya, urusan tradisi-tradisian tidak lagi jadi prioritas.

Baca Juga: Silek – Seni Beladiri Masyarakat Minangkabau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: