Pelaminan Minang Buchyar

Proklamasi Indonesia Yang Diucapkan Soekarno dan Hatta Perlu Dikumandangkan Ulang

Posted on: August 14, 2008

”Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja…”

Hanya dalam dua kalimat, Soekarno/Hatta memproklamasikan Indonesia sebagai bangsa merdeka. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno/Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia. Teks proklamasi amat singkat, padat, dan keramat.

Bahwa Soekarno/Hatta menandatangani teks Proklamasi atas nama bangsa Indonesia bukanlah kebetulan. Mereka menghayati jiwa patriotik untuk membangun Indonesia merdeka yang sejahtera. Jiwa patriotik telah berkobar jauh hari sebelum penandatanganan teks proklamasi.

Jiwa patriotik Soekarno menggema melalui pekik ”Indonesia Menggugat” dalam pleidoi di depan sidang pengadilan Hindia Belanda di Bandung sejak 18 Agustus 1930. Pidato di depan sidang kolonial Belanda itu menggetarkan dan menjadi dokumen sejarah, bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia.

Adapun Mohammad Hatta, sudah mengobarkan jiwa patriotik dan mengumandangkan cita-cita Indonesia merdeka dua tahun sebelum Soekarno. Setelah ditahan selama lima setengah bulan, Hatta diadili di pengadilan Belanda di Den Haag, 9 Maret 1928. Di depan Meja Hijau Belanda, Hatta menyuarakan pembelaannya berjudul ”Indonesia Merdeka”.

Maka, benar, jiwa patriotik Soekarno/Hatta tidak jatuh dari langit. Ia mengakar pada sejarah perjuangan. Bahkan, pada tahun 1912, sudah ada Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), Douwes Dekker, dan Dr Tjipto Mangoenkoesoema yang mendirikan Indische Partij. Program mereka amat progresif, yakni ”Hindia Merdeka, Sekarang”.

Gerak sejarah itu memuncak, 33 tahun setelah Indische Partij. ”Indonesia Merdeka!” menjadi kenyataan melalui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Reproklamasi

Kini, pada tahun 2008, kemerdekaan Indonesia sudah berumur 63 tahun. Namun, sungguhkah rakyat Indonesia sudah benar-benar merdeka?

Bangsa ini memang sudah lepas dari penindasan kolonial yang diretas melalui proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Namun, sejujurnya, hingga hari ini, kemerdekaan sejati belum dinikmati rakyat Indonesia.

Bangsa ini masih dibelenggu berbagai kekuatan neokolonial baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya global yang kian kompleks. Dengan sistem dan mekanisme yang kian canggih, bangsa ini terjebak teknokrasi global-industry dan global-business yang ujung-ujungnya mencekik leher rakyat papa miskin.

Kita kian kesulitan membedakan antara gerak pembangunan yang menguntungkan bangsa dan proses penghisapan dan penindasan terhadap petani, buruh, pegawai rendahan, dan pedagang kecil. Mereka seakan tenggelam disapu ombak kapitalisme global dan mekanisme pasar bebas yang mengabaikan kepekaan nurani terhadap rakyat miskin.

Buktinya, sumber daya alam negeri ini dikuras dan disedot habis-habisan, tetapi tak juga membuat rakyat sejahtera. Pemerataan keadilan dan kesejahteraan masih jauh dari harapan.

Bangsa ini kian merana oleh bentuk feodalisme pribumi yang memperbodoh, membelenggu, dan melayukan hidup wong cilik. Rakyat diperbudak oleh kinerja pemerintahan yang menjerumuskan rakyat ke kubang mentalitas jongos dan kuli!

Mengembangkan teks

Wajah Indonesia merdeka bahkan kian bopeng oleh penyelenggaraan kekuasaan yang korup, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.

Karena itu, diperlukan sebuah reproklamasi Indonesia! Fokus reproklamasi adalah mengembangkan rumusan teks proklamasi yang ditandatangani Soekarno/Hatta dengan mengisi frase ”dan lain-lain” sesuai konteks kebutuhan rakyat Indonesia kini-sini.

Teks reproklamasi pun dapat dirumuskan demikian: ”Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan ”dan lain-lain”, yakni ”pemberantasan korupsi dan memberikan hukuman maksimal kepada koruptor; mengatasi kemiskinan dan pengangguran; menyejahterakan rakyat dengan tidak menaikkan harga BBM; membuat rakyat memiliki daya beli sembako; menyelenggarakan pendidikan-pengobatan gratis untuk rakyat miskin; mengatasi lumpuh layu, problem nasi aking, kekeringan, kebanjiran, lumpur panas; mengantisipasi setiap aksi kekerasan yang membahayakan keutuhan bangsa; menghormati pluralisme serta minoritas dan semua perkara yang menelantarkan rakyat miskin di republik ini”, akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Siapa pun boleh menandatangani teks reproklamasi itu atas nama bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak dilarang membacakan teks reproklamasi itu dalam tirakatan atau renungan menyambut Kemerdekaan 17 Agustus 2008.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan; Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: