Pelaminan Minang Buchyar

Profesor Ikan Bilih dari Danau Singkarak Minangkabau

Posted on: August 15, 2008

Bila Anda berjalan-jalan ke selingkar Danau Singkarak, Sumatera Barat, jangan lupa mencicipi lezatnya ikan bilih berukuran 6-12 sentimeter. Kendati kecil, ikan endemik danau ini telah membesarkan nama Hafrijal Syandri di dunia akademisi perikanan, bahkan membawanya meraih gelar ”Profesor Bilih”.

Dia dengan lancar bertutur berbagai hal tentang ikan bilih atau ikan bako, alias Mystacoleucus padangensis. Salah satunya tentang perdagangan ikan bilih yang luar biasa.

”Tahun 2000, saya meneliti ada dua ton ikan bilih yang diangkut dari dalam danau, setiap hari,” tutur Hafrijal yang diangkat sebagai guru besar di Universitas Bung Hatta, Padang, pada 2008. Ia juga menjadi profesor pertama yang menggeluti ikan bilih.

Sejak dulu, ikan air tawar yang hanya ada di Danau Singkarak ini banyak diburu dan digemari orang. Bila digoreng, rasa gurih dan nikmat daging ikan ini akan menggoyang lidah. Selain itu, penelitian Hafrijal juga menemukan sejumlah kandungan gizi ikan ini, seperti protein, lemak, dan kalsium.

Masyarakat setempat pun memanfaatkan peluang bisnis itu. Penelusuran Hafrijal menemukan, dari segi harga, bisnis ikan bilih memang menjanjikan. Satu kilogram ikan bilih di tingkat pencari ikan harganya mencapai Rp 10.000. Artinya, sekitar Rp 20 juta berputar di selingkar Danau Singkarak setiap hari.

Tahun 1998, Hafrijal mendapati perburuan ikan bilih menggunakan 324 buah jaring insang, alat penangkap ikan yang paling mengancam kelestarian ikan bilih. Setelah tiga tahun berselang, jumlah jaring insang sudah mencapai 894 buah.

”Sampai tahun 2008, kecenderungan jumlah penggunaan alat penangkap ikan itu masih secara linear bergerak naik,” ucap Hafrijal, pengajar di Universitas Bung Hatta.

Dia mencatat, 1.135 keluarga di selingkar danau itu yang menggantungkan kehidupan ekonomi dari ikan bilih pada tahun 2001, dengan pendapatan Rp 40.000 hingga Rp 100.000 per keluarga setiap hari. Suatu angka yang luar biasa, sekaligus memusingkan bila mengingat pelestarian ikan ini.

Tanpa upaya khusus untuk mengembangkan ikan bilih, bukan tak mungkin suatu saat ikan ini akan punah. Apalagi warga semakin giat berupaya mendapatkan ikan yang lebih banyak, antara lain dengan mengecilkan mata kail sehingga ikan-ikan yang masih kecil pun ikut terjaring.

Belum lagi bicara tentang telur ikan bilih yang tak sedikit terjaring alat penangkap ikan, tetapi berakhir dengan terbuang begitu saja karena sangat jarang dikonsumsi.

Penangkapan ikan bilih banyak dilakukan di muara sungai yang berujung di Singkarak, seperti di Sungai Sumpur, Sungai Paninggahan, Sungai Baing, Sungai Saniang Baka, dan Sungai Muaro Pingai.

Di muara sungai inilah induk- induk bilih melakukan pemijahan alias mengeluarkan telur untuk dibuahi. Dalam satu malam, ada ribuan telur yang dikeluarkan. Seharusnya, telur-telur ini ikut dihanyutkan arus sungai ke danau. Telur yang sudah dibuahi menetas di perairan danau 20 jam kemudian. Ikan bilih tumbuh menjadi individu dewasa pada perairan danau. Penangkapan di hilir sungai sudah pasti mengganggu perkembangbiakan ikan ini.

Ancaman ikan bilih yang lain berasal dari aneka limbah yang mengalir ke Danau Singkarak. Pemakaian bahan kimia untuk pertanian serta limbah rumah tangga dan pariwisata merupakan bagian dari pencemaran air danau yang sulit dihentikan.

Belum lagi bila bicara tentang kelestarian daerah tangkapan air seluas 117.326 hektar untuk Danau Singkarak. Erosi mencapai 10.000 ton per hektar setiap tahun. Di sinilah aneka ancaman menghadang kelestarian ikan bilih.

Eks-situ, ”in”-situ

Sebagai peneliti, Hafrijal berusaha memikirkan cara mencegah kepunahan ikan bilih. Ia melakukan pengamatan dan pelbagai percobaan untuk menjamin ikan bilih, antara lain lewat pengembangbiakan ikan di dalam dan di luar danau habitat hidup ikan tersebut.

Perkembangbiakan di dalam danau (in-situ) dia lakukan dengan mengapling sebagian danau khusus sebagai tempat pengembangbiakan ikan bilih. Di sinilah dibuat suaka perikanan untuk bilih sejak 2003.

”Upaya ini harus melibatkan masyarakat agar mereka mau ikut memelihara dan tidak menangkap ikan yang sedang dikembangbiakkan di daerah konservasi,” tuturnya tentang wilayah pengembangan in-situ seluas 500-1.000 meter persegi ini.

Ia juga menggandeng berbagai pihak ikut terlibat dalam pelestarian ikan bilih, antara lain Pemerintah Kabupaten Tanah Datar yang secara administratif menjadi ”tuan rumah” Danau Singkarak dan PT PLN yang juga memanfaatkan air danau ini untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 175 megawatt.

Secara eks-situ, sejumlah ikan bilih dikembangkan di laboratorium khusus pada Pusat Konservasi Ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo, sejak 2001. Perkembangan ikan bilih dengan rekayasa berhasil dan ribuan ekor ikan dilepaskan kembali ke habitat asal.

Dalam sejumlah penelitian, Hafrijal menemukan berbagai hal mengejutkan dari ikan bilih. Limbah telur ikan bilih yang semula dicampakkan, rupanya berkandungan gizi seperti protein, lemak, kalsium, asam lemak esensial, dan vitamin yang penting untuk pertumbuhan ikan.

”Limbah ikan bilih bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuat pakan ikan. Selama ini, Indonesia mengimpor 95 persen bahan baku pakan ikan itu,” paparnya.

Limbah telur bilih yang bisa dimanfaatkan mencapai sekitar 500 kilogram per hari. Temuan ini masih terus dia kembangkan. Tepung dari telur ikan bilih rencananya menjadi tambahan pakan ikan yang dikembangkan di laboratorium.

Penelitian Hafrijal terhadap ikan bilih memang belum selesai. Kegelisahan melestarikan ikan bilih mendorong dia terus berupaya. Bila tak ada yang peduli dengan urusan pelestarian, mungkin suatu saat kita tinggal mendengar legenda ikan bilih Danau Singkarak.

Cinta sejak Usia Dini

Ketertarikan Hafrijal terhadap ikan bilih hampir sama dengan usianya. Sebagai putra daerah Tanah Datar, ia tak asing dengan Singkarak. Sejak kecil, suami dari Netti Aryani dan ayah Inayah Rahmadini ini terbiasa menikmati renyahnya ikan bilih.

”Setelah di perguruan tinggi, saya berpikir mengapa tak meneliti ikan bilih? Selain sebagai ikan endemik Singkarak, belum ada orang yang berkonsentrasi meneliti ikan bilih,” kata pria kelahiran Pangian, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, 20 Januari 1960.

Ketika mengerjakan disertasi doktor di Institut Pertanian Bogor tahun 1996, ia mulai meneliti ikan bilih. Penelitian itu berlanjut sampai sekarang. Hafrijal yang kini menjadi Wakil Rektor I Universitas Bung Hatta, antara lain, meneliti kandungan nutrisi limbah telur ikan bilih. Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar, Juli 2008, ia membahas tentang ancaman ikan bilih dan upaya pelestarian.

Sejumlah publikasi di berbagai jurnal ilmiah tentang ikan bilih ditulis Pak Jal, panggilannya di kampus. Di antaranya tentang potensi reproduksi ikan bilih, daya kelangsungan hidup telur ikan bilih dalam berbagai turbiditas, serta distribusi umur dan pertumbuhan ikan bilih.

Begitu tekunnya dia meneliti ikan bilih, membuat kolega di Universitas Bung Hatta menjulukinya sebagai ”Profesor Bilih”

6 Responses to "Profesor Ikan Bilih dari Danau Singkarak Minangkabau"

Ikan bilih? Saya pernah mencicipinya waktu saya tugas ke kota Padang Panjang sekitar tahun 2000. Rasanya gurih karena digoreng garing. Ukurannya sebesar jari telunjuk atau lebih besar lagi. Kalau di Sumatera Selatan, ikan bilih mirip dengan ikan seluang. Bisa dijadikan sebagai buah tangan. Kalau menurut saya, ikan bilih dan/atau ikan seluang yang digoreng garing, paling enak menjadi teman makan nasi panas. Dicocolkan ke sambal terasi plus kecap manis makin menambah selera makan kita. Slurrppp…

ass…wr..wb..
bapak profesor… saya dan kawan2 dsn cukup tertarik dengan bagaimana usaha bapak dalam menyelamatkan ikan bilih dan danau singkarak sendiri… kalau saya blh minta alamat email bapak mungkin kami bisa banyak bertanya lagi ke bapak..
kebetulan saya sndiri asli solok, tapi sekarang lagi bergabung dengan teman2 di jakarta dalam satu organisasi pemerhati lingkungan hidup..

Saya penggemar ikan bilih nih…td br makan…memang rasanya muantapp..bisa di beli di sekitar danau singkarak, baik yang sudah di goreng maupun yang belum. Yang sudah di goreng di jual dengan harga Rp 20.000-25.000 per kantung plastik sedang.
Tapi setelah makan, Saya berpikir…sampai kapan ikan favorit saya ini bisa di nikmati…apalagi sampai anak cucu…
Setelah ada ‘Profesor bilih’ Saya bersukur…mudah2an ada upaya kongkrit antar instansi guna mempertahankan habitat ikan bilih…

salut buat pak jal, ikan bilih memang kebanggaan tanah datar, saya suka sekali ikan bilih..

maaf pak, boleh minta alamat emailnya, saya ingin bertanya lebih dalam, soalnya saya mau mengangkat ikan bilih sebagai judul penelitian saya….
saya putra daerah dari tepi danau singkarak….
dan hidup dari ikan bilih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: