Pelaminan Minang Buchyar

Taufik Ismail Sang Penyair Kelahiran Bukit Tinggi Sumatera Barat

Posted on: August 15, 2008

Untuk merayakan kiprah Taufiq Ismail selama 55 tahun dalam sastra Indonesia, diterbitkan kumpulan karyanya berjudul Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit setebal 2.996 halaman, dibagi ke dalam empat jilid. Tiga di antaranya bersampul tebal dengan jaket. Taufiq Ismail yang pada masa mudanya aktif menulis di majalah Sastra dengan memakai nama Taufiq AG Ismail itu telah menulis bukan saja puisi, tetapi prosa berupa cerpen, catatan kebudayaan, dan kolom, serta menerjemahkan serta menulis lirik lagu.

Yang mengganggu perhatian saya pertama kali adalah judul kumpulan karya itu: menggapai ke langit. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia lema gapai dijelaskan sebagai verba. Menggapai: mengulurkan tangan hendak mencapai (anak itu berusaha menggapai meja dengan tangan kirinya); dan kata kiasan meraih, menyampaikan maksud (berkali-kali gagal tidaklah mematahkan semangatnya menggapai cita-citanya).

Dari contoh itu kita bisa menangkap struktur kalimatnya: subyek+verba+obyek. Judul buku Taufiq memakai preposisi ke, yang tak dapat saya temukan dalam contoh yang diberikan dalam KBBI. Memang dalam bahasa Inggris kata menggapai dapat diekspresikan menjadi reach out for plus obyek, jadi memakai preposisi, sedangkan kata reach tanpa preposisi bermakna ’sampai’ atau ’mencapai’. He eventually reached London ’akhirnya ia sampai di London’. Preposisi ke mensyaratkan obyek sebagai tujuan yang akan dicapai.

Apakah pemakaian preposisi ke ini merupakan interferensi dari bahasa Inggris? Mungkin saja. Kita tahu Taufiq Ismail saat masih duduk di bangku SMA berkesempatan mengikuti program AFS dan tinggal di AS selama setahun. Ia juga sering berkunjung ke negeri-negeri yang menggunakan bahasa Inggris di samping ke negeri lain di pelosok dunia.

Kata mengakar dijelaskan oleh KBBI sebagai: menjadi akar, menyerupai akar, dan mendalam atau menyatu benar di hati. Mengakar ke bumi bisa bermakna ’menjadi akar ke dalam bumi (tanah) dan kemudian mengisap sari makanan dari dalam tanah untuk mengukuhkan batang yang menggapai langit’. Mungkin lebih tepat mengakar di bumi karena bumi bukan tujuan, tetapi tempat akar bertumbuh.

Dibandingkan dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia lebih ”hemat” dan ini menjadi sebab kesulitan berbahasa Inggris. Kita hanya mengenal menebang pohon, mengambil batu, misalnya, yang di dalam bahasa Inggris harus dikatakan sebagai cut a tree down dan pick up a stone. Di kelas siswa boleh jadi menghadapi dua lembar kertas ujian, yang selembar dalam bahasa Indonesia dan yang selembar lagi dalam bahasa Inggris. Perintahnya yang sebuah berbunyi: ”Isilah titik-titik di bawah ini…”. Yang satunya berbunyi ”Fill in the blanks…”. Tidak perlu preposisi di dalam bahasa Indonesia!

Sunaryono Basuki Ks Sastrawan, Tinggal di Singaraja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: