Pelaminan Minang Buchyar

Rawan Pangan Ancam Masyarakat Mentawai Di Sumatera Barat

Posted on: September 5, 2008

Kerawanan pangan mengancam masa depan masyarakat di Mentawai yang menempati Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kerawanan itu terjadi bila kebanggaan atas pangan lokal, berupa sagu, tidak muncul dalam diri masyarakat.

Aldes Fitriadi, staf LSM Yayasan Citra Mandiri (YCM), Kamis (4/9), mengatakan, pergeseran pandangan di kalangan masyarakat Mentawai yang tinggal di Siberut antara lain terlihat dari berkurangnya penghargaan mereka akan tanaman sagu. Padahal, sagu merupakan makanan pokok masyarakat Mentawai di Siberut.

”Kurang penghargaan atas tanaman sagu terwujud dari mudahnya masyarakat melepas tanah yang ditanami pohon sagu hanya demi mendapatkan uang cepat. Untuk saat ini, memang tidak ada kerawanan pangan karena tanaman sagu masih banyak di Siberut. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, ancaman kerawanan pangan akan ada bila pandangan masyarakat tidak berubah,” tutur dia.

Aldes mencontohkan pesatnya peralihan lahan sagu di satu ruas jalan di Desa Maileppet. Tiga tahun silam, sepanjang 800 meter di tepi jalan digunakan untuk menanam sagu. Kini, lahan sagu tinggal 200 meter saja. Sisanya sudah dikonversi menjadi perkebunan kakao dan permukiman penduduk.

Masyarakat Mentawai mulai berpikir ekonomis dengan menanam kakao. Hasil penjualan kakao itu bisa digunakan untuk membeli sagu serta aneka kebutuhan hidup sehari-hari.

Rus Saleleubaja, salah satu warga Siberut, mengakui adanya praktik jual-beli lahan sagu di Siberut. ”Delapan tahun silam, satu meter lahan sagu hanya dihargai Rp 20.000,” tutur Rus.

Penjualan lahan sagu dilakukan oleh keluarga di Siberut karena berbagai alasan, termasuk pembiayaan sekolah anak-anak. Sejauh ini, larangan memperjualbelikan lahan sagu hanya dilakukan dalam lingkup keluarga.

Selain urusan ekonomi, Aldes mengatakan sagu juga mulai dicitrakan sebagai bahan pangan yang tidak seeksklusif bahan pangan lain, seperti nasi. Kondisi ini turut membuat sebagian masyarakat mulai melirik ke nasi sebagai bahan pangan pokok.

Sementara itu, beras tidak diproduksi di Siberut. Produksi beras yang sempat dipaksakan oleh Orde Baru pada tahun 1980-an tidak berhasil lantaran perbedaan kebiasaan bertani masyarakat Siberut.

Beras yang diperdagangkan di Siberut harus didatangkan dari Padang. Bila cuaca buruk yang mengganggu transportasi, pasokan beras ke Siberut sulit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: