Pelaminan Minang Buchyar

Songket Minangkabau Mengalami Krisis Penenun

Posted on: October 14, 2008

Keterampilan membuat songket yang merata di kalangan penduduk nyaris tidak terdapat di daerah lain. Di Sumatera Barat, misalnya, regenerasi penenun kain songket tidak ada sampai sekarang. Anak-anak dan generasi mudanya tak lagi tertarik meneruskan keterampilan menenun, membuat kain songket. ”Akibatnya, kini di sentra-sentra produksi songket terjadi krisis penenun,” kata Nina Rianti Alda, pemilik Rumah Songket di Bukittinggi.

Nina yang khusus merevitalisasi songket lama Minangkabau juga kehilangan penenun andalnya yang telah ia bina sejak awal sehingga rencana pameran di Bentara Budaya Jakarta tahun 2008 ini ditunda tahun 2009.

Melestarikan Songket Sejak SD

Ketika anak-anak perempuan usia SD dan SMP di daerah lain masih asyik bermain kucing-kucingan atau merengek minta jajan ke orangtuanya, tak demikian dengan anak-anak di Desa Limbangjaya, Tanjungpinang, Tanjunglaut, dan Desa Tanjungdayang, Kabupaten Ogan Ilir, sekitar 55 kilometer selatan Kota Palembang.

Petang itu ada pemandangan yang tak biasa, tapi boleh dikata luar biasa. Banyak anak perempuan dengan telepon seluler digantung di leher tengah tekun memerhatikan kakak dan orangtuanya menenun, membuat kain songket Palembang. Ada juga, satu-dua anak yang terlihat membuat songket di bawah rumah panggung mereka.

Sembari duduk berselonjor, dengan lincah anak-anak itu memasangkan belasan lidi-lidi, memasukkan benang emas, menggerakkan kaki, dan kemudian kedua tangannya menarik bagian untuk merapatkan benang-benang itu.

Agar benang tetap tegang, ada kayu tumpuan yang terpasang di bagian pantat. Kayu tumpuan di pantat itu ditempeli bantal agar terasa nyaman.

”Sederhana alatnya, terlihat rumit nyukit-nya (motif songketnya), tapi pacak (bisa) tercipta kain tenunan songket Palembang,” kata Yeni Yunita, pelajar kelas I SMP, dengan bangga, Sabtu pekan lalu.

Yunita mengaku sudah bisa membuat songket sejak kelas V sekolah dasar. Sepulang sekolah atau hari libur, ia gunakan untuk membuat songket. Yunita hanya menerima upah dari membuat songket itu. ”Seminggu bisa selesai satu songket lengkap dengan selendangnya. Upah yang didapat Rp 160.000, dengan rincian upah sarung Rp 100.000 dan selendang Rp 60.000,” ujarnya.

Dengan keterampilannya sebagai penenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) itu, dalam sebulan Yeni Yunita sudah punya penghasilan sendiri sebesar Rp 640.000. Uang itu, menurut dia, sebagian ditabung dan sebagian digunakan untuk keperluan sekolah serta membeli pulsa telepon seluler.

Tidak banyak yang tahu, bagaimana warisan budaya songket Palembang bisa tumbuh berkembang dan dikenal luas seperti sekarang. Secara geografis, Palembang mungkin bagian kecil saja dari peta produsen songket. Sebab, ternyata, daerah yang banyak memproduksi songket di Sumatera Selatan adalah Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir.

Pantauan Kompas di empat desa yang bertetangga itu, hampir setiap keluarga, khususnya perempuan, pekerjaan sehari-harinya adalah menenun. Adapun kaum lelaki umumnya bekerja sebagai pandai besi. Keterampilan menenun dengan ATBM itu merupakan warisan turun-temurun, yang entah sejak tahun kapan awalnya.

”Sekarang, setiap keluarga dengan anak-anaknya bisa menenun. Semua berjalan alami,” kata Cik Ima (43), warga Desa Limbangjaya.

Cik Ima sendiri punya anak yang sejak usia kelas IV SD sudah bisa menenun. Begitu juga Dauda (37), anak gadi snya Ika, kini kelas III SMA, juga terampil menenun sejak SD. Sampai sekarang Ika di sela-sela waktu luangnya masih menenun.

”Tidak ada paksaan orangtua. Hanya karena keinginan sendiri. Awalnya melihat-lihat, lalu coba-coba, dan akhirnya bisa,” kata Ika.

Laris

Selama bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri, para penenun di Desa Limbangjaya, Tanjungpinang, Tanjunglaut, dan Tanjung Dayang di Kecamatan Tanjung Batu kebanjiran pesanan songket Palembang.

Harga songket bergantung pada jenis benang dan halus-kasarnya motif. ”Kalau benang emasnya jenis kristal dengan motif yang halus dan bahan dari sutra, harga jualnya bisa lebih dari Rp 1 juta,” kata Cik Ima.

Seorang pedagang pengumpul yang memiliki sejumlah perajin songket di Desa Tanjungpinang, Hajjah Laila (51), mengaku, pasar kain songket Palembang produksi Kecamatan Tanjungbatu laris manis. Hampir tak ada barang yang bersisa di rumahnya.

Ia pun sejak puluhan tahun lalu telah menciptakan puluhan motif songket Palembang, yaitu motif pulir, puncak rebung, Nago Besawung, dan banyak motif lainnya.

Sembari menunjukkan sejumlah buku tua dan lusuh berisikan desain motif ciptaannya, Laila yang tak tamat SD ini tak terlalu mempersoalkan desain kain songketnya ditiru atau diambil orang lain. ”Motif-motif kain songket yang saya desain sejak puluhan tahun lalu tidak pernah saya patenkan. Kalau ada yang meniru tak masalah, masyarakat tahu dan dengan beberapa buku berisi desain ini, cukup jadi bukti desain sejumlah motif songket Palembang saya yang menciptakan,” ungkapnya.

Sebagai ahli membuat motif atau nyukit, Hajjah Laila menarik upah Rp 350.000 untuk satu motif songket. Penenun tinggal menenun, sedangkan benang dengan motif yang diinginkan sudah terpasang.

Hanya ada lima pembuat motif songket di Kecamatan Tanjungbatu tersebut, Hajjah Laila yang tertua. Artinya, regenerasi untuk membuat motif ini juga berjalan alami. Karena rumit, tidak banyak orang yang tertarik mendalami desain songket Palembang. ”Karena untuk ini dituntut jiwa seni dan kreativitas yang tinggi,” kata Laila.

Camat Tanjungbatu Ansori tak tahu pasti berapa jumlah warga yang menjadi penenun songket di empat desa wilayahnya. Namun, ia mengatakan bahwa sekitar 90 persen kaum perempuan di empat desa sentra songket itu menekuni pekerjaan sebagai penenun.

Tak ada galeri

Sebagai sentra produksi songket Palembang, Kecamatan Tanjungbatu belum punya toko atau galeri songket. Ini mungkin disebabkan hampir tak ada barang produksi yang bersisa.

Menurut Hendra Marta, tokoh pemuda Tanjungbatu, kalau Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir peduli, desa-desa sentra produksi songket Palembang itu bisa dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik. Tanjungbatu akan lebih dikenal secara nasional sebagai sentra produksi songket Palembang.

”Wisatawan selain bisa melihat langsung proses membuat songket tersebut, juga bisa langsung membelinya di galeri atau di toko yang khusus menjual hasil produksi. Dengan melihat langsung prosesnya, kekaguman akan muncul sehingga wisatawan bisa memberikan penghargaan yang layak untuk songket yang dibelinya,” ungkapnya.

Akibat tak ada galeri, yang menikmati untung besar adalah pemilik galeri di Kota Palembang dan kota-kota lainnya yang menjual songket.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: