Pelaminan Minang Buchyar

Indonesia Merupakan Sumber Inspirasi Terbesar Dalam Bazaar Fashion Concerto 2008

Posted on: October 26, 2008

Indonesia ternyata merupakan gudang inspirasi luar biasa, meskipun bagaimana mewujudkannya merupakan proses yang harus dikerjakan hati-hati supaya tidak terpeleset menjadi klise.

Dalam Bazaar Fashion Concerto 2008 bertema Tanah Air yang disponsori BRI Platinum di Balai Sidang Jakarta, Kamis (23/10), kekayaan Indonesia itu diwujudkan dengan cara yang beragam.

Perancang busana Didi Budiardjo menggarap tenun dari Sumba, ikat dari Kalimantan, renda dari Minangkabau yang terkenal di Nusantara, tusuk silang dari Sumatera Utara, batik motif mega mendung, dan manik-manik yang biasa dikenakan masyarakat Dayak Iban dan Kenyah ke dalam bentuk modern.

Didi tidak takut memadu padan tenun dengan ikat dan manik-manik dalam motif yang masih dapat dikenali berasal dari Kalimantan. Dengan baju yang rata-rata mencapai lutut, Didi menggunakan cara bungkus, lipit halus dan besar seperti akordeon. Jaket pendeknya bergaya kimono atau berpotongan seperti cape pendek.

Adrian Gan memilih garis yang bersih, dan kain yang nyaris tanpa motif. Keindonesiaan dia wujudkan melalui struktur busananya yang mengambil bentuk kendi atau rumah gadang ala Minangkabau Sumatera Barat.

Semua muncul dalam tampilan yang keseluruhannya memberi kesan bersih, minimalis, tetapi memperlihatkan detail yang kaya.

Detail itu muncul dalam garis busana yang membulat di pinggul dan amat ramping di pinggang, seperti bentuk tubuh tawon. Detail lain hadir dalam lipatan-lipatan di bagian pinggul yang memberi efek seperti kelopak bunga. Bagian pundak juga menjadi garapan Adrian untuk mengekspresikan bentuk-bentuk arsitektur rumah gadang khas Minangkabau.

Perancang perhiasan Rinaldy A Yunardi dengan tema Cakra Manggilingan menggambarkan siklus kehidupan manusia melalui rangkaian karya yang lebih mirip instalasi.

Karya ini jauh berbeda dari citra perancang ini yang merancang perhiasan untuk melengkapi penampilan perempuan dalam keseharian mereka.

Untuk itu, Rinaldy menggunakan bulu burung merak yang dirangkai seperti rias pemain reog. Dia juga menggunakan cemara, yaitu rambut yang dirangkai menjadi satu ikatan memanjang dan dulu biasa dipakai menambah rambut asli perempuan yang mengonde rambutnya. Pada bagian yang lain dia menampilkan lampu gantung (chandelier) yang menurut dia inspirasinya dari topi laki-laki Nias.

”Saya melakukan eksperimen material untuk karya saya ini,” kata Rinaldy. ”Saya menggunakan bentuk-bentuk yang kelihatan besar karena karya ini harus terlihat dari jauh sebagai karya yang berdiri sendiri, bukan pendukung busana.”

Ada karyanya yang menarik, seperti topi bulu burung merak yang tampak megah dan indah. Juga ketika dia membuat siluet kupu-kupu yang bergoyang-goyang seperti terbang di dalam ”topi” dari fiber glass transparan dan diberi pencahayaan temaram.

Sementara itu, chandelier-nya tampak berlebihan dan leak Bali yang dia buat dari cemara berwarna abu-abu atau penggunaan ranting tanaman kurang menampilkan unsur perhiasan.

Sementara Norman Ang dari Singapura menampilkan rangkaian batuan berharga, antara lain mutiara, dalam karyanya yang klasik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: