Pelaminan Minang Buchyar

Kekayaan Botani Untuk Obat Di Pulau Mentawai Sumatera Barat

Posted on: November 1, 2008

Sambil bersenandung lirih, Rakkut Sakukuret, 85 tahun, dengan hati-hati memetik beberapa jenis tanaman. Ia memasukkannya ke tas yang terbuat dari pelepah kayu. Aneka tumbuhan dan rimpang dari hutan Siberut, Kepulauan Mentawai, itu akan digunakan untuk mengobati penyakit kulit gatal-gatal seorang pemuda di kampungnya.

Rakkut hanya memakai celana pendek, tanpa baju, dengan penutup kepala dari manik-manik dan daun-daunan serta bunga, serta kalung dan gelang manik-manik yang didominasi warna merah pakaian khas sikerei, sebutan khas untuk tabib oleh masyarakat setempat. Sekujur tubuhnya berhias tato tradisional Mentawai yang indah.

Tenaganya sangat dibutuhkan dalam mengobati berbagai macam penyakit, seperti demam, hingga menghentikan perdarahan wanita yang baru melahirkan. Semua cukup dengan tumbuhan obat. “Semua orang yang sakit di kampung ini minta pertolongan kepada saya,” katanya kepada Tempo. Orang-orang yang datang kepadanya bukan hanya yang mengeluh tentang kondisi tubuh mereka. “Ada juga yang terkena roh jahat,” ujar sikerei yang mengabdikan dirinya sejak usia remaja ini.

Hutan di pinggir Desa Muntei adalah laboratorium hidup tempat Rakkut mulai membuat ramuannya. Ia menebas pelepah daun sagu tua yang berduri, lalu membersihkannya dari daun. Pelepah itu dipotong dan jadilah semacam parutan dari duri pelepah. Lalu sikerei ini mulai memarut jahe hutan, yang baunya mirip temu lawak, dan beberapa daun lagi yang sebelumnya sudah diiris kecil-kecil. Aromanya terasa segar.

“Ini untuk digosokkan ke kulit yang gatal-gatal,” kata Rakkut sembari menunjukkan hasil ramuan. “Nanti gatalnya akan hilang dengan cepat,” katanya. Karena gatal-gatal itu termasuk sakit ringan, ramuan obat itu langsung diberikan tanpa ritual tertentu.

Biasanya, untuk sakit yang lebih parah seperti demam, Rakkut akan mengadakan ritual lebih dulu sebelum memberikan obat kepada sang pasien. Biasanya di tengah malam, diiringi denting lonceng yang ia bunyikan, lelaki gaek itu akan merapalkan doa-doa. “Kadang-kadang juga diadakan tarian sikerei untuk mengusir roh-roh pengganggu,” katanya.

Umumnya masyarakat tradisional Siberut hidup sederhana di kampung-kampung di tengah hutan atau di hulu-hulu sungai dalam rumah adat yang dinamakan uma. Mereka sangat menjaga keseimbangan dengan alam. Penjagaan keseimbangan dengan alam itu didasarkan pada kepercayaan mereka terhadap kekuatan daun-daun, yang dikenal sebagai kepercayaan Arat Sabulungan.

Dalam konsep Arat Sabulungan, alam dikuasai oleh roh-roh pelindung yang melindungi mereka dari berbagai macam bencana alam. Roh pulalah yang menghukum mereka jika melanggar pantangan atau berbuat kesalahan. Karena itu, orang Mentawai dikenal sering melakukan upacara ritual untuk melindungi mereka dari bencana. Untuk menghubungkan mereka dengan dunia roh inilah peran seorang sikerei dibutuhkan. Sebagian besar masyarakat Pulau Siberut masih mengandalkan tenaga sikerei dibanding pengobatan modern yang ditawarkan melalui puskesmas.

Para sikerei menguasai pengetahuan tentang tumbuhan obat yang beragam. Mulai ramuan untuk penyakit ringan, seperti sakit kepala dan flu, hingga penyakit berat, seperti dipatuk ular, luka bacokan, penyakit kulit, menghentikan perdarahan ibu melahirkan, dan malaria. Bahkan mereka juga memiliki ramuan khusus yang bisa digunakan mencegah kehamilan. Selain itu, atas jasanya, sikerei tidak memungut bayaran. Jadi? “Biasanya, seusai mengobati, sikerei akan diberi imbalan berupa ayam atau rokok,” ujar Rakkut.

Ihwal kekayaan khazanah pengetahuan tanaman obat masyarakat Mentawai setidaknya telah dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Studi Tumbuhan Obat (PSTO) Universitas Andalas, Padang, sekitar 8 tahun silam. Bekerja sama dengan Taman Nasional Siberut, pada Oktober 2000 PSTO melakukan penelitian di Rokdok, sebuah dusun di Siberut Selatan yang terletak di kawasan penyangga Taman Nasional Siberut. “Bersama sikerei, kami berhasil mengumpulkan 209 spesies tumbuhan obat yang digunakan sehari-hari oleh para sikerei. Dari 209 spesies itu, 154 tumbuhan diketahui jenisnya, yaitu tergabung dalam 53 famili. Yang juga tak kalah menarik adalah bahwa 85 persen atau 176 spesies koleksi tumbuhan itu diketahui khasiat dan penggunaannya secara tradisional oleh sikerei,” kata Dr Amri Bakhtiar, penanggung jawab penelitian.

Penyakit terbanyak yang bisa diobati adalah sakit perut, batuk, dan berbagai “penyakit perempuan”. Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah Rubiaceae (20 jenis), Zingiberaceae (19 jenis), dan Euphorbiaceae (14 jenis).

Jenis-jenis tumbuhan itu ada yang digunakan secara tunggal, namun yang terbanyak berupa ramuan beberapa jenis tumbuhan dan kadang-kadang dicampur dengan bahan lain. Amri mengakui kekayaan tumbuhan obat alam Pulau Siberut masih sangat banyak, dan cukup banyak pula yang belum sempat diteliti. Salah satu kesulitan untuk mengetahui hal ini tecermin lewat jawaban Rakkut Sakukuret. “Adalah tabu bagi seorang sikerei memberitahukan ramuan obat yang mereka miliki kepada orang lain yang bukan sikerei,” katanya tegas.

Hutan yang Terancam Punah

Bak manisnya gula yang menarik perhatian banyak semut, kekayaan hutan Pulau Siberut juga diperebutkan oleh para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) yang agresif. Pada Juni 2001, misalnya, di Siberut telah beroperasi HPH Koperasi Andalas Madani (KAM) milik Universitas Andalas, Padang, yang mengeksploitasi hutan alam itu atas kepemilikan HPH seluas 49.650 hektare. Baru tahun ini Universitas Andalas menutup HPH yang mereka miliki di Siberut.

Namun, ini tidak berarti tak ada lagi kegiatan di sana, karena mundurnya KAM dilanjutkan dengan beroperasinya HPH baru, yaitu HPH Salaki Suma Sejahtera yang mendapat jatah lahan seluas 49.440 hektare. HPH ini bisa mengancam tumbuhan obat di kawasan Pulau Siberut yang luas totalnya mencapai 403 ribu hektare.

Padahal hutan bagi seorang sikerei hanya berarti satu hal: hidup sendiri. “Jika hutan kami habis ditebangi, berarti kami mati,” kata Rakkut Sakukuret. Akibat lainnya juga bermunculan. Untuk mencari tumbuhan obat dari sejenis pohon tertentu, yang dulu sangat mudah ditemukan, ia harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer ke tengah hutan.

Selain itu, hingga kini para sikerei masih mengandalkan tumbuhan obat mereka di hutan alam di dekat dusun mereka, dan belum memiliki tradisi membudidayakan jenis-jenis pohon tertentu. Karena itu, ancaman kepunahan hutan melalui izin penebangan yang dikeluarkan pemerintah dipastikan akan lebih cepat dari upaya mengumpulkan pengetahuan kekayaan biodiversitas di Pulau Siberut itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: