Pelaminan Minang Buchyar

Kreativitas Pengusaha Muda Minang Dalam Merebut Pasar Dikala Krisis Ekonomi

Posted on: November 11, 2008

Saat para ekonom menghitung seberapa anjlok pertumbuhan ekonomi global, ternyata ada pengusaha-pengusaha muda, pendatang baru di dunia bisnis, yang tetap bergairah merebut peluang pasar ekspor.

Akhmad Kurnia Rivai (34) dan Dwi Anita Wijaya (42) adalah sebagian dari kalangan pengusaha yang membuktikan bahwa peluang tetap bisa direbut meski pasar lesu karena krisis.

Pada Trade Expo Indonesia 21-25 Oktober 2008 di Jakarta, Akhmad meluncurkan produk aksesori rumah tangga dari bahan alami asli Indonesia yang belum pernah diolah untuk pasar internasional, yakni daun pandan sumatera.

Belum dilakukan promosi serius dalam tahap soft launching, tetapi produk ini telah menggaet pembeli dari Perancis, Panama, Finlandia, Cile, Argentina, dan Kolombia. Pembelian langsung di tempat pameran itu mencapai Rp 250 juta. Nilai yang tidak kecil untuk produk aksesori rumah tangga.

Selain pembelian langsung, sejumlah perusahaan multinasional kini meminta sampel produk. Beberapa di antaranya sedang melakukan uji laboratorium atas kadar keramahan lingkungan produk ini.

Bukan sekadar bahannya yang alami, pengolahan bahan, dan pewarnaannya pun mesti teruji ramah lingkungan. Terkait pengemasan, diuji pula bahwa produk ini tidak akan rusak dalam proses pengiriman.

”Di tengah krisis, respons pasar seperti ini sungguh awal yang bagus,” ujar Akhmad.

Berbeda dengan daun pandan yang biasa ditemukan di Pulau Jawa, pandan sumatera bertekstur lebih lembut, lebih kuat, dan lentur sehingga bisa diolah seperti kain. Daun yang tinggi pohonnya bisa mencapai 6 meter ini antara lain dianyam menjadi sarung bantal dan alas makan.

”Diremas-remas pun sarung bantal dari anyaman pandan sumatera ini bisa langsung halus lagi,” ujar Akhmad.

Bukan hanya desain

Akhmad berdarah asli Sumatera Barat, tetapi besar di Jakarta. Ia menamatkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan studi pascasarjana bidang bisnis di University of New South Wales, Sydney, Australia.

Minat yang sangat kuat pada desain interior membuat ia memilih bekerja di perusahaan desain interior di Yogyakarta dan Sydney sambil menempuh studi ketimbang jadi diplomat. Kenyamanan bekerja di beberapa perusahaan asing tak menahan hasrat Akhmad mengembangkan perusahaannya sendiri, Siji, pada awal 2007.

Siji mengkhususkan diri mengolah serat alam, seperti mendong dan eceng gondok dengan desain kontemporer. Melihat keunggulan itu, Departemen Perindustrian menawarkan kepada Akhmad untuk menggarap pandan sumatera yang sudah nyaris ditinggalkan perajin. Tawaran itu disambut Akhmad. Ia pun pulang ke Solok, kampung kelahiran orangtuanya.

Pengalaman mengajari Akhmad bahwa keunggulan desain tidak cukup untuk membuat produk kerajinan mampu bersaing di pasar ekspor. ”Desain yang bagus dengan harga jual tinggi justru membuat produk saya dikopi produsen dari negara lain,” ujarnya.

”Resep” Akhmad untuk menekan biaya produksi dan harga jual, menjaga mutu, sekaligus meningkatkan penghasilan perajin, ialah pola bagi hasil.

Laba penjualan perdana suatu produk, misalnya, disepakati dibagi sama besar untuk Akhmad yang mendesain dan memasarkan, serta perajin. Jika pembeli yang sama kembali memesan (repeat order) untuk kedua kali, 60 persen laba untuk perajin.

Pada pemesanan ketiga dan seterusnya oleh pembeli yang sama, perajin mendapat bagian 70 persen keuntungan. Pola ini membuat perajin lebih termotivasi menjaga kualitas produk.

Di tengah krisis global, Dwi Anita juga membuat terobosan untuk menembus pasar ekspor. Produk mebel yang ia desain lolos seleksi untuk berpameran di Meuble du Paris 2009 di Perancis. Bersama Maison et Objet, pameran ini menjadi rujukan tren dunia untuk furnitur dan aksesori rumah tangga.

Beberapa tahun terakhir, Badan Pengembangan Ekspor Nasional berusaha mendorong produsen furnitur mengajukan desain produk mereka kepada panitia seleksi Meuble du Paris dan Maison et Objet. Baru pada pelaksanaan Januari 2009, sebanyak 4 perusahaan lolos mewakili produk furnitur Indonesia.

Dwi Anita menamatkan pendidikan bisnis di Amerika Serikat. Ia pernah bekerja di perusahaan keuangan internasional sebelum beralih membangun usaha mebel sendiri, Jaya Prima Mandiri, pada 2003. Pelan-pelan ia belajar mendesain sendiri produk-produknya yang sampai kini dikhususkan untuk ekspor.

Oktober 2008, saat krisis membuat importir AS mulai menunda pembelian, Dwi Anita justru menemukan pasar baru, seperti Lebanon, Ukraina, Maroko, Brasil, dan Uni Emirat Arab. Sebelumnya ia mengekspor ke negara-negara yang memang menjadi pasar tradisional produk ekspor Indonesia, yakni AS, Eropa, dan Jepang.

”Saat krisis, kekhawatiran pasti ada, tetapi peluang dan kesempatan tetap ada,” ujarnya.

Krisis merupakan isyarat, bahwa kreativitas dan semangat harus makin kuat dipacu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: