Pelaminan Minang Buchyar

Energi Hijau – Tempurung Kelapa Diolah Jadi Briket

Posted on: November 15, 2008

Tempurung kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah atau diolah sebagai arang kelapa tengah dikembangkan menjadi briket di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Briket tersebut mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan arang batok.

Pabrik skala usaha mikro, kecil, dan menengah ini berada di naungan kelompok usaha Roda Banting. Proses pengolahan tempurung kelapa menjadi briket ini menggunakan alat hasil rakitan sendiri.

”Sekali cetak, alat pembuat briket ini bisa menghasilkan 320 keping briket. Setiap kilogram briket dapat digunakan untuk memasak sampai enam jam,” tutur Jamaluddin, salah seorang pimpinan kelompok usaha Roda Banting, Rabu (12/11).

Mesin yang digunakan antara lain adalah mesin penghancur arang batok menjadi tepung kasar, mesin penghancur tepung kasar menjadi halus, mesin pencampur dan mesin pencetak briket dalam jumlah besar.

Dari sisi bahan baku, jumlah tempurung kelapa dari Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman sangat banyak.

Saat ini, Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman mempunyai areal kelapa 2.863 hektar. Bila tiap hektar terdapat 125 pohon, jumlah pohon semuanya adalah 357.875 dengan total panen per tahun mencapai lebih dari 357 juta biji kelapa. Sementara itu, tempurung kelapa merupakan 12 persen bagian dari setiap butir kelapa.

Lebih tinggi

Harga briket dengan kandungan karbon lebih dari 60 persen bisa mencapai Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan harga arang tempurung yang hanya sebesar Rp 1.200 per kilogram.

Ketut Budaraga, dosen Fakultas Pertanian, Universitas Esasakti, Padang, yang mendampingi kelompok usaha Roda Banting, mengatakan briket tempurung relatif ramah lingkungan dan tergolong sumber energi yang dapat diperbarui.

”Penerapan inovasi teknologi pengolahan tempurung kelapa menjadi briket sangat diperlukan di Kota Pariaman. Dengan teknologi yang tepat bisa dihasilkan briket yang memenuhi standar. Briket model ini nantinya bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak di Kota Pariaman, terlebih setelah harga BBM cukup mahal saat ini,” ujar Ketut.

Tergolong baik

Dari pengujian di Sucofindo, briket yang dihasilkan kelompok usaha Roda Banting ini tergolong baik karena mempunyai kadar karbon lebih dari 60 persen.

Ketut menambahkan, di masa depan juga dibutuhkan kompor khusus untuk briket sehingga briket bisa digunakan secara massal oleh masyarakat. Selain itu, briket juga mempunyai prospek untuk diekspor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: