Pelaminan Minang Buchyar

Menjadikan Budaya Mentawai Menjadi Budaya Lokal

Posted on: November 15, 2008

Hingga 9 tahun setelah Kabupaten Kepulauan Mentawai terbentuk, usulan memasukkan muatan lokal budaya Mentawai dalam kurikulum pendidikan belum juga terealisasi. Usulan itu sudah dilontarkan sejak 6 tahun silam.

Hal itu terkemuka dalam Seminar Muatan Lokal Budaya Mentawai yang diselenggarakan lembaga swadaya masyarakat Yayasan Citra Mandiri (YCM), Jumat (14/11). Seminar ini pun tidak berhasil menelurkan sebuah komitmen penyelenggaraan muatan lokal dalam kurikulum tingkat SD hingga SMA sederajat di Mentawai.

Selama ini, materi muatan lokal sekolah-sekolah di Mentawai diisi dengan budaya alam Minangkabau. Padahal, budaya dan lingkungan masyarakat Mentawai jauh berbeda dengan masyarakat Minangkabau.

Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai Kortanius Sabeleake’ menyayangkan belum terealisasinya muatan lokal dalam kurikulum pendidikan di Mentawai, setelah 6 tahun usulan muatan lokal ini digaungkan.

”Tidak masalah kita belajar budaya lain seperti budaya Minang, Batak, atau budaya asing. Namun, betapa menyedihkannya kalau justru budaya Mentawai tidak diajarkan kepada anak-anak Mentawai,” ucap Kortanius.

Kortanius berjanji akan menekankan penyelenggaraan muatan lokal budaya Mentawai dalam mata anggaran Dinas Pendidikan tahun 2009. Bila muatan lokal budaya Mentawai tidak juga dimasukkan dalam kegiatan pemerintah daerah tahun 2009, Kortanius berjanji DPRD akan mencoret mata anggaran lain untuk diganti dengan muatan lokal. Kortanius memastikan pendanaan pelaksanaan muatan lokal tidak menjadi masalah.

Kepala Divisi Pendidikan YCM, Aldes Fitriadi, mengatakan sejumlah budaya lokal Mentawai mempunyai bidang pengetahuan yang luas dan kearifan masyarakat, seperti teknik peramuan obat-obatan, teknik pembuatan rumah tanpa paku, serta kebijakan membuat hutan sekunder buah-buahan di lahan hutan primer atau sekunder.

”Di sejumlah daerah, sistem masyarakat masih membantu pengenalan budaya asli Mentawai. Di Siberut, misalnya, Sikerei atau ahli obat-obatan sering menggelar daun-daun untuk bahan obat di dalam rumah sehingga anak usia 10 tahun bisa memahami jenis-jenis tanaman obat. Tapi, di tempat lain, budaya lokal Mentawai sudah hilang,” ujar Aldes.

Celester Saguruwjuw, anggota AMA PM Kabupaten Kepulauan Mentawai, mengatakan muatan lokal budaya Mentawai inilah satu-satunya harapan untuk melestarikan budaya asli.

Kepala Seksi Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai Syaiful Jannah berjanji membujuk pimpinan agar menjadikan budaya Mentawai sebagai muatan lokal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: