Pelaminan Minang Buchyar

Sirene Tanda Peringatan Tsunami Di Sumatera Barat Masih Terbatas

Posted on: November 27, 2008

Inisiatif pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat untuk menambah sarana sistem peringatan dini tsunami masih rendah. Padahal, jumlah sirene peringatan dini tsunami yang ada sekarang masih sangat terbatas.

Saat ini Sumbar hanya mempunyai lima sirene yang ada di Sasak, Kabupaten Pasaman Barat; Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam; Korong Campago, Kabupaten Padang Pariaman; Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang; dan IV Jurai, Kecamatan Painan, Kabupaten Pesisir Selatan. Satu sirene di Padang Pariaman masih rusak.

Bunyi dari setiap sirene hanya menjangkau sekitar 2 kilometer. Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Pemprov Sumbar Ade Edward mengatakan, bunyi sirene itu tidak mungkin diperkeras karena justru akan membahayakan orang yang ada di sekitar sirene.

”Untuk memperluas jangkauan tanda bahaya perlu penambahan sirene. Penambahan sirene ini yang seharusnya dilakukan pemerintah daerah. Hingga kini belum ada satu pemkab/pemkot yang mengajukan tambahan pengeras suara untuk dikoneksikan dengan sistem peringatan dini di Sumatera Barat,” kata Ade, Rabu (26/11), seusai mengikuti uji coba sirene.

Koneksi

Sirene yang sudah ada sekarang diuji coba dari pusat pada tanggal 26 setiap bulan pukul 10.00. Selain di Sumbar, sirene di tiga provinsi lain, yaitu Provinsi NAD, Bengkulu, dan Banten, juga dites.

Ade mengatakan, idealnya Sumbar mempunyai 100 sirene untuk menyebarkan informasi tanda bahaya di seluruh wilayah pesisir.

Pemprov sudah menyiapkan sambungan untuk mengoneksi sirene dengan sistem peringatan dini.

Selain itu, sirene yang ada sekarang juga membutuhkan perawatan dan sejumlah sarana pelengkap seperti genset. Genset dibutuhkan untuk persiapan bila listrik padam ketika bencana terjadi.

Dana yang dibutuhkan untuk pengadaan satu genset sekitar Rp 15 juta dan seharusnya menjadi prioritas pemerintah kabupaten/kota.

Di samping peralatan, pemerintah daerah juga perlu menyiapkan masyarakat agar mereka paham betul tentang makna bunyi sirene dan tindakan yang harus diambil bila bencana datang.

Sejauh ini, sebagian masyarakat Padang belum paham arti bunyi sirene.

Arti sirene

Yunisman (67), pedagang makanan di sekitar kompleks Gelanggang Olahraga Agus Salim, Padang, mengaku hanya mendengar bunyi sirene. Namun, dia tidak mengetahui secara persis arti sirene tersebut.

”Kata orang-orang, sirene itu tanda tsunami. Namun, sampai sekarang tidak ada tsunami,” ujar Yunisman yang pernah mendengar bunyi sirene beberapa waktu silam.

Meski demikian, pemerintah berharap masyarakat terbiasa dengan peringatan melalui sirene ini sehingga bisa dimanfaatkan untuk penyelamatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: