Pelaminan Minang Buchyar

Melihat Indonesia Melalui Pagelaran Mode Fashion

Posted on: December 7, 2008

Mode sebagai gaya hidup biasanya dipersepsikan sebagai milik orang-orang kota metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya.

Namun, batasan metropolitan dan bukan metropolitan menjadi tidak relevan lagi ketika melihat perhelatan Fashion Exploration 2009 dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di Balai Sidang Jakarta, Rabu dan Kamis lalu.

Organisasi itu menghimpun perancang busana dari daerah yang sebelumnya tidak masuk dalam radar pencinta dan penggelut mode, seperti Padang dan Palembang (dikelompokkan dalam APPMI Sumatera Barat), dan Pontianak.

Selain kota-kota itu, anggota asosiasi yang dikenal dengan sebutan APPMI ini ada di Jakarta sebagai pusat, juga Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali dengan total anggota 147 orang. Dalam acara ini, Poppy Dharsono yang pendiri APPMI memperingati 30 tahun berkarya dengan meluncurkan buku Redifining Heritage.

Dari APPMI Sumatera Barat, tiga perancang ikut. Adalah lumrah bila kesertaan itu untuk seksi busana muslimah, seperti dipresentasikan Ade Listiany, karena Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam tradisi dan hidup sehari-hari.

Namun, Ferry Daud dari Padang dan Zainal Songket dari Palembang memasukkan rancangan mereka ke dalam seksi ”Modern Ethnic”.

Ferry mempresentasikan kebaya yang dianggap cocok untuk selera masa kini. Itu artinya kebaya berbahan renda yang rapat memeluk tubuh pemakai. Sementara itu, Zainal Songket memadukan songket sebagai gaun malam berpundak terbuka atau dengan kebaya brokat yang memperlihatkan kulit tangan dan pundak. Sungguh tawaran tak terduga yang menggambarkan keberagaman Indonesia.

Adhyatma dari Pontianak, dengan tema ”Romantic Purple”, menawarkan busana untuk perempuan dan laki-laki dengan ornamentasi riuh, memperlihatkan ada kebutuhan yang sama pada kaum adam di sana untuk menonjol di tengah keramaian.

Keberagaman Nusantara

Dari acara yang berlangsung dua hari, terbagi dalam lima seksi pergelaran dengan 57 perancang berpartisipasi, terlihat keberagaman Indonesia dalam segala hal.

Di satu sisi, keberadaan APPMI di 10 provinsi (dibagi ke dalam delapan kepengurusan) merupakan sinyal kemakmuran pada selapis masyarakat setempat yang memunculkan kebutuhan di luar kebutuhan primer dan sekunder rata-rata orang Indonesia, disemai melalui media massa tradisional seperti televisi dan media cetak serta media digital internet.

Dari sisi artistik desain dengan segera tampak bagaimana perancang dibentuk oleh budaya setempat. Dalam hal ini menarik melihat bagaimana perancang Bali terasa lebih bebas menggulati bentuk-bentuk desain dibandingkan dengan rekan mereka dari Yogyakarta atau Semarang.

Sebagian dari mereka, seperti Ali Charisma dan Oka Diputra, telah kerap mengikuti pameran di Hongkong yang didatangi agen pembeli produk mode untuk Amerika, Eropa, Australia, dan Asia. Pergaulan internasional itu membuat desain mereka dapat diterima luas tanpa kehilangan akar budayanya.

Oka Diputra, misalnya, konsisten dengan teknik lilit yang mengingatkan pada pakaian asli suku-suku di Nusantara. Detail muncul dengan penggunaan lipit melalui teknik jelujur dan ikat untuk membentuk motif bunga di atas permukaan kain sutra dan pemakaian gelepai.

Sementara Putu Aliki merespons apa yang menimpa Bali belakangan ini. ”Hak asasi dikungkung, kreativitas dibelenggu hingga budaya dan cara berpakaian pun diawasi,” tulis Aliki tentang karyanya. Maka, retsleting pun menjadi simbol sifat dasar manusia yang akan memberontak ketika dikungkung.

Namun, pergelaran ini lebih banyak memperlihatkan kesukaan masyarakat Indonesia pada tampilan serba megah, mengilat, berkilau yang sekadar ornamen. Hampir semua perancang memakai payet dan kristal, tidak sedikit yang sampai menyilaukan mata.

”Dalam kenyataan, makin banyak payet dan kristalnya makin disukai pembeli. Kesannya wah dan mahal, terutama untuk pesta pernikahan yang merupakan saat istimewa,” kata Musa Widyatmodjo, mantan Ketua Umum APPMI, yang kali ini tidak ikut pergelaran.

Baju-baju yang lebih mirip kostum—gaun panjang dengan ornamen yang berebut tempat untuk tampil—pun tidak terhindari. Padahal, konsumen tidak hanya butuh baju untuk pesta, tetapi juga baju untuk kegiatan sehari-hari.

Konsisten

Mode merupakan cermin semangat zaman. Melihat karya perancang APPMI, keberagaman Indonesia tampaknya masih terpelihara. Busana muslimah memang dimaknai menutup seluruh tubuh oleh ke-13 perancang, meskipun ada yang memperlihatkan sedikit betis.

Namun, ke-44 perancang lain lebih bebas mengekspresikan karya mereka dalam beragam bentuk yang dianggap akan menjadi mode tahun depan.

Rok yang panjangnya mencapai tengah paha atau pas di lutut menjadi favorit perancang APPMI. Bisa dikenakan dengan membiarkan kaki ramping dan bersih tetap telanjang, atau dipadukan dengan legging atau stoking polos atau bermotif.

Celana panjang berpipa sempit atau berdetail serut di betis dan celana pendek juga banyak muncul, mengakomodasi kebutuhan gaya hidup serba praktis dan efisien tanpa mengubah perempuan menjadi laki-laki.

Meski ruang berekspresi hampir tak dibatasi, kreativitas dan orisinalitas tetap menjadi persoalan, terutama karena mode termasuk industri kreatif. Orisinalitas di sini artinya melahirkan desain yang bukan sekadar menambah payet, manik, memainkan lipatan, atau memendek- panjangkan pakaian.

”Memang perancang harus punya desain orisinal dan konsisten sehingga identitasnya muncul. Budaya untuk berani menyuarakan apa yang kita percaya masih harus ditumbuhkan,” kata Ketua Umum APPMI Taruna Kusmayadi.

Harapan untuk lahirnya desain yang orisinal itu disampaikan Corporate Secretary Bank BNI Intan Abdams Katoppo yang mengikuti acara hari kedua. ”Kami berharap industri mode yang bagian dari industri kreatif tumbuh jadi pilar besar ekonomi Indonesia karena potensinya besar,” kata Intan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: