Pelaminan Minang Buchyar

Kerisauan Dibalik Kabut Danau Maninjau Minangkabau

Posted on: July 29, 2009

”Rumah-rumah yang baru di Kotogadang, Kototuo, Pahambatan, di seluruh nagari-nagari keliling Danau Maninjau. Semuanya telah sepi.” Kutipan dari buku Islam dan Adat Minangkabau itu seolah menggambarkan keresahan hati penulisnya, Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah, atau lebih dikenal sebagai Buya Hamka.

Buku yang diterbitkan tahun 1984 itu menggambarkan perubahan di Sumatera Barat yang telah menggerus kehidupan di nagari. Nagari adalah pemerintahan setingkat desa di Sumatera Barat.

Di tepian Danau Maninjau kerisauan bermula. Danau di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, itu terkenal kecantikannya. Orang-orang tak hanya mengagumi dari dekat—mulai memandangi air danau hingga berenang-renang di dalamnya—tetapi juga dari puncak bukit. Di ujung atas Kelok 44—dari Danau Maninjau ke arah Matur harus melalui jalanan yang berkelok-kelok 44 tikungan—pemandangan luar biasa indah. Dahulu.

Dahulu juga, Danau Maninjau dikenal karena nama-nama tokoh nasional yang lahir di daerah sekelilingnya. Buya Hamka, seorang budayawan, ulama, pemikir, dan cendekiawan, lahir di situ pada 16 Februari 1908 dan meninggal dunia di Jakarta. Penulis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Kabah itu masih cukup tenar di tempat kelahirannya.

Kompas, yang datang ke Maninjau pada pertengahan bulan Juli lalu, masih dengan gampang menemukan rumah tempat lahir Buya Hamka yang telah dijadikan museum. Warga di situ dengan cepat menunjukkan arah menuju rumah Buya Hamka. Di sana ada Ferdinand yang datang dari Jakarta dan Ratna yang datang dari Lampung. Kakak beradik itu sengaja datang ke Maninjau mengunjungi kerabat setelah ibu mereka, Fatimah Yasin, meninggal dunia. Fatimah Yasin adalah kakak Buya Hamka.

Berbekal telepon seluler berkamera, Ferdinand dan Ratna terlihat riang sekaligus takzim menyaksikan peninggalan Buya Hamka di museum itu. ”Lega rasanya bisa datang ke sini. Lebih lega lagi karena hal-hal yang berhubungan dengan Buya masih terawat baik,” kata Ferdinand.

Tokoh lain yang juga lahir di sekeliling Maninjau adalah Hj Rangkayo Rasuna Said, M Natsir, dan Nur Sutan Iskandar. HR Rasuna Said lahir pada 15 September 1910 dan meninggal dunia di Jakarta. Orator, pejuang yang gigih melawan Belanda, pejuang persamaan hak perempuan dan laki-laki, kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung di Jakarta ini terkenal di Sumbar sebagai salah satu pendiri sekolah Diniyyah Putri.

Meski demikian, tak gampang menemukan rumah kelahiran HR Rasuna Said yang telah dijadikan mushola An Nur. Beberapa remaja yang ditemui Kompas tak tahu keberadaan rumah kelahiran HR Rasuna Said.

Setali tiga uang dengan M Natsir. Tak banyak yang tahu M Natsir lahir di daerah itu. Kebetulan, seorang ibu pemilik toko kelontong dapat menunjukkan rumah tempat lahir M Natsir yang tak jauh dari pasar. Namun, rumah itu sudah berubah menjadi rumah modern. Untungnya, masih dapat dijumpai taman bacaan M Natsir yang menyimpan sejumlah literatur tentang M Natsir.

Tak banyak juga yang tahu bahwa sastrawan Nur Sutan Iskandar lahir di sekitar Maninjau. Ada satu penanda yang memudahkan pencarian rumah kelahiran penulis novel Hulubalang Raja dan Mutiara itu, yakni papan besar bertuliskan ”Situs Cagar Budaya Rumah Baanjuang dan Rumah Baca Nur Sutan Iskandar”.

Seperti halnya di berbagai wilayah di Indonesia, penghargaan diwujudkan dalam bentuk fisik semacam rumah, prasasti, atau museum. Masihkah nilai-nilai kearifan dan perjuangan mereka sebagai pembaru—dalam bentuk sekecil apa pun—diketahui dan dilanjutkan masyarakat?

Tak ada semangat

Saat nama Hamka disebut, Nur Aini, warga Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Maninjau, menerawang sejenak. ”Saya tahu Hamka. Saya baca bukunya. Rasanya sudah tidak ada lagi semangat seperti yang dilakukan dia di sini. Merantau, belajar, menulis, atau berjuang,” kata Aini yang tengah beristirahat di sela-sela kegiatannya mencangkul ladang.

Pudarnya pesona Danau Maninjau sebagai danau yang kabutnya pernah melingkupi rumah kelahiran tokoh-tokoh nasional sejalan dengan pudarnya pesona wisata. Danau seluas 9.950 hektar yang sebelumnya menjadi magnet wisatawan untuk datang berkunjung mulai ditinggalkan.

Suasana di wilayah itu memang masih menggambarkan keramaian tempat wisata. Penginapan, warung internet, restoran, serta penyewaan sepeda dan motor berbaur dengan warung makan yang menyediakan masakan khas Maninjau. Namun, pemilik maupun penjaga penginapan, warnet, dan penyewaan kendaraan kini lebih sering menyibukkan diri menunggu matahari tenggelam.

Budi, pegawai salah satu penginapan yang dibangun di tepi danau, menuturkan, denyut sepi mulai terasa sejak tahun 2002. ”Penyebabnya? Salah satunya karena pelaku wisata di sini dibiarkan jalan sendiri. Lalu, semakin tidak terkendalinya karamba di danau membuat air danau menjadi keruh. Akibatnya, wisatawan yang suka berenang-renang di sini jadi malas,” ujar Budi.

Semula, karamba menjadi alternatif masyarakat sekitar danau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, saat kearifan mulai ditinggalkan, banyak orang seolah berlomba membuat karamba di danau. Air danau menjadi korban, keruh.

Budiono, pemilik karamba, mengaku terpengaruh keberhasilan tetangganya yang memelihara ikan di karamba di Danau Maninjau. Namun, sudah beberapa bulan terakhir ia menghentikan kegiatan beternak ikan di karamba. Ia merugi karena ongkos pakan ikan dan bibit tak tertutup harga jual ikan hasil panen. Berlimpahnya jumlah ikan di pasaran membuat harga ikan anjlok. ”Yang tersisa hanya ini, untuk keperluan sendiri,” kata Budiono menunjukkan sekitar 20 ekor ikan nila yang berenang-renang di karambanya.

Kearifan dalam berbagai hal telah dilupakan, bahkan ditinggalkan. Padahal, kearifan yang selama ini membuat Buya Hamka, HR Rasuna Said, M Natsir, dan Nur Sutan Iskandar tetap hidup di hati dan pikiran generasi penerusnya. Masihkah kearifan itu hadir di tengah risau Maninjau?

1 Response to "Kerisauan Dibalik Kabut Danau Maninjau Minangkabau"

a good posting…
like this yo..
mari kita hapus kerisauan mereka…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: