Pelaminan Minang Buchyar

“Titi” Mulai Ditanggalkan di Mentawai

Posted on: August 8, 2009

“Kalau saya meninggal, seluruh hiasan sikerei ini harus ditanggalkan. Tinggallah titi di tubuh yang dibawa ke liang kubur. Titi inilah pakaian abadi kami,” ucap Teuk Kerei, seorang sikerei asal Tinambu, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Tubuh Teuk Kerei terlihat berbeda dibandingkan dengan panitia, peserta, dan penonton Pergelaran Budaya Mentawai yang digagas Yayasan Citra Mandiri (YCM) di Museum Adityawarman, akhir Juni lalu. Hanya ada tiga orang lain yang mempunyai titi—sebutan tato dalam bahasa Mentawai—yaitu Amanselasa Kerei dan Teau, keduanya sekampung dengan Teuk, dan Teututuilakeu yang berasal dari Simatalu, Siberut Barat. Keempatnya adalah sikerei (pemimpin adat dan dukun) di persukuan masing-masing.

”Sekarang titi semakin langka di Tinambu. Sipatiti (orang yang ahli menato) sudah tidak ada lagi di kampung kami,” ucap Teuk Kerei dalam bahasa Mentawai. Perihal kelangkaan pemakai tato itu dibenarkan Suendi asal Mentawai dan Tarida dari YCM yang membantu pener- jemahan percakapan Kompas dengan para sikerei yang tidak bisa berbahasa Indonesia tersebut.

Teuk tidak ingat kapan tato itu digoreskan di tubuhnya. Dia bahkan tidak menghitung perjalanan usianya sendiri. Yang diingatnya, ketika pemerintah menyediakan permukiman bagi masyarakat Mentawai tahun 1980-an, Teuk dewasa sudah menjadi sikerei dan sudah mempunyai tato di tubuhnya. Bila ditaksir, Teuk kini berusia sekitar 60 tahun.

Tradisi masyarakat di Pulau Siberut adalah mewariskan tato sebagai pakaian para sikerei maupun masyarakat biasa, laki-laki dan perempuan. Kini pakaian abadi itu pun sudah mulai ditanggalkan lantaran zaman sudah berubah. Tidak banyak lagi garis-garis tato yang menjadi identitas tiap-tiap suku di masyarakat Mentawai. Sejumlah sikerei pun memilih untuk membiarkan tubuh mereka polos tanpa tato yang terbuat dari campuran arang dan air tebu, serta ditusukkan dengan jarum kayu ke dalam kulit. Pakaian abadi ini digantikan dengan baju kain yang sangat mudah ditukar-tukar.

”Sekarang orang tidak harus ditato. Kalau mereka ingin badan ditato, mereka bilang saja ke orang tua dan badan mereka akan ditato. Kalau tidak mau, ya tak apa,” ucap Markus Saggari (67), salah satu sesepuh adat di daerah Muntei, Kecamatan Siberut Selatan.

Markus memilih tidak bertato. Keinginan masa mudanya sebagai seorang guru membuatnya rela meninggalkan salah satu identitas masyarakat Mentawai. Di samping itu, ada hal lain yang menjadi pertimbangan Markus—dan banyak masyarakat Mentawai yang memilih tidak bertato—yakni anggapan masyarakat di luar Mentawai bahwa tato menunjukkan masyarakat primitif.

Citra tato sempat terpuruk ketika pemakai tato diidentikkan dengan orang yang disebut preman. Sementara itu, preman dicap sebagai kelompok masyarakat yang berperangai buruk dan kerap meresahkan anggota masyarakat lain. Tato pun terseret-seret sebagai identitas kelompok ini.

Tekanan berat dialami masyarakat Mentawai pada era 1955. Ketika itu negara mencabut dukungan atas kepercayaan asli masyarakat. Arat sabulungan, kepercayaan yang tumbuh di kalangan masyarakat Mentawai, dipaksa ditanggalkan dan digantikan satu dari lima agama yang ”ditawarkan” negara.

Bersamaan dengan itu, semua peralatan yang digunakan untuk ritual arat sabulungan dimusnahkan. Tato yang menjadi bagian dari ritual keagamaan arat sabulungan ikut tertanggalkan bersamaan dengan pergantian agama ini. Walaupun masih saja ada upacara adat yang dilakukan pemeluk arat sabulungan, tetapi terjangan ”agama negara” ini berandil besar menyingkirkan tato.

Dari empat pulau besar yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai, tinggal Siberut—yang juga terkenal dengan gelombang laut sebagai surga para penggila selancar—yang masih ditinggali oleh sejumlah orang tua yang bertato.

”Anak-anak muda semakin banyak yang memilih untuk tidak bertato,” kata Markus.

Sebagai bagian dari arat sabulungan, tato—yang tersebar mulai dari wajah, dada, tangan, hingga kaki—bukanlah sekadar hiasan tubuh. Tato binatang, misalnya, ikut tumbuh dalam masyarakat Mentawai sebagai lambang keahlian seseorang dalam memburu hewan tertentu.

Bila orang itu pandai memburu monyet, misalnya, maka akan ada tato berbentuk seperti monyet di tubuh pemburu tersebut. Selain tato, tengkorak kepala hewan-hewan buruan ini biasanya dipajang di muka uma (rumah adat) mereka. Semakin banyak tengkorak terpajang, semakin tinggilah gengsi keluarga besar yang menempati uma tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: