Pelaminan Minang Buchyar

Kreativitas Bangkitkan dan Hidupkan Kota Padang Kembali

Posted on: October 5, 2009

Malam makin larut. Suasana makin muram karena penerangan tak ada. Namun, Fredi, pemilik warung kopi di Jalan HOS Cokroaminoto, Padang, Sumatera Barat, tak menyalakan genset untuk menyalakan lampu. Dia malah menghidupkan kulkas untuk membuat es kopi, yang dijual esok harinya. Kopi yang membangkitkan semangat.

Di Padang, di kota bencana mana pun, sekantong kopi dingin dapat menghidupkan suasana hati yang muram. ”Saya berjualan sekadar untuk bertahan hidup,” kata Fredi. Dia menjual kopi dingin seharga Rp 6.000 per kantong, beberapa ribu lebih mahal dari secangkir kopi.

Harga Rp 6.000 per kantong kopi adalah harga wajar bila mengingat teori ekonomi yang menerangkan soal ”kuasa kelangkaan”. Ketika barang tiada di satu lokasi pada waktu tertentu, harga pasti melambung. Ketika tiada pesaing, wajar harga kopi buatan Fredi naik.

Namun, ini bukan persoalan suasana hati atau harga kopi. Namun, ketika Fredi berjualan, ini adalah bentuk optimisme. Kota Padang hanya dapat bangkit bila warganya kembali beraktivitas seperti biasa. Kota Padang hanya dapat normal kembali bila perdagangan kembali bergulir.

”Lihat, toko HL di ujung jalan ini juga sudah kembali berdagang. Itu yang baik. Lebih baik daripada tak ada yang berjualan sama sekali. Sebab, ketika makanan dan minuman pun terbatas, dapat juga mengundang penjarahan,” kata Fredi. Beberapa toko di kampung China, jantung bisnis Kota Padang, juga berangsur mulai berjualan.

Perguliran ekonomi juga terlihat di Pasar Raya, pasar terbesar di Kota Padang. Di antara reruntuhan bangunan pasar, puluhan pedagang menggelar dagangan mereka beralaskan terpal atau kayu seadanya. Pedagang buah juga sudah terdengar menawarkan dagangan mereka.

Beberapa pedagang sayur-mayur dan lauk juga mulai menawarkan dagangan mereka. Bermodalkan timbangan dan stok barang dagangan yang bisa diselamatkan, mereka mulai berjualan. Rini (24), pedagang cabai dan bawang, adalah satu dari beberapa pedagang yang menggelar dagangan di depan gedung pasar yang runtuh. Kiosnya ikut menjadi korban karena rusak tertimpa bangunan yang runtuh.

Di antara reruntuhan, ada barang dagangan yang bisa dikeluarkan. ”Ini cabai dan bawang yang bisa diselamatkan. Daripada busuk, lebih baik saya jual saja,” katanya.

Seperti kopi Fredi, harga cabai merah juga melonjak. Cabai yang biasanya bisa dibawa pulang seharga Rp 20.000-Rp 25.000 per kilogram kini mencapai Rp 35.000 per kilogram. Itu pun harga pada Jumat pagi. Siang hari, cabai merah dipasarkan seharga Rp 40.000 per kilogram.

Lonjakan harga cabai—dan aneka jenis komoditas lain—terjadi lantaran barang yang masuk ke Padang masih terbatas. Jumat kemarin, Rini mengetahui ada satu mobil bak terbuka yang datang ke Pasar Raya membawa sayur-mayur. Jumlahnya sangat terbatas dan harus diperebutkan oleh banyak pedagang. Pedagang yang biasanya bisa mendapatkan 10 karung berisi 30 kilogram cabai merah kemarin hanya bisa membawa satu karung. Itu pun tidak semua. Rina termasuk pedagang yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan satu karung pun.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memastikan jalan menuju Padang sudah terbuka. Batu yang sempat mengganjal jalan di lintas Padang-Bukittinggi juga sudah diledakkan sehingga jalan bisa dilewati lagi.

”Kelangkaan pasokan sayur-mayur ke Padang bukan hanya karena jalan terputus, tetapi masih ada pemasok yang belum bisa jalan karena rumahnya rusak. Selain itu, ada juga keengganan pergi ke Padang pascagempa dan mengira belum ada perdagangan di Padang,” kata Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.

Perdagangan sayur-mayur sebenarnya dibutuhkan untuk meneruskan perguliran roda ekonomi di Padang, antara lain penjual makanan. Hendra, penjual nasi soto di Jalan S Parman, belum bisa menjamin penjualan hari esok.

”Hari ini (Jumat), saya masak dari persediaan bahan makanan yang masih tersimpan. Besok-besok belum bisa diprediksi apakah saya bisa terus berjualan atau tidak karena belum ada orang berjualan di pasar,” ucap Hendra.

Pedagang makanan merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan saat bencana ini karena sedikit penjual yang membuka kedai mereka. Tidak jarang, warga, relawan, atau wartawan yang datang ke Padang harus menahan lapar karena tidak menemukan warung yang masih menyediakan makanan. Nasib!

Di tengah reruntuhan bangunan pasar, sejumlah pedagang berusaha menyelamatkan barang mereka. Ahmad, sopir truk di Pasar Raya, sibuk memindahkan roti, makanan kemasan, dan minuman kemasan dari ruko yang ambruk ditindih dinding pasar yang roboh.

”Ruko ini rusak berat. Daripada barang dijarah, lebih baik barang kami pindahkan ke gudang distributor,” ucap Ahmad.

Barang-barang yang sudah dipindahkan dari toko yang rusak ada juga yang dijual lagi. Wiladi, pemilik toko mebel di Kampung Nias, menggelar air kemasan dan rokok yang bisa diselamatkan dari toko di Pasar Raya.

”Toko milik saudara saya roboh. Ada sedikit barang yang bisa diselamatkan. Daripada rusak, dia minta saya menjualkan,” ujarnya.

Air minum yang bisa diselamatkan ini terbukti membantu warga yang membutuhkan air. Apalagi, pasokan air bersih sangat terbatas di Padang setelah jaringan Perusahaan Daerah Air Minum rusak.

Inilah kreativitas dan inisiatif yang masih dimiliki warga Padang. Kedua modal sosial ini banyak membantu pemulihan pascagempa.

2 Responses to "Kreativitas Bangkitkan dan Hidupkan Kota Padang Kembali"

Salam,
Bagaimana keadaan disana. Maaf saya ingin bertanya bagaimana saya boleh beli pakaian minang.

Salam hormat

maaf, saya mau izin sharing berita ini lewat emal ya?
link kemari tetap disajikan

terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: