Pelaminan Minang Buchyar

Upaya Penanganan Bencana Di Sumatera Barat Terkesan Sangat Lambat

Posted on: October 12, 2009

Upaya penyelamatan dan pengangkatan korban dari reruntuhan bangunan akibat gempa di Sumatera Barat menjadi persoalan berkepanjangan yang menjadi sorotan masyarakat. Publik menilai upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan yang dilakukan oleh pemerintah tidak memadai.

Kekuatan sebuah negara bisa dilihat, setidaknya, dari bagaimana pemerintahannya menangani bencana yang terjadi di wilayah demarkasi. Tampaknya, gempa bumi yang melanda Sumatera Barat dan Jambi menjadi batu ujian yang berat di pengujung akhir periode pemerintahan ini. Kali ini pun pemerintah seakan kembali gagap menghadapinya. Setelah lebih dari 10 hari, sejak gempa terjadi pada 30 September lalu, kemajuan terhadap evakuasi korban dan penyaluran bantuan terasa lambat.

Bukan hanya yang terjadi di wilayah yang terisolasi, seperti di Kabupaten Padang Pariaman, bahkan di Kota Padang pun evakuasi tak berjalan cepat. Korban yang tertimbun di balik reruntuhan gedung Gama dan Hotel Ambacang masih cukup banyak.

Faktor minimnya ketersediaan alat berat dan kesulitan mengangkat reruntuhan bisa saja menjadi salah satu alasan lamanya waktu evakuasi. Namun, bagi publik yang menyaksikan hari demi hari kemajuan yang dicapai, jawaban itu tetap tidak memuaskan. Bagi publik, kecepatan tindakan selalu menjadi ukuran apakah bangsa ini tanggap atau tidak terhadap bencana. Ketidakpastian banyak keluarga korban akan nasib anggota keluarganya yang hingga kini tak diketahui nasibnya makin menguatkan kesangsian publik akan kesanggupan bangsa ini mengelola bencana dengan cepat.

Kesangsian itu tecermin dalam jajak pendapat Kompas yang dilakukan pada 7 dan 8 Oktober 2009. Pemerintahkah yang lamban atau kepedulian masyarakat yang kurang? Oleh sebagian besar responden, baik masyarakat maupun pemerintah dianggap belum memiliki kewaspadaan dan kesiapan yang memadai. Bencana tsunami yang dahsyat di Aceh pada 24 Desember 2004 dan serangkaian gempa lain di sejumlah daerah belum dilihat sebagai pelajaran penting bagi masyarakat maupun pemerintah.

Hingga hari kesembilan sejak gempa berkekuatan 7,6 skala Richter melanda Sumbar, beberapa daerah masih terisolasi. Seperti yang sudah-sudah, bantuan pertolongan bergerak lambat. Padahal, dengan segala sumber daya dan otoritas yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan daerah, selayaknya korban gempa dapat ditangani secara cepat.

Responden pun menilai, upaya pemerintah dalam menangani korban bencana gempa kurang memadai. Penyaluran bantuan pun belum efektif dan lambat menyentuh korban, tak merata sesuai dengan luasnya skala wilayah bencana. Kegelisahan akan lambatnya upaya penyelamatan itu tampak nyaring disuarakan responden, terutama yang berada di Padang.

Meski otoritas setempat berdalih transportasi sulit dan penyaluran yang harus sesuai dengan aturan, masyarakat tidak mudah menerima alasan tersebut. Sikap itu tergambar dari pernyataan 54,2 persen responden yang menyatakan tak puas dengan upaya pemerintah dalam menangani korban gempa di Sumbar dan Jambi.

Parpol tak peduli

Masyarakat juga menilai, elite politik, baik di pemerintahan maupun partai politik, kurang peka dalam merespons bencana alam. Pascapemilu, tampaknya bencana alam tidak lagi menarik perhatian mereka. Jika sebelum Pemilu 2009 parpol menampakkan kepeduliannya dalam setiap bencana, kini hal itu hampir sepi dari sentuhan parpol. Tak heran jika 73,7 persen responden mengaku tidak puas dengan sikap elite politik terhadap penanganan bencana kali ini.

Kesigapan membantu korban bencana justru datang dari masyarakat yang tidak memiliki akses kekuasaan. Kesadaran menolong sesama seakan terbangun sekejap ketika melihat negeri Ranah Minang itu luluh lantak. Bencana kembali memperkuat tali ikatan sosial. Mereka menganggap masyarakat cepat tanggap mengumpulkan dan menyalurkan sumbangan untuk korban bencana alam.

Lemahnya antisipasi

Kehancuran akibat gempa seharusnya dapat dikurangi jika saja upaya atau antisipasi terhadap bencana gempa dilakukan. Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Selain itu juga bertujuan untuk mengurangi dan mencegah risiko kehilangan jiwa serta perlindungan terhadap harta benda.

Meskipun undang-undang (UU) sudah dibuat, tampak penerapannya tidak konsisten, seperti yang terjadi di Sumbar. Selain struktur bangunan yang harus memerhatikan standar bangunan rawan gempa, sistem peringatan dini atau early warning system juga harus dibangun di sana. Ironisnya, sarana dan fasilitas peringatan dini bahaya gempa di Padang justru tidak berfungsi saat terjadi gempa.

Walaupun beberapa bencana gempa kerap terjadi di Indonesia, rupanya pemerintah belum juga belajar banyak untuk lebih maksimal dalam menghadapi risiko gempa di negeri ini. Menurut responden, sosialisasi pemerintah tentang risiko gempa yang akan terjadi di wilayah gempa, termasuk di Sumbar, belumlah memadai sehingga masyarakat tidak cukup waspada akan risiko gempa itu. Sikap pemerintah juga dianggap kurang konsisten dalam melakukan pengawasan pendirian bangunan sesuai standar menghadapi bahaya gempa di wilayah Sumbar.

Kurang maksimalnya ataupun kurang memadainya upaya pemerintah dalam menyosialisasikan antisipasi bahaya gempa kepada masyarakat juga mengakibatkan hal yang sama pada masyarakat, yaitu pengabaian pada antisipasi bahaya gempa di Sumbar. Responden menilai masyarakat umum pun masih belum memerhatikan gejala alam sebagai sesuatu yang harus diwaspadai. Meskipun sebelumnya Sumbar telah dinyatakan sebagai wilayah rawan gempa setelah tsunami Aceh, pernyataan itu tampaknya baru menggugah kesadaran masyarakat ketika petaka sudah menyapa dan semuanya berserakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: