Pelaminan Minang Buchyar

Cerita Lisan Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat Mulai Hilang

Posted on: April 21, 2010

Kerusakan lingkungan alam dan sosial di sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Barat terkait dengan mulai pudarnya cerita rakyat dan fabel mengenai harimau.

Hal itu terungkap dalam sebuah diskusi di Padang, Senin (29/3). Hadir dalam diskusi itu penggiat Kelompok Studi Sastra dan Teater Noktah, Syuhendri. Selain itu, ada Nina Rianti dan Aprimas dari Taman Budaya Sumbar.

Menurut Nina, pudarnya cerita rakyat yang diwariskan secara lisan itu mulai terjadi sejak dekade 1990-an.

Ia mengatakan, hal itu tidak lepas dari siaran televisi yang pilihannya semakin banyak dan langsung masuk serta memengaruhi kehidupan warga sehari-hari.

Peran televisi sebagai media hiburan pun mulai menggantikan cerita-cerita rakyat yang berpusat seputar fabel mengenai harimau.

”Kalau dulu, kan, ada bakaba (berkabar) yang dibawakan sambil bermain rebab atau saluang,” ujar Nina sembari mengatakan, ada kemungkinan regenerasi budaya tutur dengan penceritaan legenda dan mitos lokal itu tergantikan dengan kebiasaan menonton televisi.

Syuhendri menambahkan, cerita mitos dan cerita rakyat berupa fabel mengenai harimau tumbuh subur di seluruh wilayah Minangkabau.

Hal itu terjadi baik di daerah luhak, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Minangkabau di daerah pegunungan, dengan Agam, Tanah Datar, dan Limapuluh Kota sebagai wilayah-wilayahnya, maupun daerah rantau yang merupakan tempat perkembangan budaya di daerah pesisir.

”Manifestasinya dalam kehidupan adalah bentuk-bentuk tarian dan silat untuk bela diri,” kata Syuhendri.

Namun, imbuh Syuhendri, yang paling penting adalah mitos yang masih hidup sampai saat ini soal hubungan orang Minangkabau dengan harimau.

Syuhendri mengatakan, pada zaman dulu ada semacam perjanjian antara manusia dan harimau untuk saling menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sosial. Jika salah satu pihak di antaranya melanggar, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung.

”Kalau manusia yang melanggar, misalnya di kampung itu ada perzinahan, maka akan ada binatang ternak yang mati diterkam harimau. Demikian pula jika alam dirusak. Jika harimau yang salah dan menerkam manusia tanpa sebab, biasanya harimau akan menyerahkan diri,” kata Syuhendri.

Aprimas menambahkan, cerita dan mitos yang diwariskan lewat budaya tutur dan berperan menjaga keseimbangan alam serta lingkungan sosial itulah yang kini relatif mulai tergantikan dengan kebiasaan menonton televisi.

Nina mencatat, setidaknya kini tinggal wilayah Kabupaten Sijunjung dengan kesenian ba’ombai di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, yang proses regenerasinya masih berjalan baik

1 Response to "Cerita Lisan Rakyat Minangkabau di Sumatera Barat Mulai Hilang"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: