Pelaminan Minang Buchyar

Infrastruktur Lintas Barat Sumatera Rusak Berat

Posted on: April 29, 2010

Kerusakan jalan lintas barat Sumatera antara Lampung dan Bengkulu masih parah. Lubang-lubang besar, longsor, serta aspal yang terkelupas masih mengganggu di banyak ruas dan titik jalan. Akibatnya, lalu lintas di ruas itu tersendat, bahkan banyak truk yang mogok, terperosok, atau mengalami kecelakaan.

Berdasarkan pemantauan tim ekspedisi Wisata Lintas Barat Sumatera oleh National Geographic Traveler-Kompas, Minggu-Rabu (28/4), kerusakan jalan tersebar hampir merata, terutama sejak dari Bandar Lampung, Lampung, hingga Manna, Bengkulu. Titik terparah, antara lain, terdapat di tanjakan Sedayu, Kabupaten Tenggamus, di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Pemerihan, Kabupaten Lampung Barat, di antara Krui dan Bintuhan, serta perbatasan Lampung-Bengkulu di Manna.

Di tanjakan Sedayu, sebagian pinggir jalan runtuh karena longsor. Di beberapa titik, jalan sedang diuruk tanah. Akan tetapi, sebagian aspalnya masih dibiarkan terkelupas dan menyisakan tanah merah yang licin saat hujan. Lubang menganga di beberapa tempat.

Di kawasan TNBBS di sekitar Pemerihan, jalanan dihadang lubang-lubang besar hingga sedalam 50 sentimeter. Beberapa truk mogok di pinggir jalan karena terperosok dalam lubang. Mereka terpaksa menginap di tengah hutan demi menjaga truk dan muatannya.

Di jalur antara Krui dan Bintuhan ada beberapa jalan yang longsor ke arah pantai. Jalan yang tersisa hanya separuh dari total badan jalan. Kendaraan harus bergantian dan antre melintas.

Ruas jalan antara Bintuhan dan Manna juga rusak berat. Lubang-lubang besar menganga di tengah jalan. Banyak aspal terkelupas, jalan retak dan bergelombang, serta beberapa jalan sedang diperbaiki.

Kondisi jalan yang rusak itu semakin sulit dilalui karena bentuk jalan yang berkelok-kelok dan turun-naik mengikuti topografi tanah yang bergunung dan berbukit. Truk-truk besar harus berjalan merayap agar bisa selamat.

”Kami hanya bisa melaju dengan kecepatan sekitar 20-30 kilometer per jam,” kata Sartono (45), sopir truk pengangkut genteng dari Bengkulu.

Truk terperosok

Kerusakan jalan lintas barat Sumatera tersebut menghambat lalu lintas kendaraan, terutama truk pengangkut barang. Truk-truk itu terpaksa tertatih-tatih melewati jalan rusak, terutama ketika jalan itu menanjak atau menurun. Jika lubang-lubang di jalan terlalu besar, mereka harus turun dulu untuk memeriksa keadaan, baru kemudian mencari jalur yang mungkin dilewati.

Sejumlah kendaraan yang naas atau kurang hati-hati akhirnya mogok atau terjerembap dalam lubang. Suasana ini tampak di sejumlah titik di sepanjang perjalanan. Bahkan, sebuah truk boks dari arah Bengkulu terjerembap dan masuk dalam jurang sedalam sekitar tujuh meter di sebuah jalan menurun di Desa Lemong, Kecamatan Lemong, Kabupaten Lampung Barat, Selasa (27/4) siang.

Hingga Rabu malam, truk yang mengangkut kertas itu masih teronggok di jurang dan baru akan ditarik dengan mobil derek. Sopir dan kernetnya, Adang (29) dan Iwoh (18), luka-luka dan harus berbaring di rumah makan terdekat.

”Saya baru pertama kali lewat jalur lintas barat Sumatera. Saat jalan turun tajam, rem sulit dikendalikan dan truk masuk jurang. Kami rugi waktu dan bawaan yang rusak,” tutur Adang.

Para sopir truk mengaku memilih jalan lintas barat Sumatera karena relatif lebih dekat ke arah barat Sumatera dan agak sedikit punglinya. Di jalur itu juga tak ada pemerasan dengan modus jembatan timbang. Sayangnya, jalur itu sulit dilalui karena berlubang, sering longsor, dan jalannya turun-naik.

Gangguan itu sangat memperlambat perjalanan. Ruas Bengkulu-Lampung harus ditempuh selama satu hari satu malam, bahkan kadang lebih. ”Biaya perjalanan jadi membengkak. Semoga pemerintah mau memperbaiki jalur ini,” kata Santo (40), sopir truk Bengkulu-Lampung.

Pantai barat NAD

Dua titik ruas jalan di pantai barat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) juga dalam kondisi rusak. Salah satu ruas menjadi sangat vital karena semua angkutan kebutuhan pokok dari Medan, Sumatera Utara, melewati jalur tersebut. Saat tim Lintas Barat Sumatera National Geographic Traveler-Kompas melintasi titik yang terletak selepas Kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Rabu (28/4), sebagian besar titik yang terletak di pinggir bukit di kawasan Air Pinang ambles.

”Amblesnya sudah lama, tetapi hanya ditambal sulam begitu saja,” kata Eddy Wijaya, salah satu warga Tapaktuan. Jarak antarpunggung bukit atau tebing tidak lebih dari 0,5 meter. Adapun lebar jalan tidak lebih dari lima meter untuk dua jalur di atasnya.

Lintasan lain yang masih belum selesai diperbaiki pascatsunami pada akhir 2004 adalah lintasan Banda Aceh-Calang, Aceh Jaya. USAID, lembaga donor milik Pemerintah Amerika Serikat, menargetkan lintasan tersebut selesai dikerjakan pada 2011.

Di kawasan Lhokseudu, Kecamatan Leupung, pihak pelaksana proyek belum menyelesaikan pengerjaan sebuah bukit yang rencananya akan dilintasi jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: