Pelaminan Minang Buchyar

Harga Sayur Mayur Di Solok Anjlok Banyak Petani Yang Merugi

Posted on: May 4, 2010

Harga sayur-mayur di kawasan pertanian di Kabupaten Kerinci (Provinsi Jambi); daerah tetangganya, Kabupaten Solok (Sumatera Barat); dan daerah sekitarnya anjlok pada panen musim ini. Kondisi ini diperkirakan terjadi karena pasokan berlimpah saat panen terjadi bersamaan di beberapa wilayah sekaligus. Akibatnya, petani merugi.

Tim ekspedisi Wisata Lintas Barat Sumatera oleh National Geographic Traveler-Kompas, Minggu-Senin (3/5), menemukan petani sedang memanen sayur-mayur di lereng-lereng pegunungan di sepanjang perjalanan antara Kerinci dan Solok. Akan tetapi, harga sebagian sayur-mayur anjlok, terutama kentang, cabai merah, dan bawang merah.

Nilai penurunan harga bervariasi, bahkan mencapai separuh lebih dari harga pasaran sebelumnya. Harga kentang, misalnya, anjlok hingga Rp 1.800- Rp 2.000 per kilogram (kg). Padahal, harga normal sebelumnya sekitar Rp 3.000 per kg.

Harga cabai merah melorot menjadi Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per kg, jauh di bawah harga sebelumnya Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kg. Begitu pula harga bawang merah yang turun menjadi Rp 8.000 per kg dari harga biasanya Rp 10.000.

Situasi ini merugikan para petani. Apalagi, biaya produksi sekarang kian tinggi, terutama untuk membeli pupuk kandang dan pestisida yang tambah mahal.

Afrida Nelfi (29), petani di Desa Kayu Jauh, Kecamatan Gunung Talang, Solok, misalnya, menanam cabai di seperempat hektar lahan dengan hasil panen sekitar 100 kg. Dengan harga cabai Rp 15.000, dia hanya memperoleh Rp 1,5 juta. Padahal, biaya tanam sekitar Rp 2 juta, termasuk membeli pupuk kandang.

”Saya rugi Rp 500.000. Kerugiannya bisa lebih besar kalau tenaga kami sekeluarga dihitung. Padahal, musim panen sebelumnya saya bisa untung Rp 1 juta dengan harga cabai Rp 30.000 per kg,” katanya.

Syamsul Bari (66), petani cabai di Desa Sulak Deras Mudik, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, rugi jutaan rupiah pada musim ini. Panennya sebanyak 1 ton cabai dari lahan seluas 10 hektar. Dengan harga Rp 10.000 per kg, perolehan panen ini hanya Rp 10 juta. ”Biaya bibit, tanam, dan pupuknya mencapai Rp 13 juta,” katanya.

Petani berharap pemerintah mau turun tangan untuk menata harga sayur-mayur di pasaran. Musim tanam dan panen petani seharusnya diatur secara bergantian sehingga pasokan sayur tetap stabil dan tidak kelewat melimpah saat panen atau terlalu kekurangan saat tanam. Pasar dibuat secara bersama demi menjaga harga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: