Pelaminan Minang Buchyar

Tujuh Sekolah Dibangun Lagi Di Sumatera Barat

Posted on: May 7, 2010

Egi Rifatama Ayunir (12) belum lagi membersihkan wajahnya yang masih dipenuhi riasan tebal saat ditemui seusai pentas. Pagi itu, Rabu (14/4), bersama sejumlah rekannya, Egi baru saja selesai membawakan Tari Persembahan dengan baju adat Minangkabau, lengkap dengan riasan yang memenuhi wajahnya. Tarian itu digelar di pelataran Sekolah Dasar Tirtonadi, Kampung Batu, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.

Egi adalah salah seorang pelajar kelas VI SD Tirtonadi yang bangunan sekolahnya rusak akibat gempa pada 30 September 2009. Kemarin, setelah berlatih dua pekan, Egi tampil di depan Gubernur Sumbar Marlis Rahman, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St Sularto didampingi Ketua Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) M Nasir, pengurus Yayasan Prayoga yang menaungi sekolah itu, dan sejumlah pejabat.

”Senang dan bangga,” kata Egi saat ditanya. Namun, wajahnya langsung muram saat ditanya seputar gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter yang meluluhlantakkan sebagian Sumbar. ”Waktu gempa, saya ada di rumah Kakek,” kata Egi perlahan, seolah tak ingin melanjutkan ceritanya.

Selama sekitar dua pekan berikutnya, Egi tidak bersekolah karena bangunan sekolah yang tidak memungkinkan. Saat kembali bersekolah, ia dirundung trauma. ”Sampai sekarang masih cemas karena sekolah di lantai dua,” katanya.

Ketua Yayasan Prayoga Rm Philips Rusihan Sakti, yang juga menjabat sebagai vikjen (wakil uskup) Keuskupan Padang, mengatakan, seusai gempa memang muncul banyak kekhawatiran dari orangtua murid soal kerusakan tempat belajar anak mereka. Kualitas bangunan yang rusak mengkhawatirkan untuk terus digunakan sebagai tempat belajar dan mengajar.

Karena itulah, ujar Philips, pihaknya lalu membangun tujuh ruang kelas sementara di sekitar lokasi sekolah. Selain itu, perbaikan pada gedung yang rusak juga dilakukan sekadarnya.

Namun, itu semua tetap membuat sejumlah pelajar seperti Egi merasa khawatir. Karena itulah, ketika pada Rabu itu dilakukan peletakan batu pertama pembangunan SD Tirtonadi oleh DKK, Egi menunjukkan air muka gembira.

Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St Sularto dalam sambutannya mengatakan, membangun SD dan TK merupakan prioritas di Sumbar. Sekolah merupakan salah satu sarana penting pembangunan masa depan anak-anak yang akan menjadi generasi penerus masa depan Indonesia.

”Ini bentuk kepedulian untuk masa depan anak bangsa,” kata St Sularto.

Ia menambahkan, segera setelah gempa terjadi, tim tanggap darurat DKK telah terjun menyalurkan bantuan, disusul survei bangunan, terutama sekolah, yang rusak dua pekan sesudah gempa.

Ketua DKK M Nasir menyebutkan, peletakan batu pertama pembangunan SD Tirtonadi sekaligus mewakili pembangunan enam sekolah lain di Kota Padang, Kota Pariaman, dan Kabupaten Padang Pariaman. Gedung yang dibangun masing- masing SDN 07 Enam Lingkung, Sicincin, Kabupaten Padang Priaman, SDN 03 di Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, SDN 01 di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, TK Madrasah Diniyah Awaliyah di Kampung Baru Padusunan, Kota Pariaman, serta SDN 02 dan SDN 14 di Gunung Sarik, Kota Padang.

”SDN 02 dan SDN 14 di Gunung Sarik berada di satu lokasi,” kata Nasir.

Dengan demikian, terdapat tujuh sekolah yang dibangun dengan dana dari sumbangan pembaca harian Kompas melalui Yayasan DKK, dengan total dana Rp 9,5 miliar.

Spesifikasi teknis bangunan- bangunan sekolah itu secara standar menggunakan foot-plat untuk kolom utama. Adapun jumlah lantai dan ruang kelas yang akan dibangun bervariasi, sesuai dengan kebutuhan, seperti SD Tirtonadi yang akan dibangun setinggi dua lantai dengan 16 lokal (kelas).

Tahan gempa

Gubernur Sumbar Marlis Rahman dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas batuan dari para pembaca Kompas. ”Ucapan terima kasih masyarakat Sumbar atas uluran tangan ini,” ujar Marlis.

Ia meminta agar bangunan yang didirikan kelak lebih tahan gempa dan tidak langsung roboh jika gempa bumi kembali terjadi.

Waktu pembangunan sekolah-sekolah di Kabupaten dan Kota Pariaman ditetapkan selama empat bulan, sedangkan di Padang enam bulan. Dari tujuh calon kontraktor yang ikut tender, terpilih PT Cipta Mandiri Konstruksi, Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai pelaksananya.

”Untuk yang bertingkat, butuh waktu 6,5 bulan,” kata Koordinator Proyek PT Cipta Mandiri Konstruksi Wika Raharja.

Menyadari hal itu, Egi kembali mengernyitkan dahi. ”Ya, tapi saya tidak sempat ngerasain (bangunan baru),” ujar Egi yang pertengahan tahun ini melanjutkan pendidikannya ke SMP. Namun, Egi buru-buru mengatakan agar sekolah baru itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh adik-adik kelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: