Pelaminan Minang Buchyar

Identitas Mentawai yang Terancam

Posted on: June 5, 2010

Gadjai Saruru (57) dan Kalianus Saruru (35) beberapa kali tercenung saat bercerita tentang uma di Dusun Ugai, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pertengahan Maret lalu.

Pasangan bapak-anak itu mengungkapkan kegetiran mereka mempertahankan tradisi nenek moyang dalam membuat uma.

Uma atau rumah besar memanjang dengan arsitektur panggung yang ditinggali hingga beberapa keluarga dalam satu suku adalah inti kehidupan masyarakat tradisional Mentawai. Pada uma inilah kebudayaan masyarakat adat Mentawai berpusar, melibatkan Sikerei (pemimpin seluruh upacara punen/adat) sebagai tokoh sentral, di samping tokoh Sikebbukat Uma—sesepuh masyarakat adat.

Penghuni uma adalah garis keturunan ayah (patrilineal). Kaum perempuan atau istri berasal dari uma yang lain, yang statusnya akan masuk ke dalam uma milik suami setelah menikah, tetapi harus kembali ke uma asal bila menjadi janda.

Pada uma pula ditemukan mitologi masyarakat adat Mentawai yang menjelaskan lelaku mereka sehari-hari. Kearifan lokal tentang bagaimana mencari tempat berlindung saat gempa terjadi dan rangkaian setelahnya; berupa tanda-tanda alam yang dipakai untuk menentukan siklus pertanian dan segala hal berhubungan dengan kehidupan. Namun, kini, mendirikan atau memperbaiki uma adalah satu kemewahan yang sulit dijangkau.

Sembari melinting rokok daun pisang, Gadjai menunjuk-nunjuk atap rumahnya yang dibangun sejak 30 tahun lalu.

Dusun Ugai—yang bisa dicapai dalam waktu 4-5 jam perjalanan bersampan mesin dari Desa Muara Siberut, pusat keramaian dan ibu kota Kecamatan Siberut Selatan—memiliki 18 suku yang terbagi dalam 178 keluarga dan mendiami sekitar 160 uma. Dari Kota Padang, Siberut Selatan bisa dicapai 12 jam perjalanan kapal.

Kondisi sebagian uma di dusun itu sekarang mengkhawatirkan. Kayu-kayunya lapuk, atap rumbia bolong-bolong tergerogoti usia.

Bangunan uma biasanya terdiri atas lima jenis kayu, yaitu meranti putih, gaharu, pohon enau, bambu, rotan. Adapun atap rumbia dan kayu ribuh sebagai tiang-tiang penopang utama.

Selain itu, uma butuh pula bambu, rotan, batang pohon enau, gaharu, dan kayu ribuh sebagai tonggak-tonggak utama.

Jumlah batang-batang kayu ribuh yang menjadi inti dalam setiap bangunan uma akan sangat bergantung dari besar atau kecilnya uma. Tiang-tiang pancang utama inilah yang menjadi muasal didirikannya uma dan berkaitan dengan legenda setempat soal dewa gempa yang disebut sebagai Teteu Ka Baga dan dalam versi lain disebut sebagai Sigegegeu. Legenda ini berkaitan dengan ritual pengorbanan dalam setiap pendirian uma yang berkaitan dengan mitologi masyarakat setempat tentang keberadaan dewa gempa.

Kalianus mengatakan, zaman dulu sekali bahkan harus ada tengkorak manusia yang diperoleh sebelum uma didirikan untuk dipajang. Kini, syarat tengkorak manusia diganti

tujuh ekor monyet yang diambil tengkoraknya dan dipajang di dalam uma. Korban itu dilatarbelakangi mitos tentang dewa gempa dalam pembangunan uma.

Teu Tade, salah seorang Sikerei di Dusun Ugai, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, mengatakan, cerita rakyat yang diberi nama Sigegegeu itu diawali dengan dua anak yatim piatu.

Anak pertama adalah perempuan yang memiliki seorang adik laki-laki berumur sekitar tujuh tahun yang dipelihara oleh orangtua angkat mereka. Pada suatu hari, orangtua angkat kedua bocah itu hendak membangun sebuah uma besar dan meminta anak laki-laki angkat mereka untuk masuk ke dalam lubang galian. Saat anak laki-laki itu di dalam lubang galian, sebuah tonggak kayu besar tiba-tiba ditancapkan kepadanya. Namun, secara gaib anak laki-laki ini berhasil melompat ke ujung tonggak kayu di atas.

Pada saat itulah, anak laki-laki tadi berjanji kepada kakak perempuannya untuk membalas dendam saat punen (upacara adat) pendirian uma. Anak laki-laki itu meminta kakak perempuannya untuk meninggalkan uma menuju pohon pisang batu (sok gumei) jika punen uma dilakukan. Pasalnya, uma baru itu akan dihancurkannya dengan gempa hebat.

Versi dewa gempa lain Teteu Ka Baga menyebutkan kisah itu terjadi dalam keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak mereka. Pasangan orangtua itu hendak mendirikan uma, tetapi mereka keburu meninggal dan pembangunan dilanjutkan oleh anak-anak.

Oleh karena mendirikan uma biasanya disertai pesta yang relatif mewah, biaya pun menjadi besar sehingga pembuatan uma menjadi relatif makin sedikit.

Selain kerusakan yang membuat uma baru jarang didirikan, kebijakan pemerintah merelokasi masyarakat adat Mentawai di pedalaman menjadi salah satu sebab mengapa jumlah uma semakin berkurang. Menurut Kalianus, hal itu berkaitan dengan anjuran pemerintah pada tahun 1980-an kepada masyarakat tradisional Mentawai yang sudah menikah agar meninggalkan uma dan menempati rumah-rumah yang lebih kecil.

Sejak itu, fungsi uma berubah total. Uma baru digunakan jika digelar upacara adat atau pesta adat yang disebut punen dalam kehidupan tradisional orang Mentawai, termasuk berubahnya ritual pengobatan.

Koordinator Divisi Pendidikan dan Budaya Yayasan Citra Mandiri Mentawai Tarida Hernawati—yang menulis buku Uma, Fenomena Keterkaitan Manusia dengan Alam terbitan Yayasan Citra Mandiri (2007)—mengatakan, proyek Departemen Sosial sejak tahun 1975 bernama Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing menjadi penyebabnya. ”Masyarakat yang hidup berkelompok dalam uma dipaksa meninggalkan uma,” ujar Tarida.

Itu belum termasuk penghapusan kepercayaan asli masyarakat tradisional Mentawai oleh pemerintah atas Arat Sabulungan—kepercayaan pada sekumpulan dedaunan mewakili kekuatan gaib yang baik (ketcat simaeru) dan yang jahat (ketcat sikatai).

Peneliti Ady Rosa mengatakan, saat ini uma hanya ada di sebagian pedalaman Pulau Siberut. Adapun di tiga pulau lain, yakni Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, uma sudah sulit ditemukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: