Pelaminan Minang Buchyar

Pengurangan Hutan Lindung Di Sumatera Barat Di Kritik

Posted on: June 7, 2010

Kebijakan pemenuhan kayu lokal pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi seusai gempa dan penurunan status kawasan hutan untuk dieksploitasi di Sumatera Barat dikritik oleh lembaga swadaya masyarakat. Akan tetapi, Pemerintah Provinsi Sumbar beralasan bahwa hal itu tidak merusak lingkungan.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Hendri Octavia di Padang, Sabtu (5/6), mengatakan, sejumlah kebijakan, seperti pengurangan kawasan hutan lindung untuk areal penggunaan lain (APL), telah melalui mekanisme yang ditetapkan.

Selain itu, pengurangan kawasan hutan dilakukan umumnya pada daerah-daerah yang memang sudah menjadi permukiman penduduk.

”Jadi, sebelum ditetapkan sebagai hutan lindung, sebelumnya sudah ada masyarakat yang tinggal di situ. Lebih dulu permukiman masyarakatnya ketimbang status hutannya,” kata Hendri.

Lebih pelik

Menurut Hendri, jika kawasan hutan lindung itu tidak dikurangi, hal itu akan menimbulkan persoalan hukum yang dampaknya lebih pelik karena menyangkut pelanggaran untuk memanfaatkan kawasan hutan lindung.

Adapun untuk kebijakan pemenuhan kayu lokal selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi seusai gempa, Hendri menjamin bahwa total kayu yang ditebang tahun ini tidak akan melebihi jatah yang ditetapkan sebanyak 80.000 meter kubik kayu bulat.

”Dari jatah itu, 5 persen atau sekitar 4.000 meter kubik diperuntukkan bagi Sumbar. Jika masih kurang, kami masih bisa gunakan kayu rakyat atau impor kayu antarprovinsi,” ujarnya.

Memprihatinkan

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumbar mengingatkan kebijakan kehutanan di Provinsi Sumbar yang dinilai makin memprihatinkan dalam lima tahun belakangan.

Pernyataan sikap Walhi Sumbar dalam menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang ditandatangani Direktur Eksekutif Khalid Saifullah, menyebutkan lima hal penting yang mesti menjadi perhatian khusus. Masing-masing adalah kebijakan pemenuhan kayu lokal pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi seusai gempa serta penurunan status kawasan hutan untuk dieksploitasi.

Selain itu, mereka juga mempertanyakan jaminan keselamatan dan keberlanjutan masyarakat, penuntasan kasus perusakan lingkungan yang didiamkan di kepolisian, dan penindakan hukum secara tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan.

Aktivitas merusak

Khalid menyebutkan, hingga saat ini masih relatif banyak aktivitas dengan potensi merusak lingkungan yang terus terjadi. Sumbar, dengan luas total lahan 4.229.730 hektar, tidak kurang dari 799.934 hektar di antaranya telah beralih menjadi perkebunan monokultur dan 293.896 hektar berubah menjadi kawasan pertambangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: