Pelaminan Minang Buchyar

Sepiring Sate Padang Yang Lezat di Radio Dalam

Posted on: July 31, 2010

Asril Tanjung (57), lelaki ramah asal Padang Pariaman, Sumatera Barat, merasa dirinya ditakdirkan Tuhan sebagai pedagang sate padang. Ke mana dia berdagang, ke situ pelanggan setianya datang. Namun, kisah hidup Asril sendiri tak sesedap sate padang buatannya.

Aroma sate padang menyeruak dari Warung Tenda Salero Ajo ke tepi Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Baunya sedap nian. Kami yang sedang melintas di depan warung itu menghirupnya dalam-dalam dan tergoda bertandang ke sana.

Kamis (22/7) malam, warung tak seberapa luas yang dikelola Asril itu ramai pengunjung. Kendaraan keluar masuk tempat parkir di kiri-kanan warung. Ketika ada pengunjung yang pergi, hampir selalu ada pengunjung lain yang datang.

”Kalau warung sedang ramai seperti hari Jumat, Sabtu, atau Minggu, kami sering tidak sempat duduk barang sebentar untuk istirahat,” kata Boy, salah seorang dari delapan pelayan di warung itu.

Meski demikian, kedelapan pelayan di sana cukup cekatan. Dalam lima menit, biasanya pesanan sate padang dan minuman sudah ada di hadapan pembeli. Sepiring sate padang terdiri dari 10 tusuk sate dan beberapa potong ketupat yang disajikan di atas piring ceper beralas daun pisang. Sate dan ketupat itu disiram saus kental berwarna kuning kecoklatan.

Kami menyantapnya pelan-pelan. Daging sate yang gurih berpadu serasi dengan saus sate yang pedas. Daging yang empuk terasa kenyal-kenyal saat dikunyah dalam mulut. Kalau tertarik dengan yang ”kriuk-kriuk”, bisa juga menyabet keripik singkong pedas yang tersedia di meja.

Dalam beberapa menit, semuanya tandas. Tubuh kami tidak berkeringat, tetapi hangat. Mungkin karena rasa pedas pada saus sate tidak melulu mengandalkan cabai, tetapi juga rempah-rempah seperti jahe dan merica.

Rasa sate khas Padang Pariaman ini memang sedap. Di antara sejumlah sate padang di Jakarta yang pernah kami nikmati, gurih sate ini termasuk yang sulit dilupakan.

Selain menyediakan sate daging, Salero Ajo juga menyediakan sate paru, jantung, dan usus. ”Tetapi, pembeli kebanyakan memesan sate daging,” tambah Asril.

Seporsi sate padang lengkap dibandrol Rp 15.000. Setiap hari, warung yang buka mulai pukul 16.00 sampai pukul 24.00 itu mampu menjual habis 4.000 tusuk sate dan 400 buah ketupat. ”Untuk membuat sate sebanyak itu, kami memerlukan 50-60 kilogram daging sapi,” ujar Asril.

Jatuh bangun

Warung sate padang Salero Ajo berdiri sejak 25 Januari 2008. Warung itu adalah usaha bersama antara Asril, Ajo, dan Bayu. Asril bertindak sebagai pembuat sate dan pengelola warung. Ajo sebagai pemodal, dan Bayu sebagai pemilik tempat jualan.

Namun, jauh sebelum Salero Ajo berdiri, Asril telah malang melintang sebagai penjual sate padang. Awalnya, saat berusia 21 tahun, dia ikut berdagang sate padang bersama pamannya di Palembang, Sumatera Selatan, awal tahun 1970-an. ”Nama warungnya Binaria. Saat itu, Binaria cukup terkenal di sana,” kenangnya.

Tahun 1974, Asril mencoba mandiri. Dia berjualan sate padang keliling di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dua tahun kemudian, dia membuka warung sate padang di Tanah Abang. Dia pindah lagi ke Bendungan Hilir dan berjualan di sana selama tiga tahun.

Selanjutnya, Asril kembali memindahkan warungnya ke Pasar Kebayoran Lama. Di tempat ini, usahanya berkembang. Pembeli mengalir seperti air setiap hari. Di masa jayanya itu, Asril memiliki anak buah cukup banyak. Sebagian di antaranya bisa membuka warung sate padang sendiri.

Tahun 1998, Asril mengalami titik balik. Kerusuhan politik memadamkan usahanya. ”Pemilik lahan tempat saya berjualan tidak memperpanjang sewa tanah. Padahal, mencari tempat yang cocok untuk berdagang itu susah.”

Dia pun terpaksa memulai dari nol lagi. ”Saya bekerja di tempat bekas anak buah saya yang dulu belajar membuat sate pada saya. Mereka sudah kaya raya, sementara saya masih seperti ini,” ujarnya dengan nada mengeluh.

Setelah itu, Asril membantu warung sate padang milik adiknya, Ramon, di depan Pasar Santa, Jakarta Selatan. Warung ini cukup dikenal di kalangan penikmat sate padang di Jakarta.

”Di warung sate itu, saya bertemu dengan Ajo dan Bayu. Dari pertemuan itu, kami sepakat membuka warung sate padang di Radio Dalam. Kalau di tempat lain saya belum tentu mau,” ujar Asril.

Dia melihat Jalan Radio Dalam cocok untuk berjualan makanan. ”Daerahnya ramai dan banyak mobil-mobil bagus lewat. Tempatnya juga cukup lapang,” kata Asril yang setiap hari memasak sate bersama istrinya, Rohayah (47).

Sekarang, warung Salero Ajo yang dia kelola telah berkembang. Selain pelanggan baru, pelanggan-pelanggan lamanya pun berdatangan. Meski begitu, Asril tetap gelisah. Dia belum memiliki warung sate padang yang benar-benar miliknya sendiri.

Sejauh ini, perjalanan hidup Asril yang memiliki 14 anak dari dua istri itu agaknya tidak sesedap sate buatannya.

Untuk Resep Sate Padang Bisa Dilihat Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: