Pelaminan Minang Buchyar

Antara Tenun dan Songket

Posted on: November 20, 2010

Gadis-gadis cilik berusia 6-10 tahun berlenggak-lenggok mengenakan gaun berbahan tenun. Mereka menjadi bagian dari peragaan busana karya 10 desainer yang memakai tenun dalam Pekan Mode Jakarta, pekan kedua November lalu.

Oleh perancangnya, Sebastian Gunawan, tenun dengan warna-warna lembut seperti hijau muda, biru muda, serta warna cerah seperti merah, ungu, dan merah muda dari Sumatera Selatan diubah menjadi gaun pendek model balon di bagian bawah dan gaun panjang tanpa lengan yang manis. Untuk detail, ditambahkan pita di beberapa bagian baju.

”Saya ingin mendidik masyarakat kalau tenun tidak hanya bagus dipakai oleh orang dewasa, tetapi juga pantas dikenakan anak-anak,” kata Sebastian, menjelaskan mengapa dia memilih merancang baju anak dari bahan tenun yang harus dipakai dalam acara dengan tema ”Cita Swarna Bumi Sriwijaya” tersebut. Acara digelar Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Bank Negara Indonesia (BNI)

Selain Seba, panggilan untuk Sebastian, perancang lain yang mengisi acara tersebut adalah Chossy Latu, Priyo Oktaviano, Denny Wirawan, Era Soekamto, Stephanus Hamy, Oscar Lawalata, Tayada, Oka Diputra, dan Luwi Saluadji. Sesuai tema, mereka memperlihatkan keindahan tenun Sumatera Selatan dalam berbagai desain.

Chossy adalah perancang yang bersama CTI dan BNI membina perajin tenun di Sumatera Selatan melalui program Kampung Tenun BNI. Tugasnya adalah memberi masukan kepada perajin di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, agar tenun songket yang diproduksi bisa dipakai di panggung mode internasional.

Salah satu caranya adalah dengan membuat songket tanpa benang emas agar memiliki tampilan lebih modern. ”Namun, untuk mengubah kebiasaan ini tidak mudah karena warna emas pada songket memiliki makna tersendiri bagi orang Palembang,” kata Intan Fauzi Fitriyadi, Sekretaris Jenderal CTI.

Meski mengubah warna untuk kebutuhan industri mode, Intan mengatakan, bukan berarti songket dengan warna asli dihilangkan. Pasar untuk songket emas tetap ada karena songket biasanya dipakai untuk acara-acara adat.

Di panggung, hilangnya warna emas pada songket tidak menghilangkan kemewahan kain tersebut. Desain gaun, jas, dan selendang dari Chossy, misalnya, tampak elegan dengan warna hitam-putih.

Kesan mewah bisa tetap muncul terutama pada rancangan berupa rok dan atasan model kemben berwarna perak yang dipadu dengan jas panjang. Jas ini dibuat dari tenun bersulam benang perak dengan warna dasar merah muda, kuning muda, dan biru muda yang memunculkan gradasi lembut.

Lebih tipis

Penyesuaian agar tenun bisa dipakai untuk industri mode juga dilakukan Oscar Lawalata bersama desainer tekstil asal Inggris, Laura Miles. Sejak Juni lalu, mereka mendatangi perajin di Garut, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama masa penelitian, Oscar dan Miles menemukan fakta bahwa penenun cenderung menggandakan jumlah benang agar proses menenun lebih cepat. Untuk industri mode, kain seperti ini sulit digunakan karena bersifat lebih berat dan tebal.

Miles, yang produknya pernah dipakai desainer terkenal, seperti Calvin Klein, Carolina Herrera, dan Vera Wang, membantu perajin untuk membuat tenun yang lebih ringan agar nyaman dipakai. ”Kami mempelajari cara perajin menenun, lalu memberi inovasi dengan memberikan alat tambahan,” kata Miles.

Sebagai hasil dari kerja sama tersebut, Oscar menunjukkan desain blus, rok, gaun, dan celana berpotongan sederhana dalam peragaan bertema Weaving The Future.

Mengangkat tenun ke dunia mode dan kehidupan sehari-hari juga dilakukan Hamy yang sudah delapan tahun berkolaborasi dengan para penenun di NTT. Berbeda dengan yang dilakukan Oscar dan Miles, Hamy memilih membiarkan beberapa hal tentang tenun, seperti ketebalan kain.

”Saya tidak pernah memikirkan ketebalan kain karena tidak semuanya tenun itu tebal,” kata Hamy.

Hamy menyukai tenun NTT karena tenun dari daerah ini sangat bervariasi. Setiap kota, kabupaten, seperti dikatakan Hamy, memiliki motif yang berbeda-beda.

Maka, sebagai bentuk penghargaan untuk tenun NTT, Hamy menampilkan karya-karyanya dengan tema ”Cerita Tenun dari Timur”. Baju siap pakai yang dirancang Hamy ditujukan bagi perempuan yang modern, aktif, dan elegan. Beberapa desainnya cocok dipakai saat bekerja, seperti rok tiga perempat dengan blus atau blus tanpa lengan yang dipadukan dengan rok lurus selutut dan ikat pinggang sebagai aksesori.

Sebagai salah satu kekayaan Tanah Air, selama ini tenun memang lebih banyak dipakai untuk upacara atau acara-acara adat. Namun, kini, dengan bantuan para ahli di bidang tekstil, tenun tengah menapaki menjadi bagian dari industri mode, termasuk menjadi gaya hidup, seperti halnya batik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: