Pelaminan Minang Buchyar

50 Ton Ikan Di Danau Maninjau Sumatera Barat Mati Karena Kebanyakan Makan

Posted on: February 13, 2012

KEMATIAN ikan di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, dua hari lalu, disebabkan pakan.
Pakar budi daya perikanan Universitas Bung Hatta (UBH) Hafrijal Sandri mengatakan kematian puluhan ton ikan itu disebabkan masuknya mikroskopis yang mengambang di permukaan air ke insang ikan di dalam keramba.

“Lima belas persen pakan ikan terbuang ke dalam air setiap petani memberi makanan kepada ikan yang ada di keramba. Itu yang membentuk unsur nitrogen dan fosfor,” ujar Hafrizal yang juga Rektor UBH ini.

Menurutnya, senyawa nitrogen dan fosfor teraduk oleh hembusan angin darat dan melahirkan jutaan mikroskopis. “Booming-nya mikroskopis itulah yang masuk ke insang ikan sehingga membuat ikan sulit bernapas.”

Sebelumnya diduga, kematian ribuan ikan Danau Maninjau akibat naiknya balerang ke atas permukaan danau.

Di sisi lain, Camat Tanjung Raya Satria mengatakan ikan yang mati berdasarkan penghitungan dari petugas penyuluhan lapangan (PPL) mencapai 50 ton. Kerugian petani ikan Rp850 juta.

Angin darek mengaduk perairan Danau Maninjau sejak Kamis (9/2). Esok paginya, ikan mulai terlihat mengapung. Menurut Camat Tanjung Raya, Syatria, S.Sos, M.Si, ikan mati terlihat di Nagari Sungai Batang, Maninjau, dan Bayur.

Petani ikan terlihat sibuk menyelamatkan ikan yang masih hidup. Ada yang memindahkan ikan dari KJA ke lokasi yang lebih aman, seperti ke kolam yang terdekat dengan lokasi KJA mereka.

Jumat sore udara di pinggiran Danau Maninjau dalam kawasan 3 nagari tersebut mulai beraroma tak sedap. Sabtu (11/2) ikan mati kian bertambah. Petani jadi pasrah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam, Bambang Warsito, S.Sos, M. Si, Minggu (12/2) di markas BPBD Agam menyebutkan bahwa bangkai ikan tersebut akan dikubur. Untuk itu sedang diupayakan pinjaman alat berat (bachoe loader).

Namun alat berat milik Dinas PU Agam sedang rusak. Sementara lokasi penguburan ikan dipersiapkan Camat Tanjung Raya bersama wali nagari setempat.

Kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp1,2 miliar, dengan estimasi 1 kg ikan seharga Rp18 ribu. Namun menurut Badan Pengelola Kelestarian Danau Maninjau (BPKDM) Kasman, ikan yang mati di Danau Maninjau mencapai 130 ton.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam, Ir. Ermanto, M.Si, mengakui kalau angin darek merupakan penyebab utama mengapungnya racun dari dasar danau. Racun tersebut antara lain berasal dari belerang, residu pakan ikan, dan kotoran ikan.

Diperkirakan, setidaknya 60 ton pakan ditebar ke perairan Danau Maninjau. Pakan ikan tersebut untuk konsumsi sekitar 12.000 unit KJA yang tersebar di Danau Maninjau.

Untuk mengantisipasi kerugian lebih parah, Bupati Agam H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah, telah mengeluarkan himbauan agar petani ikan KJA mengurangi jumlah bibit ikan ke dalam KJA. Kondisi Oktober 2011-Pebruari 2012, cuaca kurang bersahabat. Kemungkinan datangnya bencana cukup besar, termasuk bertiupnya angin darek.

“Bila dalam kondisi normal, setiap petak KJA bisa diisi dengan 5.000 ekor benih ikan, dalam cuaca ekstrim dikurangi menjadi 2.000 ekor,” ujarnya.

Sementara Ermanto menyebutkan, dengan semakin sedikitnya jumlah benih ikan ditebar dalam KJA, berarti kemungkinan kerugian bisa ditekan.

Upaya penyelamatan pun semakin gampang, seperti melakukan pengemposan udara bersih ke dalam KJA, menggunakan mesin pompa. Atau bisa juga dengan memindahkan secepatnya ikan, bila bertiup angin darek.

Menurut (BPKDM) Kasman, ikan yang mati banyak dibuang pemiliknya ke dalam danau. Kondisi itu menyebabkan bangkai ikan menyebar di perairan danau, kemudian dihanyutkan angin ke tempat lain, sesuai arah angin bertiup.

Rugikan Pariwisata

Di samping merugikan petani ikan, juga berimbas pada pengusaha pariwisata, seperti pemilik hotel dan penginapan. Tamu hotel enggan menginap di hotel dan penginapan di sepanjang pinggiran Danau Maninjau, terutama di kawasan Nagari Maninjau dan Bayur. Penyebabnya, aroma tak sedap, yang menyeruak dari bangkai ikan, menimbulkan rasa tidak nyaman.

“Bagaimana pula tamu bisa bertahan, bau bangkai ikan sangat tidak nyaman buat mereka,” ujar Pemilik Hotel Maninjau Indah Idham Rajo Bintang.

Rajo Bintang mengusulkan agar Pemkab Agam bersama DPRD Agam membuat aturan supaya ikan “tidak mati.” Maksudnya, pengendalian pertumbuhan keramba jala apung (KJA) di perairan Danau Maninjau harus diatur dengan Perda, dan dilaksanakan dengan tegas dan konsekuen. Jangan hanya peraturan di atas kertas saja.

Petani keramba jaring apung di Danau Maninjau, Agam, Sumatra Barat, merugi sekitar Rp1,2 miliar akibat puluhan ton ikan mati terkena tubo balerang atau racun belerang.

Sekretaris Badan pengelola Kawasan Danau Maninjau (BPKDM) Kabupaten Agam Kasman di Lubukbasung, Sabtu (11/2) mengatakan dengan asumsi harga ikan Rp16.000,00 per kilogram, kata dia, mereka merugi sekitar Rp1,2 miliar.

Namun, kerugian yang dialami petani bervariasi, mulai dari Rp10 juta sampai Rp100 juta. Jenis ikan yang mati akibat racun belerang itu, diantaranya ikan nila, ikan mujahir, dan mas.

“Kemungkinan jumlah ini akan bertambah karena untuk saat sekarang baru dua dari sembilan nagari yang membudidaya ikan ini,” katanya.

Kasman mengatakan, setelah angin kencang pada hari Kamis (9/2), kodisi air di permukaan danau berwarna putih dan berbau belerang.

Salah seorang petani, Hendra mengatakan bahwa dirinya tidak sempat panen karena ikan yang ada di keramba jaring apungnya sudah membenam ke dasar keramba.

“Saya tidak sempat untuk memanen ikan ini karena semuanya membenam dalam keadaan mati. Akibat tubo balerang ini, saya mengalami kerugian Rp40 juta dari 40 petak keramba jaring apung,” katanya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam Ermanto mengatakan bahwa kematian ikan ini akibat angin kencang yang terjadi pada Kamis malam sehingga membuat naiknya permukaan air yang menyebabkan udara di permukaan air menjadi hampa.

“Ini disebabkan karena amoniak sisa pakan yang terpendam di dasar perairan ini menjadi naik,” katanya.

Kini pertumbuhan KJA berjalan bagai tanpa kendali. Jumlahnya sudah bejibun. Dampaknya, pakan ikan yang ditebar ke dalam KJA juga sangat banyak. Residunya memperparah tingkat pencemaran Danau Maninjau.

Dengan semakin banyaknya tumpukan residu pakan ikan, diperparah dengan kandungan belerang, yang sudah ada di dalam danau, diyakini akan menyebabkan tingkat kematian ikan akan semakin tinggi.

“Bupati Agam mesti bertegas-tegas, agar Danau tidak menjadi sumber petaka. Di sisi lain, warga juga mesti mematuhi peraturan yang ada, bila ingin bencana tidak semakin merugikan mereka, khususnya petani ikan keramba,” ujar Rajo Bintang.

Menurut tokoh pelopor pariwisata Maninjau itu, sejak membludaknya jumlah keramba di Danau Maninjau, diperparah dengan tercemarnya perairan Danau Maninjau, jumlah kunjungan wisatawan terus berkurang. Apalagi dengan kematian ikan dalam jumlah puluhan ton, menyebabkan udara di kawasan Maninjau berbau busuk.

“Wisatawan semakin enggan berkunjung dan menginap pada hotel dan penginapan di Maninjau,” ujar Rajo Bintang pula.

Berbagai kematian massal ikan di Danau Maninjau hendaknya menjadi pelajaran para pembudidaya ikan untuk menerapkan Good Aquaculture Practice (GAP) atau Cara Pembudidaya Ikan yang Baik (CBIB). Danau Maninjau, Provinsi Sumatera Barat beberapa pekan terakhir terkena musibah kematian ribuan ikan karena tingginya kandungan amoniak (0,5 ppm) dan rendahnya kandungan oksigen terlarut hingga 4,75 ppm. Terkait hal tersebut, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) membentuk tim untuk melakukan kajian ke lokasi.

Hasilnya disimpulkan bahwa kematian ikan adalah karena terjadi umbalan/upwelling dan olakan air danau. Sedimen dasar danau yang mengandung zat toxic ikut teraduk dan terlarut dalam air, sehingga masuk ke dalam tubuh dan meracuni ikan melalui respirasi. Kematian ikan akibat upwelling, sebenarnya sudah sering dialami dan kematian ikan yang besar pernah terjadi pada tahun 1997. Danau Maninjau merupakan danau volkanik yang difungsikan sebagai sentra budidaya ikan.

Zat toxic yang terdapat di danau tersebut berasal dari amoniak dan nitrit yang terkandung dalam limbah pakan kegiatan budidaya, dan bercampur dengan sulphur yang merupakan material volkanik dalam bentuk gas sulfida. Kondisi ini umumnya terjadi antara bulan Desember Januari, di mana intensitas curah hujan relatif tinggi. Pembudidaya ikan pada umumnya sudah mengetahui akan terjadi upwelling pada bulan bulan-bulan ini, namun karena pada tahun sebelumnya tidak mengakibatkan kematian yang tinggi, maka mereka menduga tidak akan menghabiskan ikan yang ada di Keramba Jaring Apung (KJA).

Oleh karena para pembudidaya ikan tidak mengurangi jumlah tebar ikan di KJA. Apalagi dorongan permintaan ikan mas dari Danau Maninjau sangat tinggi, yaitu mencapai 70 ton/hari. Penyebab, musibah lainnya karena di kawasan ini belum diterapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), dilihat dari 2 (dua) indikator.

Pertama, pembudidaya ikan terbiasa memberikan pakan dengan sistem pompa, yaitu ikan diberi pakan hingga tidak sanggup lagi makan. Cara ini tidak efisien. Apabila ikan diberi pakan sebanyak 2 ton maka hanya 1 ton yang terkonsumsi oleh ikan, sisanya yang 1 ton menjadi limbah budidaya yang berasal dari pakan ikan tidak termakan, dan feses ikan.

Artinya, apabila produksi ikan di Danau Maninjau sebesar 25.550 to per tahun, maka limbah yang dihasilkan juga sebesar 25.550 ton per tahun. Hal ini terlihat dari ketebalan sedimen limbah di kawasan tersebut yang mencapai 1,5 meter.

Kedua, Danau Maninjau sekarang ini terdapat sekitar 15.000 petak KJA yang sebagian besar terdapat di Tanjung Sani. Perkembangan jumlah pembudidaya dan KJA tidak terencana dengan baik, sehingga jumlah dan tata letak KJA tidak mempertimbangkan daya dukung dan kondisi lingkungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PELAMINAN MINANG FACEBOOK

Pelaminan Minang

Pengantin Minang dengan Tanduk Ameh

Pengantin di Pelaminan Minang dengan Tanduk

Pelaminan pada  Pesta di Rumah

Pelaminan Minang dan Tanduk Ameh

Pelaminan Minang

Pelaminan - Gerbang Bantal Gadang

Gerbang Pelaminan Minang dengan Pagar Ayu

Gerbang Pelaminan Minang Bantal Gadang

Tari Gelombang

Pengantin Dengan Hiasan Sunting

More Photos
%d bloggers like this: